Sebab Siti Rajin Mengaji

Sebab Siti Rajin Mengaji

Gadis kurus itu siti. Anak keempat dari 5 bersaudara. Emak uwaknya pedagang panganan tradisional. Siti ikut menjajakan dagangan emaknya di sekolah. Kalau tak habis, siti berjualan keliling desa. Hal inilah yang membuat siti sering terlambat mengaji.
"Terlambat lagi siti?"kata bu fiah, guru ngaji siti yang pernah menjuarai MTQ. Ia juga terkenal disiplin. Menurutnya, disiplin kunci keberhasilan.
"Iyα,maaf bu fiah"
"Iya,tp kamu harus menerima konsekuensinya lo ya" kata bu fiah. Siti mengangguk. Jika terlambat maka siti harus mengaji di luar ruangan. Siti tak sedih dengan hukuman tersebut karena ia masih bisa mendengarkan materi qiroah favoritnya yang disampaikan bu fiah. Ia sedih karna tak ada qur'an ditangannya. Sebab ia tak punya.
Siti suka qiroah. Menurut siti, qiro'ah tak kalah indah dengan musik dangdut yg ia dengar di radio.
"Anak anak sebentar lagi akan ada MTQ. Belajar yang tekun, biar bisa ikut dan menang lomba"kata bu fiah setelah selesai mengaji. Pulang mengaji siti mengulang kembali materi qiroahnya tentunya memakai al-qur’an dirumahnya yang sudah lepas sana sini. Berkali kali.

Hingga tiba saatnya.
"Emak, siti mau berangkat. doakan siti ya mak"pamitnya seraya mencium tangan emaknya.
"Iya,kalau kalah jgn kecil hati ya nak"pesan si emak. Siti mengangguk.

Perlombaan dimulai dan berakhir sore hari. Pemenangnya akan diumumkan saat nuzulul quran. Siti tak banyak berharap. Ikut lomba saja sudah senang.

Nuzulul quran. Saatnya pengumuman. Perasaan siti yang semula biasa saja kini jadi deg-degan. Dan rasa itu hilang saat nama pemenangnya di sebutkan.
"Siti aminah".
Mata siti terbelalak. Terkejut sekaligus tak menyangka bahwa ia adalah juaranya. Bahwa ia yang nantinya akan mewakili desanya ikut lomba qiroah untuk anak anak di tingkat kecamatan.
Siti naik ke atas panggung untuk menerima piala sekaligus hadiah. Ia sempat melihat ke bu fiah yang tengah tersenyum kepadanya. Siti senang sekali. Selesai acara, dengan berlari kecil ia pulng ke rumah.
Emak adalah org pertama yang ingin siti temui.
"Siti menang makkkk"serunya bahagia. Emak memeluknya.
"Alhamdulillah"ucap emak, ia mengusap air yang tergenang di sudut matanya.

“Yang paling siti seneng mak hadiahnya al quran mak alquran. Akhirny siti bisa ngaji nggak modal kuping aja mak. Tapi juga ini " siti mencium-cium Al-qur’annya yang begitu apik nan cantik yang dipesan langsung dari Syaamil Quran. Di dalam hatinya ia berjanji akan sering mengaji dan semakin semangat belajar lagu-lagu dalam seni membaca al-Quran.

Hakim, Sahabat Para Buruh








Aku dulu punya teman. Bukan teman sepermainan lo ya, tapi seperjuangan (MERDEKA!!!). Bedanya dia aktif, aku pasif alias melempem, lama-kelamaan mundur teratur, menghilang dari yang namanya memperjuangkan hak-hak buruh (tak patuuutttt..#godek-godek).
Hakim (baju merah) n friend



Namanya Hakim. Semasa kuliah, aktif di BEM juga SPM (Serikat Perjuangan Mahasiswa). Menjelang lulus ia berkecimpung di SPBI, solidaritas perjuangan buruh indonesia. Tak hanya memberikan pendidikan seputar undang-undang tenaga kerja, hak-hak serta kewajiban para buruh, ia juga merangkap sebagai tim advokasi buruh. Jadi jika ada buruh yang terampas haknya, maka hakimlah yang maju. Maju? Maksud eke hakim yang akan memperjuangkannya. Tak jarang, jika para buruh berdemo, ia turut serta, dari mulai membawa spanduk, jadi seksi dokumentasi dan ikut berorasi. Orator adalah keahliannya. Ia ahli membakar semangat para buruh untuk tetap berdemo meskipun panas menerjang, aparat menghadang dan perut keroncongan. Semua hal itu ia lakukan murni karena kesadaran diri juga free, tanpa bayaran.
Me : “masa’ sampean nggak dibayar pak hakim?” tanyaku pada pak hakim. O ya aku sengaja menemuinya di tempat ngopi kesukaannya. Ya biar bisa wawancara, foto bersama, trus ikut GA emak winda (emak gaoel).

