Pelajaran yang Dapat Aku Ambil dari Sebuah Perdebatan

Akhirnya, aku putuskan perdebatan yang terjadi di akun facebook ku dengan, BLOKIR. Hahayyy.

Karena aku sadar bahwa perdebatan itu menuju ke arah yang nggak jelas. Aku mbahas itu, eee orang itu malah mbahas itu. Bahkan makin melebar. Dan buntutnya mengarah ke-ngejudge eikeh cyiinnn. Selain itu juga, aku sudah minta untuk mengakhiri perdebatan yang maknyonyor itu, ee tu orang malah nongol terus. Duuhhh ampuh dah. Lelah saya mah. Beneran. Lelah jelasinnya. Karena percuma. Tu orang sudah pakai kacamata kuda soalnya. Jadi nggak bisa melihat kanan dan kiri. Gitu. So blokir adalah langkah yang tepat. Yuhuuuu.

Perdebatan tersebut dimulai saat orang itu tidak terima dengan komentarku tentang MUI. Kata orang itu, aku nggak pantes komentar seperti itu. Karena aku bukan ulama, bukan siapa-siapa. Jujur, mendapat komentar tersebut membuatku.... SEDIH cyiiinnn. Terlebih lagi saat orang itu mulai mengkotak-kotakan Islam. Duuuhhh, nggak hanya sedih, bahkan juga prihatin, daaannn ngeri. Hhhhh....semoga deh, semoga orang itu, juga orang-orang yang memiliki pemikiran seperti itu, diberikan petunjuk oleh Allah Swt. Amin. #Pray

Komentarku atas MUI, disebabkan karena sudah dzalim terhadap buya syafii ma'arif. Koq bisa-bisanya seperti itu. Heran.

Aku mulai kenal dengan buya saat menonton acara kick andy sekitar 3 atau 2 tahun yang lalu. Dan setelah itu aku pun 'mengikuti' beliau lewat gogle, tulisan-tulisan yang beliau buat. Pengekoran puncak yaitu saat aku memperoleh buku karya buya, dengan judul Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan.

Aku masih ingat apa yang dikatakan ustadzku waktu mondok dulu. Kata beliau, untuk mengukur apakah ucapan atau tulisan seseorang itu tulus dari hati. Maka biasanya akan terasa di hati pembaca. Dan aku pun mengalami hal itu saat membaca buku buya. Bagi aku, membaca buku karya buya, laksana bertemu oase di tengah padang pasir. Membaca buku karya buya membuat rasa rinduku kepada pemikiran almarhum gusdur sedikit terobati. #RinduGusdur.

Nah dari point point di atas membuatku melontarkan kata seperti itu di tautan yang aku share. Tentang pendapat gusmus terhadap mui yang dengan mantabnya menjudge buya seperti itu. Duuhh na'udzubillah.

Artikel yang aku share itu lebih kepada kasus yang dihadapi buya. Bukan kasus koh ahok yes. Aku nggak ikut ikut soal koh ahok. Toh sudah banyak yang hendle kan ? Sudah diurusi oleh kapolri. Tinggal nunggu proses hukumnya aja.

Tapi, dari perdebatan yang gejong itu, ada beberapa pelajaran yang dapat aku petik. Yakni :

Pertama, Aku jadi tahu bahwa, masih ada yang tidak begitu paham dengan "kebesan dalam berpendapat, saling menghormati dan menghargai perdebatan pendapat".

Kedua, aku jadi tahu bahwa banyak yang masih memakai "kaca mata kuda".

Ketiga, tidak suka membaca. Apalagi jika disuruh membaca artikel artikel dari sudut pandang lain.

Keempat, asal komentar tanpa berusaha mencari informasi yang sebenarnya terlebih dahulu.

Kelima, mudah membagi orang ke dalam kotak-kotak.

Keenam, mudah ngejudge

Ketujuh, mudah tersulut emosi

Kedelapan, susah menerima perbedaan

Kesembilan, traffic medsosku cepet naik. Hahayyy.

kesepuluh, aku jadi tahu tentang kemampuanku dalam menghadapi orang-orang yang nggak jelas. Namun kata suami mah, aku belum siap seperti itu. #Glodak. Belum bener bener mampu bertahan dalam segi mental. #Glodak. Tapi iya sih, ada benernya, secara hati aku kan selembut bidadari. #MintaDidulitUpil . Jadi harus digembleng lagi dan lagi.

Nah dari point-point di atas, aku punya semburat rencana yang nangkring di hati. Yang jelas semburat tersebut lebih kepada semburat mengikuti langkah almarhum gusdur, buya syafi'i, gus mus, din syamsudin, dan sebagainya. Yang senantiasa menggembar gemborkan tentang Islam rahmatallil'alamin. Islam yang penuh rahmat lan kasih sayang di negeri ini.

9 comments:

  1. Blokir aja mbak. Yg nyolot2 pake emosi BLOKIR!. Apalagi udah pake ngejudge dan menyudutkan segala. Jadi tahu yg bener2 bela agama/cuma bela ego saja. :)

    Blas aku sekarang gak mau share do sosmedku hal2 berbau SARA...

    ReplyDelete
  2. hihi...ya gpp mbak demi kemaslahatan diri dan keluarga.

    ReplyDelete
  3. aku jgn blokir Mak Ken hahaha..aku rajin menabung dan tidak sombong loh :p *apasiy ga nyambung*

    ReplyDelete
  4. Mbak,jangan blokir aku yaaa^^
    No 9 bikin ati tentrem^^

    ReplyDelete
  5. dari semua kejadian selalu ada hikmah yg bisa diambil ya mba

    ReplyDelete
  6. dari perdebatan kita belajar dari kesalahan kita dan mengambil hikmahh

    ReplyDelete
  7. Dari perdebatan , kita belajar menghargai Pendapat orang laian...

    ReplyDelete
  8. Aku lebih suka menghindari debat, hehe. soalnya kepala jadi pening berhari2 kalau liat perdebatan. Mending semangat cari duit lewat blog *eh

    ReplyDelete
  9. Saya mengikuti terus perdebatan itu mak ken di tautan itu. Sudah berkali2 gatal pengin ikut nimbrung tapi nggak jadi karena udah kadung janji nggak akan debat di medsos. 😁😁

    Blokir memang cara yang efektif buat mereka yang menguras emosi. Tapiii..please, jangan ada blokir di antara kita ya Maaak 😃✌✌

    ReplyDelete

Biji bunga matahari namanya kuaci
Kupas kulitnya pakai gigi
Eee para pengunjung yang baik hati
Yuk tinggalkan komentar sebelum pergi.

Buah Pir Buah Naga
Jangan khawatir, aku akan mengunjungimu juga. :)

Pengalaman Pertama Bikin Donat Rasa Endolita Tekstur Sinyorita

Jadi, sejak Ken sekolah, aku mulai rajin lagi belajar masak. Tapi kali ini, yang aku pelajari, khusus bikin cemilan, jajanan buat bekal s...