THR Lebaran Anak, Dihabiskan atau Ditabung ?

Hai Mamis,

Sudah jadi tradisi. Kalau saat lebaran, anak-anak akan mendapatkan yang namanya uang lebaran atau lebih dikenal dengan THR Lebaran Anak. Entah dimulai sejak kapan tradisi ini. Yang pasti, tahun 1994, waktu aku TK B, tradisi ini sudah ada. *dah, ketahuan dah angkatan berapa.

Dulu, THR lebaran aku, cuma bisa dipakai untuk beli es krim, gulali, dan beli mainan boneka kertas di Pak Wek (penjual mainan mulai dari harga 100-an). Sementara, THR lebaran Siken, bisa buat ini itu, cyiiinnn. Lalu aku pun sempat TER..GO..DA. Hahay.

thr lebaran anak

Beberapa orangtua, ada yang memilih untuk mengarahkan THR Lebaran Anak menuju tabungan atau celengan anak. Kalau aku, untuk lebaran kali ini, lebih memilih mengarahkan THR Lebaran Siken untuk dihabiskan, dibelanjakan dulu. Tentu buat Siken, bukan buat emaknye lah. Kalau ada sisa, baru deh dipinjam emaknye, eh ditabung maksudnya. Bhahaha.

Bagi aku dan suami, lebaran adalah momen buat manjain bocah, buat Siken. Waktu kami, fokus perhatian kami, semuanya buat bocah. Yaaa..itung-itung, ini sebagai penyuplai kekuatan bahagia  bagi Siken. Karena setelah libur lebaran usai, Siken akan kami ajak berjuang lagi. Berhemat lagi.

Lalu THR Lebaran Siken buat apa saja nih ?.

1. Main di arena bermain
Siken senang sekali waktu diajak main ke sini. Banyak mainan yang ingin ia coba. Termasuk mainan yang bukan untuk bocah. Mulai dari mobil goyang-goyang, sampai nge-dance begini.


Tapi, bukan Siken aja sih yang happy. Aku dan ayahnya juga happy. Beberapa kali kami ikut nimbrung alias ikut Siken main. Dan ternyata....seruuuuuuu.



Kalau dipikir-pikir, main di arena bermain yang banyak game-nya ini tidak hanya membuat Siken kenal dengan aneka macam permainan yang canggih. Melainkan juga bikin Siken happy dan kami bisa menjalin bonding yang lebih kuat dengan Siken. That's the point.

2. Update fashion anak
Jangan ngaku jadi mamak kece sebelum bisa bikin penampilan si kecil juga kece.


Iyup. Menurut aku sih gitu. Nggak tahu deh menurut mas anang. Jadi demi membuat penampilan Siken jadi kece badai ulala, aku pun mencari informasi fashion yang lagi nge-trend buat bocah. Mengapa begitu ? Yaaaa biar penampilan Siken lain dari yang lain. Karena biasanya nih, apa yang lagi ngetrend di ibu kota, belum jadi trend di daerah sampai beberapa bulan kemudian.

Beli celana siken ini di Tokopedia

Setelah aku menemukan fashion yang cocok buat Siken dan juga lagi nge-trend, lalu aku langsung cus aja dah ke Tokopedia.. Pasti yang aku cari ada di Tokopedia. Yakin mah. Sudah terbukti.

Aku pernah cari-cari celana yang diidamkan suami, alhamdulillah ada di Tokopedia. Nyari jilbab yang lagi nge-trend juga ada di Tokopedia. Dan baru-baru ini, aku beli celana buat Siken dan tentu celana yang lagi nge-trend, juga di Tokopedia. Lengkap. Mau perlengkapan bayi baru lahir, ada. Mau beli mainan bayi, juga ada.  Semuanya ada di Tokopedia.

Selain lengkap, belanja di Tokopedia juga aman sih. Soalnya, belanjaanku yang berupa jilbab, mainan, dan celana buat suami, alhamdulillah nyampek semua. Mendarat dengan pasti dan selamat.

Kemudian, fitur-fitur yang ada di Tokopedia juga bikin aku nyaman belanja. Soalnya memudahkan banget. Mau cari produk dengan kisaran harga tertentu, ada fiturnya. Trus mau cari produk dengan lokasi penjual berada di daerah tertentu, juga ada fiturnya. Dan lain sebagainya.

3. Beli mainan
Aku memang suka bikin mainan buat Siken. Bikin mainan yang sederhana. Kalau yang canggih atau keren mah, nggak bisa. *ahay. Jadi THR lebaran Siken aku pakai buat beli mainan yang nggak bisa aku bikin. Seperti mobil-mobilan atau kereta api yang bisa jalan sendiri, tanpa didorong-didorong, atau mainan yang keren bin kekinian seperti lego.