He :“mau dibayar pakek apa?La wong iuran arek-arek pabrik Cuma cukup dipakek operasional kantor SPBI, seperti nyicil bayar kontrakan buat kantor, beli kertas plus tinta untuk kebutuhan ngeprint surat-surat, bayar listrik, PDAM, konsumsi kalau-kalau ada rapat, sudah cuma itu saja, ndak ada lebihnya, malah kadang duit dikatong ikut katut (terpakai). Aku ndak mengharap bayaranm yang penting organisasi jalan plus arek-arek solid. Aku masih bisa berburu rejeki sendiri. Rejeki ngulang (mengajar) alhamdulillah isok nyukupi aku dan keluargaku”. jawabnya puanjaaaangggg sekali. Ia menghisap rokonya dalam-dalam. Lalu..buuullll.

Me :“programnya sekarang apa saja pak hakim?masih seperti dulu kah?”

He :“Masih sama, itu saja susah untuk betul betul dijalankan”
Me :“............” alisku mengkerut
He :“arek-arek buruh lagi indehoy, ndak ada kasus, kalau sudah begini mereka   lupa dengan organisasi”
Me :“koq gitu ya, habis manis sepah dibuang”
He : “ndak ada sepahnya, mereka minum sama sepah-sepahnya, jadi ya ndak inget blas, diundang rapat/pendidikan alasannya ini itu”
Me :“diwajibkan ikut semua kegiatan saja, sebagai syarat jadi anggota SPBI??” usulku.
He : “ya kabur semua”jawabnya seraya tersenyum garing.
Me :“La trus gimana??”
He : “ya nggak gimana-gimana, aku ndak mau maksa mereka,yang mau ikut pendidikan monggo, yang ndak mau ikut ya aku rapopo” jawabnya santai. Ia menyeruput kopinya. Slruppp.

Hakim (Kaos biru), Narasumber Pendidikan Buruh di Wonosalam



Latihan Demo


He : “organisasi itu ibarat seni, seni mengorganisir orang yang memiliki karakter berbeda, yang satu suka begitu, eee yang situ suka begini, yang ini mau yang itu, yang itu mau yang ini, yang bisa menyatukan mereka hanya satu, apa cobak??”.

Ditanya begitu aku langsung nyengir, lalu mules.

Me :“kasus?” tebakku
He  : “deng dong...belum tepat, kesadaran diri, itu paling utama, sadar bahwa ikut organisasi itu penting, bahwa mengerti hak serta kewajiban itu adalah hal dasar yang harus diketahui buruh, bahwa melatih otak dengan mengikuti pendidikan itu juga penting, jika itu sudah berjalan, maka mereka akan menjadi ‘bukan buruh biasa’, bukan buruh yang dicocok idungnya manut saja”
Me :“emmmm selain ngasih pendidikan trus sekarang di bulan puasa ini kegiatan bapak apa lagi?”
He  : “apa yaaaa???..o itu, mendaftarkan anggota baru spbi ke personalia pabrik juga disnaker, lumayan, anggota spbi yang bekerja di pabrik sepatu jadi bertambah 100 orang”
Me :“o ya ya”aku manggut-manggut.

With Ketua SPBI Pabrik Sepatu, bahas pendaftaran anggota baru


He : “tidak ingin ke SPBI lagi?”
Me :“siapa pak?”
He : “ya kamu lah, masa’ tembok”

Dieng..aku nyengir lagi. Sampai kering ni gigi.

Me :“ooo tidak, saya support aja”
He  : “ooo gitu”
Me :“iya”
....................Ngiiingggg...ngiiiingggg......ngiiiinngggg.............
Nyamuk lewat
He : “sudah ah ma, kopi, rokok, udah habis nih”
Me :“yaaaaaa..belum selesai yah, aku bikinin kopi lagi ya”
He  : “ndak usah, aku bisa kembung nanti kebanyakan kopi”

Aku nyengir lagi. Gusi ikutan garing.

