Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2014

Agar Dapur Tetap Mengepul

Percakapan tersebut hampir terjadi di sebagian besar rumah tangga di Indonesia. Berdasarkan temuan dari Global Adult Tobacco Survey (2011) yang menyatakan bahwa sebanyak 61,4 juta orang dewasa di Indonesia yang masih merokok. Dari data GATS tersebut, ditemukan sebanyak 67,4 persen pria dewasa di Indonesia adalah perokok
Yang lebih mengkhawatirkan, Abdillah, Peneliti Lembaga Demografi FEUI, dalam temu media di Kementerian Kesehatan, mengatakan bahwa survei yang dilakukan pada 2009 menunjukkan pengeluaran untuk rokok pada rumah tangga termiskin yang ada perokoknya menempati urutan kedua. "Pengeluaran untuk rokok hanya lebih kecil dari pengeluaran untuk makanan," ujarnya. Pengeluaran untuk rokok itu mengalahkan 23 jenis pengeluaran lainnya seperti daging, buah-buahan maupun pendidikan dan kesehatan. Rokok itu sendiri, menurut kamus besar bahasa Indonesia, merupakan gulungan tembakau (kira-kira sebesar kelingking) yang dibungkus (daun nipah, kertas). Sedangkan merokok adalah mengisa…

1000 Manfaat dari Gemar Menabung Sejak Dini

Hai Aku Ken. Anak dari Ayah Hakim dan Ibu Pipit. Usiaku 22 bulan. Aku adalah anak yang aktif loh. Aku suka berlari-lari kesana kemari. Naik turun meja kursi, dan suka mewarnai terutama mewarnai dinding, meja, kaosku, juga baju ibuku. Kata ibu, aku adalah anak yang tidak bisa diam. Memang benar itu. Begitu banyak yang ingin kulakukan dan ingin ku coba. Hanya saja, terkadang, ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan ibu. Seperti masuk kulkas. Karena kata ibuku, berbahaya. Aku pernah mendapati wajah ibu yang sepertinya tengah kelelahan. Tapi ia paksakan untuk menemaniku bermain. Tak hanya ibu yang lelah. Aku juga lelah loh. Hanya saja, lelahku tak nampak karena tertutupi dengan keingintahuanku yang tinggi. Tapi kalau aku sudah lelah sekali, tak ada lagi yang bisa ditutupi, karena badanku akan memanas layaknya api. Untuk mengatasi hal itu. Ibu berinisiatif untuk membuatkan aku mainan yang sekiranya bisa mengurangi aktifitasku  yang menghabiskan banyak tenaga. Salah satunya adalah bermain me…

Mak Irit Versus Me

Mak irit hemat dikala sahur. Saya hemat saat buka puasa juga sahurnya. Gimana caranya?numpang di rumah tetangga. Hahaha. Kidding.

Kalau soal hemat irit no pelit, itu mah saya banget. Hampir sama dengan Mak irit. Saya malah dapet gratisan buka puasa plus sahurnya. Dan ini berlangsung nggak cuma sehari loh. Asoy dah. Dimanakah saya mendapat santapan gratis buka puasa serta sahurnya?. Jreng jreng..di rumah mertua. Hahaha. Saya beruntung, alhamdulillah, punya mertua dan adik-adik ipar yang baek. Dan yang paling utama adalah beruntung saya punya Si kecil Ken. Kehadirannya banyak menaburkan benih-benih gratisan buat emak dan bapaknya. Hahaha. Alhamdulillah. Hampir setiap hari, kami, ditawari berbuka puasa di rumah mertua. Jarak rumah mertua dengan rumah kami memang tidak terlalu jauh. Sekitar 20 menit lah. “Mbak, Nggak buka di rumah?” begitu sms adek ipar saya. Secepat kilat saya membalas. “Oke meluncur”. Dua hari kemudian. “mbak ken ajak maen kesini, sekalian buka puasa disini” sms adek …

Kehilangan Cowok Matre, Tak Masalah Bagi Aye

Heemmm GA mak Argalitha benar-benar menguras es mosi. Melihat hati yang pernah retak dari kaca spion. Tapi nggak apa-apa deh. Demi pulsa. Ups maksud saya, demi berbagi cerita, berbagi pengalaman, dan berbagi pelajaran hidup. Sedikit flashback. Saya setuju dengan lirik lagu alm. Chrisye bahwa tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah. Pertama kali saya mengenal cinta-cintaan mungkin saat smp kali ya dan mulai berani menjalin hubungan saat lulus SMA. Kami menjalin hubungan cukup lama. Hampir 3 tahun. Ada marah, ada cemburu, ada rindu. Saat itu saya merasa dia adalah jodoh saya. Hati saya sdh begitu mantap. Tak lirik sana lirik sini. Padahal ssaat itu juga ada pria lain yang mendekati saya, dan pria itu adalah pria yang saya puja saat kelas 1 - 2 SMA. Tapi sedikitpun hati tak beralih dari cem-ceman saya itu. Haihai mungkin ini namanya cinta monyet yang buta, tai kucing rasa coklat. Iyaks. Mendekati tahun ketiga kami menjalin hubungan. Tiba-tiba cem-ceman saya itu menghilang. Hp…

