Sunday, November 23, 2014

Ibu

Buk.
Apakah seperti ini yang engkau rasakan saat mengandungku dulu?
Mual menghantui di awal semester dan langkah terasa begitu berat saat tiba di akhir semester. Begitukah ibu ?

Apakah seperti ini yang kau rasakan saat dicekam kontraksi ?. Tulang belakang terasa ngilu luar biasa. Perut dipluntir-pluntir. Sakitnya na’udzubillah. Hingga akhirnya suami menyerah dan memilih tindakan caesar. Karena tak tega melihat kondisiku yang pontang panting kesakitan.
Lalu bagaimana denganmu ibu, yang melahirkanku dengan bobot 4.2 kg secara normal?.. Sedangkan aku, melahirkan normal bayi berbobot 4 kg saja tak mampu.
Kau sungguh luar biasa ibu.

Ibu, aku ingat, kau pernah membagikan kiat suksesmu dalam menghadapi proses melahirkan. Salah satunya dengan mengkonsumsi kuning telur ayam kampung mentah. Dicampur dengan beberapa tetes jeruk nipis.
Aku melakukan itu ibu. Dan rasanya sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Saat kuning telur itu bersiap terjun ke tenggorokan, saat itu pula terjadi penolakan. Dan akhirnya semuanya keluar.
Sementara kau ibu, berkali-kali minum ramuan yang alakazam itu, demi sukses melahirkanku.
Ibu kau sungguh luar biasa.

Ibu kau pernah bercerita kepadaku tentang pertama kalinya aku masuk rumah sakit dikarenakan demam tinggi hingga step. Dan dokter pun sempat memvonis usiaku tak lama lagi. Aku tak berani membayangkan bagaimana perasaanmu saat itu ibu.
Sementara aku, saat si kecil terserang sariawan saja sudah membuat hatiku porak poranda. Melihatnya menangis setiap hendak menyusu.
Kau sungguh luar biasa ibu.

Ibu, kau juga pernah bercerita padaku saat bapak pergi merantau. Katamu, waktu itu aku dan adikku masih kecil. Namun karena kondisi ekonomi saat itu belum begitu baik, jadi kau mengikhlaskan bapak merantau. Kau mengambil alih semua peran. Kau menjaga, membimbing, merawat, dan melindungiku juga adikku.

Sementara aku, ditinggal suami barang 7 hari saja sudah membuatku mengharu biru.
Ibu kau sungguh luar biasa.

Ibu, kau memang telah mengikhlaskan bapak pergi merantau untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Namun hal itu tentu saja tak semerta-merta dapat terjadi. Begitu bapak merantau, maka seketika itu pula ekonomi keluarga akan membaik. Katamu, ternyata tidak demikian. Di luar prediksi. Gaji bapak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhannya di tanah rantau, mungkin adalah sedikit yang bisa bapak bagi kepada ibu. Dan tentu saja tidak cukup memenuhi kebutuhan kami.
Jadi kau pun mulai membuat es lilin yang dititipkan di sekolah-sekolah. Kau juga membuat beberapa bungkus nasi kuning yang juga engkau titipkan di kantin-kantin sekolah dan sore harinya kau akan mengajar ngaji di rumah. Ya, ibu membuka semacam TPQ sederhana di rumah, dengan maksud bisa sambil menjagaku dan adikku.    
Ibu, demi membeli susu, demi gizi kami, kau melakukan hal demikian. Seperti tak ada lelah, setiap hari kau melakukan aktivitas itu. Tak ada keluh kesah.
Ibu kau sungguh luar biasa

Ibu setiap kali aku mendengarkan engkau berkisah tentang pengalamanmu saat membesarkanku juga adikku, seketika itu pula rasa kagum menjalariku. Dan saat ini, saat aku juga telah menjadi seorang ibu, kisah-kisahmu menjadi teladanku. Kisah-kisahmu membuatku begitu takjub akan ketangguhanmu, kesabaranmu, kehebatanmu dalam membesarkanku juga adikku. Sayangmu yang teramat dalam kepada kami, membuatmu memampukan diri, menguatkan hati, menaklukan ego, meredam rasa sakit. Semua itu kau lakukan demi anak-anakmu.

Melihat apa yang telah para ibu lakukan untuk anak-anaknya. Pantas saja Nabi amat memuliakan kedudukan seorang ibu. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ



Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

9 comments:

  1. Sesuai ketentuan poin e, panjang tulisan minimal 500 kata (tidak termasuk judul dan kalimat tanda keiikutsertaan)
    Silakan di cek ya
    Terima kasih

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sdh memenuhi syarat y pak de, Alhamdulillah. Kembali kasih pak de : )

      Delete
  4. Aah .. mengharu biru membacanya ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya mengharu biru pengen pulang, abis nulis GA pak de jadi kangen emak dirumah. Emaaaakkkkkk, kangen maakkkkkkk... : (

      Delete
  5. Nulis tentang Ibu, ga ada habisnya ya mbak.
    Salam hormat untuk keluarga, semoga selalu diberikan kesehatan.

    ReplyDelete

Biji bunga matahari namanya kuaci
Kupas kulitnya pakai gigi
Eee para pengunjung yang baik hati
Yuk tinggalkan komentar sebelum pergi.

Buah Pir Buah Naga
Jangan khawatir, aku akan mengunjungimu juga. :)