Me :“ya udah kalau gitu, selfiee duluuuuu”

CEKLIK
Taraaaaa

Hakim dan Saya...#pose bunga mawar merekah


Pak hakim adalah suami saya, dan ayah dari ken.
We (aku n ken) proud of you, meskipun ayah tak banyak doku, melainkan cukup berdoku, yang penting hati ayah selembut salju...#ahayyy..Asegasegjos.
The End

FF-Bersembunyi di lubang semut hingga terbang dengan awan kintan goku, semua karna Skripsi.

Akhirnya mendekati garis finish juga. Setelah 4 tahun menikmati bangku sarjana. Yang berasa nano nano.
Semester 8 ini, aku fokuskan untuk menggarap skripsi. Biar lekas wisuda trus nikah. What? Nikah? Ame siape bukk????.
Sayangnya keinginanku untuk segera menyelesaikan skripsi terhambat dengan dua dosen pembimbingku. Dosen utama sedang menempuh s3 di luar kota. Dosen kedua, kritisnya luar biasa. Kata-katanya pedas. Kebanyakan makan cabe kali tu orang.

Hampir setiap selesai konsultasi dengan beliau, rasanya ingin sembunyi di lubang semut. Numpang nangis di situ.
“haaaaa...ada raksasa...ada raksasaaaaa...selamatkan diriiiiiii” seru salah satu semut pekerja yang bertubuh kurus kerempeng. Seketika itu sarang semut langsung porak poranda karna kehadiranku tentunya. Kali ini, aku tak peduli. Karena hatiku begitu kelu, sebab pak dosen tak kunjung menanda tangani skripsikuu. Payah.
“semuanya tenaaangggggggg” semut yang bertubuh tambun mengomando. Hiruk pikuk berubah jadi senyap.
“Harap tenang, raksasa ini tidak membahayakan” lanjutnya.
“koq tahu?” tanya semut yang bermata belo.
“karena ia telah meraksasakan hatiku”
Glodak
“maksudku, aku tadi memberanikan diri untuk menyerang, saat ku gigit, ia hanya berkata ‘AW’ tanpa berusaha membunuhku”
Ooooooooooo..ckckksiciitiickkjjiciiititiii...titiuitititutituiu....
Aku tak mengerti dengan komentar para semut tersebut. Pokoknya rame aja.
Aku lirik mereka, mereka mulai mendekatiku, memperhatikanku dari ujung rambut hingga kaki. Ku biarkan saja.
“eh kenapa itu wajahnya koq benjol-benjol merah ya..beda sama kita..muluuss” gumam semut yang berwarna pink cerah sedang mengomentari jerawatku yang tengah mateng-matengnya.
“eh tapi perutnya sama sexy kaya’ kita ya..”kata semut yang berjambul ala syahrini. Aku mengelus perutku yang ‘jemblung’. Nggak di sono nggak di sini sama wae.
“itu tuh, ada apa itu di ujung jarinya, warna ijo muda campur putih, ada ijo lumutnya dikit, trus basah gitu, apa itu ya? Pernak-pernik kuku kah itu?” Ucap semut berponi ala jupe. Ia memperhatikan jari kelingkingku yang baru kugunakan untuk mengupil. Rupanya, upil itu masih nyangkut di kuku.
“ih aneh ya”
“iya nih”
....................
....................
“minggir minggir” perintah semut yang mengomando tadi. Kali ini ia memakai kostum mirip hansip.
“wahai raksasaaaa...ada perlu apa kau kesini???” tanyanya. Karena ditanya, aku pun menjawab. Ku seka air mataku, dan kujilat air hidungku. Slrupp.
“numpang nagis doank, masbuloh?”jawabku
“ehhh ditanya malah nyolot, gue gigit lo, baru tau rasa” katanya.
“nggak berasa kali”tantangku.
Aku melihat si hansip yang hitam berubah menjadi hiiiii..iiittaaammm. Maksudku, menakutkan. Sadar akan bahaya aku pun berteriak.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
Para semut menutup telinga seraya memejamkan mata. Mereka seperti sedang kesakitan mendengar suaraku. Eh emang suaraku seburuk itu??????. tau ah.
Aku secepat mungkin melarikan diri. Dan selamat.
Aku kembali.
Seketika itu, ponselku berbunyi. Ada pesan masuk, dan rupanya dari dosen utama yang menyatakan bahwa: “saya sedang di luar kota, 2 hari lagi saya ke kampus”.
Membaca isi pesan tersebut. Rasanya tulangku langsung lunglai. Tak dapat berdiri tegak. Bagaikan invertebrata. Tak bertulang belakang. Ingin menangis. Namun kubuang itu jauh-jauh. Aku segera memanggil awan kintan milik goku.
“suwiwittt..awan kintaaaannnnnnnn”
Cuussssss
Secepat kilat awan kintan muncul di depanku.
“yuk berangkat ciinn” kataku.
Si kintan sedikit oleng saat aku naik di atasnya. Wah sepertinya aku harus segera diet. Awan kintan yang tadinya terbang secepat kilat. Kini hanya ‘klinak-klinuk-mak petpeett-mak mampett’ lamaaaa sekali. Bahkan beberapa kali, tersalip oleh burung pipit.
“woiii..elu siapa? Burung juga kah? Spesies baru ya?” kata si pipit menghampiriku.
Aku tak peduli. Aku sibuk memegangi rok ku yang tersibak terkena angin. ‘aw..aw..’.
“eehhh di cuekin..gue beri lu ya”
CRET...
Si pipit mendaratkan ‘sesuatu’ tepat dikepalaku. Aku tak dapat mengelak, si kintan slow bingit.
Lewat burung lagi, begitu lagi. Crat cret crat cret. Hadeeehhh.
Akhirnya sampai juga.
“maaf bu, saya butuh tanda tangan ibu segera, 3 hari lagi penutupan pendaftaran ujian skripsi” kataku yang berdiri di depan dosen utamaku.
“mandi dulu sana, bau”
MAKDIENG
Kejet-Kejet