Silaturahmi Berbuah Dua Garis Merah

Satu bulan setelah akad nikah. Saya telat datang bulan. Saya test, dan saya hamil. Senang sekaligus bersyukur. Begitu menikah saya sudah dititipkan janin oleh Allah SWT.
Sayangnya, titipan itu tak bertahan lama. 2 bulan kemudian, saya harus dikuret. Karena terjadi pendarahan terus menerus. Sedih sekali. Saking sedihnya, saya mengurung diri di rumah. Menghindar dari mendengar ucapan orang-orang yang menyatakan bahwa mereka turut bersedih atas apa yang saya alami. Kenapa menghindar? Karena ucapan-ucapan tersebut tidak berpengaruh apa-apa buat saya, malah membuat saya lebih down. Mungkin orang-orang mengucapkan perasaan simpati mereka dengan penuh ketulusan. Tapi entah kenapa, saat itu saya tidak bisa berpikir jernih.
Satu bulan setelah kuret, saya mulai bangkit. Tentu saja dengan dukungan penuh dari suami serta keluarga. Saya mulai rajin minum vitamin untuk menyuburkan kandungan dan mempersiapkan rahim agar segera bisa ditempati si calon buah hati lagi. Berusaha dan tak pernah berhent…

"Karena Hp Bapak, Membuat aku tahu yang seharusnya tak boleh ku tahu"

Lebaran kemarin saya mudik ke Bali. Cukup lama sekitar 25 hari. Tertunda karena my mom terkena musibah. Kakinya terkilir yang membuatnya tak dapat berjalan.
Terkilir sehabis ngajar di sekolah.
Usia ibuk yang sudah cukup tua membuatnya sedikit ceroboh. Sering terjatuh. Meskipun begitu ia masih begitu semangat mengajar murid-muridnya.
Yak, ibuk saya ini adalah seorang guru SD. Ditugaskan kepala sekolah untuk mengajar siswa kelas 1 dan 2.
Saya pernah beberapa kali ikut ibuk ke sekolah. Sering saya jumpai murid-murid ibuk yang masih sering ngompol, atau yang mogok nulis, atau yang nggak boleh jauh sama emaknya alhasil emaknya ikut duduk di dalam kelas, atau yang sukanya tiduran di lantai, bahkan ada juga yang masih bawa botol 'dot' susu.
Kalau saya jadi ibuk, mungkin udah kabur.
Tingkah pola murid-murid, terutama murid kelas 1 SD, benar-benar menguji kesabaran, ketelatenan.
Begitulah sekilas info tentang murid-murid ibuk saya.
Yang akan saya bahas di sini adalah cerita ibuk saya.

Sekolah Hutan, Sekolah Pantai, Sekolah Gunung, adalah Sekolah-sekolah Impian Saya

Sekilas tentang sekolah saya.
Saya bersekolah di Madrasah aliyah negeri darul ulum rejoso peterongan jombang. Sekolah plus mondok. Kata bapak :”Ilmu umum dapet, ilmu agama juga dapet”. Ini adalah sekolah saya yang jaraknya paling jauh dari rumah. Butuh waktu kurang lebih 10 jam dengan naik bis malam untuk mencapai rumah saya yang terletak di Negara Jembrana Bali. Banyak hal yang saya peroleh dari ‘sekolah merantau’ ini. Para guru yang menyenangkan membuat saya menguasai beberapa materi ilmu umum dan agama. Selain itu, aya juga banyak kawan. Kawan dari berbagai daerah di Indonesia. Hal ini menambah pengetahuan saya tentang berbagai bahasa daerah, tingkah pola, tradisi, juga tempat wisata khususnya di sekitar jawa timur. Saya sering diajak kawan-kawan kalau mereka pulang kampung. Lumayan dapat pemandu wisata gratis, tempat tinggal gratis, makan gratis, dan jalan-jalan gratis. Alhamdulillah. Dan yang paling utama saya lebih mandiri. Mengatasi masalah sendiri. Baik masalah mengatur uang …