Bapak Penjual Bola Plastik

Sebenarnya, minggu kemarin, aku punya rencana terselubung. Sembari mengantarkan sepasang pengantin yang tak lain adalah adek iparku ke tempat tinggal mereka, aku berencana untuk mengambil beberapa foto saat di perjalanan atau saat kami berhenti istirahat lalu makan siang. Foto foto itu nantinya akan kujadikan bahan ikut lomba blog yang diadakan blogger kece mbak Arin.

Kamera sudah kusiapkan. Bekal sudah beres. Beberapa orang dari rombongan pun sudah ku woro woro. Semuanya sudah oke. Tinggal eksekusi saja. Sayangnya rencana tersebut gagal terwujud.

Tentu saja bukan karena aku batal ikut mengantar atau karena aku mabuk perjalanan. Tapi karena sesuatu. Sesuatu yang begitu menyentuh. Terharu hingga buat aku tergugu begitu tiba kembali di rumah. Iya, akhirnya tangisku tumpah ruah di balik bantal.

Minggu pagi, sekitar pukul 9.30 WIB, kami berangkat dari rumah. Kami memilih lewat jalur alternatif. Karena lebih cepat dan jalan tersebut juga sudah cukup baik. Sebagian besar mulus beraspal. Kekurangannya hanya satu yakni sempit. Waktu itu memang lalu lintas jalan tersebut cukup ramai. Jadi si ayah yang duduk di balik kemudi memutuskan untuk alon alon saja.

Awalnya perjalanan cukup lancar dan penuh canda tawa, hingga di detik detik kami hampir mendahului bapak penjual bola plastik, tiba tiba dari arah berlawanan muncul sepeda motor dengan kecepatan tinggi dan mengambil banyak bagian jalan. Kemudian tak sampai 5 detik, hanya sekejap saja, kejadian itu terjadi. Dus Prek. Mobil menyerempet bapak penjual bola plastik untuk menghindari terjadinya tabrakan dengan motor yang melaju dengan kencang tersebut.

Menyadari hal itu, Si ayah lalu menepikan mobil, berhenti, lalu berlari menuju bapak penjual bola plastik. Dan bagaimana ekspresi bapak penjual bola plastik tersebut ?.
"ndak apa apa mas, cuma kaget thok" jawabnya sambil nampak sedikit menyunggingkan senyum lalu menyambut uluran tangan si ayah yang bermaksud untuk meminta maaf padanya.

Melihat kejadian tersebut rasanya seperti ini 'nyes'. Hati luluh. Seakan jatuh membumi. Sungguh aku tak menduga kalau ekspresi itu yang muncul dari beliau. Aku mengira ia malah akan membentak kami, marah dan segala macamnya, namun ternyata tidak begitu sama sekali. Subhanallah. Masih ada hati sebaik itu di zaman seperti ini.

Sepanjang perjalanan, baik saat menuju ke tempat tujuan hingga kembali lagi, pikiranku tak lepas dari sosok bapak penjual bola plastik tersebut. Aneka pertanyaan muncul dipikiranku. Ada terselip protes di dalamnya. Protes kepada Sang Maha segalanya. Mengapa begini mengapa begitu. Mengapa orang sebaik itu harus menjalani hidup seperti itu. Menjajakan bola plastik kemana mana dengan menggunakan motor butut dan rengkek kayu yang sudah tak apik lagi. Sementara yang 'begitu begitu', hidup berlimpah ruah harta, hanya duduk ongkang ongkang tak nampak bekerja keras apalagi bekerja baik. Mengapa begitu Ya Robb ?. Mengapa ?.

Entah di bagian ruang pikiran sebelah mana, tiba tiba muncul kalimat begini : " Mungkin hidup yang dijalani bapak penjual bola plastik itu yang menurut kita penuh dengan kekurangan terutama materi, adalah cara Allah melindungi beliau dari perbuatan yang tidak baik 'begitu begitu' ". Iya mungkin seperti itu. Itu adalah cara Allah melindungi beliau. InsyaAllah yang terbaik. Wallohua'lam.

Pelajaran yang aku peroleh dari kejadian tersebut adalah :
1. Harus lebih hati hati saat berkendara.
2. Jika dari jauh sudah terlihat ada kendaraan yang nampak ugal ugalan, ngebut ngebutan, lebih baik kita menjauh. Entah harus segera mendahuluinya, atau berjalan perlahan bahkan berhenti. Paling tidak hingga si ugal ugalan tersebut jauh atau melewati kita.
3. Masih ada orang dengan ekspresi yang keren bin baik di zaman seperti ini.
4. Sebagai refleksi, terutama untuk aku yang akhir akhir ini cukup sering khilaf. Mengeluhkan ini itu kepada Allah. Kenapa begini, koq begitu, kakoq kakoq saja, tanpa berusaha sekuat tenaga, melakukan sesuatu. Malah sering berdiam diri, bahkan sedikit geje (nggak jelas). Sementara si bapak penjual bola plastik, dengan hidup yang mungkin lebih tidak baik dari aku tapi tetap berusaha, berkeliling menjajakan bola plastik dagangannya ke warung warung di desa.

Subhanallah. Astgahfirullahal 'adzim. Walaahaulawala Quwwata illah billah hil 'aliyyil 'adzim.




Cara Mengetahui Kesiapan Anak Menulis dan Membaca dari Gambar

Tahukah Kamu, Mam. Bahwa kesiapan anak menulis dan membaca dapat dilihat dari gambar yang si kecil buat ? Nggak tahu, soal ini, aku ma...