Overdosis Rumput Siti Fatimah


Usia kehamilan di trimester ke-tiga adalah masa kehamilan yang paling deg-degan menurut saya. Ada rasa nggak sabar pengen bertemu si kecil, atau takut saat akan melahirkan nanti. campur aduk nanonano.
Selain itum di masa ini, saya juga mulai mempraktekkan hasil browsing2 internet, nasehat ortu, juga omongan orang (kalau yang ini, tetap harus disaring) bahwasanya masa-masa ini, bumil harus nulai berlatih mengatur nafas, jalan-jalan pagi, banyak beraktifitas tentunya yang ringan saja seperti menyapu, mencuci piring, mengepel, dan menguras sumur. Sumur???????. Itu pun tidak dikerjakan semua dalam satu waktu. Yaaa dijadwal lah.
Selain itu, ada juga nasehat atau omongan mengenai kepercayaan orang zaman dulu (mitos) mengenai kehamilan.Sebetulnya, saya tak terlalu simpati dengan yang namanya mitos, yang suka adalah ment*s. hehe. Tapi entah kenapa, ada beberapa yang akhirnya saya praktekkan juga. Saya dulu berpikir apa salahnya disoba, toh juga demi kehamilan.
Ada dua hal yang saya praktekkan. Pertama, meminum telur ayam kampung mentah dicampur madu. Hemmm..madu saja sudah tak suka, eh ditambah telur mentah pula. Meminum ini rasanya kudu pingsan, bangun, lalu pingsan lagi. Ramuan ini katanya berguna untuk menambah tenaga saat akan melahirkan nanti. Kedua, meminum minyak 'tanusan kelapa'. Begitu menyentuh tenggorokan rasanyaa...mak klenyer mak klenyer...iyaks. Ini berguna untuk melicinkan jalan lahir.?????.Ketiga, menggunakan rumput siti fatimah.
Saran ini yang menurut saya paling bersahabat. Menjelang lahiran, suami pun rajin membuatkan saya air rebusan rumput siti fatimah. Tak tanggung-tanggung, satu gelas berukuran jumbo dan harus dihabiskan.
2 hari kemudian, saya mulai mondar mandir ke kamar mandi. Setiap selesai makan atau nyemil, pasti langsung 'setor' Alhasil badan jadi lemas lunglai. Karena tak kunjung sembuh akhirnya suami membawa saya ke dokter. Dokter meinta saya untuk menimbang berat badan, tentu saja berat badan saya turun 4 kg dengan sukses. Karena saya sedang hamil, jadi dokter pun memberikan obat diare yang berdosis rendah. Karena rendah, jadi lama sembuhnya.
Hingga waktunya tiba. Saat itu saya masih lemas. Bukaan pun mandek di level dua. Menunggu sehari semalam tak kunjung bertambah. Selain itu, ketuban juga sudah pecah lama. Akhirnya, dokter menyarankan untuk caesar saja. Suami langsung setuju, mengingat kondisi saya yang sudah lemas bagai tak bertulang punggung.
Dan alhamdulillah, anak pertama saya lahir dengan sehat, montok, dan panjang. berat 4 kg dan panjang 51 cm.
Seminggu setelah pulang dari rumah sakit. Ibuk baru berani bertanya.
"kamu makan apa aja waktu mau melahirkan ndok, koq sampek diare kayak gitu?"
Aku pun menceritakan kronologi kejadian.
"oallaahh...rumput seti fatimah itu ndak diminum ndok, tapi airnya cukup dioleskan di perut sambil baca sholawat"
Hadeehhh..tepok jidat 100x eh kurang ding 1000x.
  

Bukan Jatuh Biasa Ha..Ha..Haaa

Silly moment ya?..Ah tema giveaway Mak Nunu El Fasa dan Mak HM Zwan membuat aku teringat dengan kejadian yang berlangsung pada tahun 2003-2006.

Saat itu, aku masih manis kinyis-kinyis. Aku sekolah sekaligus mondok di salah satu pondok pesantren modern di jombang jawa timur. Sejak jam 7 pagi hingga 4 sore, aku berkutat di sekolah. Sisanya full kegiatan di pondok. Mulai maghrib hingga 8 malam, ngaji kitab kuning. Istirahat. Lalu subuhnya, ngaji qur’an. Begitu hampir setiap hari.
Rasa jenuh terkadang hinggap. Malas ikut ngaji kitab, tertidur saat ngaji qur’an, bahkan pura-pura sakit agar tak ikut dua-duanya. Hhh..tak patuttt.
Namun suatu hari, datanglah ustadz baru. Masih muda. Ganteng pula. Kehadiran ustadz ganteng ini membuat para santri semangat mengaji kitab. Termasuk daku.
1 bulan berlalu. Semangat ngaji masih menggebu-gebu dan saat itu tepat giliranku serta anis piket menyiapkan perlengkapan ngaji plus unjukan/teh hangat buat ustadz.
Dikarenakan suatu hal, maka aku juga anis tergesa-gesa membuat teh  sebab 5 menit lagi ustadz tiba. Dengan langkah dipercepat, anis membawa teh hangat ke meja ustadz. Alhamdulillah belum terlambat.
“wadow kitabnya beloommm” ujarnya seraya menpuk jidat. Aku segera balik badan. Setengah berlari. Bahkan saat turun tangga pun, kecepatan langkah kakiku tak kukurangi. Hingga tiba-tiba lampu mati. Gelap dan....
GUBRAK.
Lampu hidup.
“Loh pit..ngapain kamu leyeh-leyeh di situ?” tanya anis sambil menahan tawa.
“jatoh dodol..sshhh..aduuuhhh” jawabku. Tawa anis meledak. Lama pula. Hingga akhirnya tawa itu pun berhenti. Aku yang tadinya sibuk memijat-mijat kaki yang cenut-cenut karena terkilir, kini menatap anis dan anis pun menatapku seraya menaik turunkan alisnya. Seakan memberi isyarat. Namun aku tak paham.
“kesel ngguyu?”tanyaku. Namun kali ini anis nyengir seraya menundukkan kepalanya ke arahku.
“Apa sih nis?”tanyaku lagi.

“ngapain ini duduk-duduk di sini? Ayo ke musholla, ngaji”suara berat itu membuat aku terkejut. Spontan aku menoleh ke asal suara dan tepat di belakangku berdirilah ustadz ganteng.
injeh ustadz..niki masih bersih-bersih anak tangga”jawabku asal. Lalu aku mengusap-usap anak tangga dengan tanganku.
‘aduuhh...mati aku’ gumamku dalam hati.
“bersih-bersih koq pakek tangan, ambil sapu sana. Selesai bersih-bersih langsung ngaji” kata ustadz. Ia lalu berjalan meninggalkanku yang malu bukan main. Sudah jatuh, bikin alasan begitu pula.
Setelah ustadz menghilang dari pandangan, akhirnya anis membantuku juga.
“bersih-bersih anak tangga ustadz...jawabanmuuu pit...bikin aku kudu ke kamar mandi aja, mules” kata anis sambil menahan tawa.
“aku bingung mau jawab apa...ah udah ah..jangan bilang siapa-siapa ya..maluuu”pintaku. Anis masih tersenyum bahagia. Sejak kejadian itu, si ustadz kenal daku dan anis.

1 tahun kemudian.
Ustadz ganteng nikah. Patah hatilah para santri. Termasuk daku.
Kami diundang di acara pernikahan ustadz. Karena jauh, kami sepakat untuk menyewa kendaraan menuju rumah ustadz. Sepanjang perjalanan, kami ditemani hujan yang cukup deras lalu menjadi gerimis saat tiba di rumah ustadz.
Aku dan anis berjalan paling depan. Kami berdua begitu semangat. Sejak kejadian waktu itu, kami akrab dengan ustadz. Ustadz serta istri sudah menunggu di depan pintu. Aku mempercepat langkah.
“assalamu’alaikum” ucapku saat akan menginjakkan kaki di teras rumah ustadz.
“wa’...” jawaban salam ustadz jadi tergantung. Karena mendengar suara.
GUBRAK
“aduuuuhhhh......” aku mengelus pantatku yang sakit karena terpeleset. Saking semangat, aku tak memperhatikan ada sedikit genangan air hujan di situ.
“selalu...senengnya ndlosor tiduran dimana-mana”kata anis sambil membantuku berdiri tentu saja disertai tawa. Begitu juga dengan kawan-kawan yang lain serta para tamu. Karena saat berdiri aku sempat melihat wajah-wajah mereka tersenyum melihatku.
‘hadeeeehhhhh...maluuuu’gumamku dalam hati.
“nggak apa-apa, orang yang jatuh di acara pernikahan itu tandanya akan dapet rejeki” kata si ustadz. Tidak nyambung memang, tapi aku hargai itu. Beliau berusaha menghiburku. Namun tentu saja gagal.
“nih...3 bungkusan buat kamu bawa pulang” si ustadz memberikan 3 kotak nasi beserta jajannya kepadaku. Mungkin ini maksud dari ‘akan dapat rejeki’.
‘hhhhh...duhai ustadz..andai saja kau tahu isi hatiku...bahwa aku benar-benar maluuuuuuu’

1 tahun kemudian.
Aku lulus sekolah juga mondok. Aku, anis serta kawan-kawan sekamar bersepakat untuk mengadakan acara perpisahan dengan jalan-jalan di mall terdekat. Tentu saja Mall Surabaya.
Waktu itu, kali pertama aku ke mall. Maka jadilah aku orang terkatrok di antara kawan-kawanku itu.
“loh kita mau naik itu?”tanyaku seraya menunjuk ke arah tangga berjalan alias ekskalator.
“iyalah..la wong kita mau ke bisokop”jawab dian.
“tangga nggak ada ya?”tanyaku.
“nggak ada..sini bareng aku” ajak susi seraya menggandeng lenganku.
“nanti aku kasih aba-aba ya...dihitungan ketiga kita langkahkan kaki kita bareng-bareng” lanjut susi.
“nih aku praktekkin” kata anis. Di susul mum. Lalu dian.
“oke..siap-siap ya..satu...”
“eh bentar sus,,,nunggu sepi dulu yaa..malu akuu”pintaku. Susi setuju.
 ..................
“nah sudah sepi..ayo..siap-siap ya..sa..tuu..du..a...tiga..ayo”
GUBRAK.
Jatuh lagi dengan sukses. Hhhhhhhhhh.


Ket:
1. leyeh-leyeh : duduk-duduk santai
2. ndlosor       : tidur-tiduran

Facebook  Twitter  Google+ Yahoo

Follow by Email

Mengulas Berbagai Manfaat dan Penggunaan Popok Confidance

Jadi beberapa waktu yang lalu, emak curhat kalau belakangan ini beliau susah sekali berjalan terutama setelah tidur. Menurut dokter, hal in...