Alhamdulillah, dengan melakukan 3 hal itu, THR lebaran Siken jadi habis tak bersisa. Mamak pun nggak jadi pinjem. Mamak malah nombok, malah nambahin. Hahay. Tak apalah yah. Sekali- sekali.


Nah, kalau kalian gimana nih Mamis ? THR Lebaran Anak diarahkan buat apa nih ? Ditabung atau buat beli-beli ?.

Jangan Biarkan Suami Sendirian di Dapur

Kadang, niat hati ingin nunggu ibu sayur datang, sambil leyeh-leyeh, sambil intip-intip social media gitu, eeeee malah jadi molor lagi. Udah gitu, kata suami, molorku bukan molor biasa pula, melainkan molor yang nyenyak banget. Kata suami : "Susah dibangunin, sampek ngiler-ngiler". *abaikan yg ngiler-ngiler.


Nah, kalau sudah begini, biasanya, suami beli sarapan di luar atau masak sendiri. Iya, sendiri. Dan aku nggak rela akan hal itu. *ahay.Bukannya karena takut kalau masakan buatan suami rasanya nggak enak, apalagi karena nggak tega bin so sweet gitu. Tapi, demi menghindari hal-hal yang tidak aku inginkan terjadi saat suami masak sendirian di dapur.

1. Bumbu dapur jadi cepat habis
Suami adalah penganut paham 'Masakan jadi enak kalau bumbu banyak'. Sementara aku, 'Yang penting ada rasanya aja udah enak'. *uhuy.


Dulu, aku setuju banget sama pendapat suami. Karena emang gitu juga kan, hasil masakan jadi makin mantab surantab kalau pakai bumbu yang banyak. Tapi setelah aku mengalami yang namanya terombang ambing akan harga bawang merah, lalu cabai, yang mana dua hal itu adalah bumbu inti yang sering aku pakai, beuuugghhh, rasanyaaaa..kudu lari ke hutan aja mah. Sejak saat itu, aku mulai mengurangi penggunaan bumbu dapur. Nggak all out lagi. Yang penting ada rasanya aja, udah alhamdulillah yah sesuatu.

Maka dari itu, kalau suami masak sendiri di dapur, hati aku jadi was-was. Takut bumbu dapur yang seharusnya bisa diusahain untuk seminggu berubah jadi 3 hari. Akibatnya, mamak pun gagal nyisihin duit belanja. Ujungnya malah nombok. Boookkk.

2. Banyak perabotan yang kotor
Kalau aku, biasanya, satu wadah buat naruh beberapa bahan masakan. Sementara suami, satu tempat, satu bahan. *hahay. Tentu saja hal ini menyebabkan banyaknya perabotan yang kotor. 

3. Perabotan kotornya ada dimana-mana
Karena suami suka pakai banyak perabotam saat masak. Atau satu perabotan satu bahan. Hal ini bisa jadi membuat meja dapur penuh. Pas mau naruh ini itu jadi bingung kan. Walhasil, naruh bahan jadi sembarangan. Mana tempat kosong, ya diletakkan di situ aja. Pernah nih, waktu beresin dapur, aku nemu gelas yang habis dipakai untuk mengocok telur di rak piring. Bayangin cobak hayo, di rak piring. Untung saja ketahuan duluan, sebelum aku pakai minum. Selameeettt selamet.


4. Suka-suka pakai perabotan
Ada beberapa perabotan yang aku khususkan untuk bahan tertentu. Seperti wadah khusus untuk mengocok telur, wadah khusus untuk memisahkan minyak yang sudah terpakai, dan sebagainya. Maksudku melakukan hal itu yaaa, biar perabotan lain tetap aman. Nggak ada aroma aroma makslenting amis, atau berminyak banget.


Sayangnya, hal ini tidak berlaku bagi suami. Ada wadah kosong di depan mata. Sekiranya bikin bahan makanannya nggak tumpah, ya udah, langsung dipakai aja.

Nah, itulah beberapa hal yang biasanya terjadi kalau suamiku masak sendirian di dapur. Dimasakin sih memang enak. Tinggal makan doang. Tapi setelah itu, harus siap-siap membersihkan dapur yang habis dipakai suami masak sendirian. *uhuy.
Kalau kalian gimana ? Lebih suka suami masak sendirian di dapur, atau lebih suka nemenin suami masak di dapur ? ?.


Koq Nggak Sekolah ? Mau Jadi Apa ?

Dah, julid amat komentarnya yak *hahay.
Tapi, dimanapun itu, bagaimanapun keadaan kita, pasti akan ada saja yang berkomentar. Termasuk komentar nyinyir nan julid. Jadi sudah biasalah yah. Pinter-pinter kitanya aja sih dalam memanage hati. Biar nggak gampang baper gegara komentar yang maknyonyor. Seperti komentar yang satu ini dah.

Ohya, komentar maknyonyor ini tentu nggak muncul sekonyong konyong goder, tapi ada musababnya, ada asal mulanya.

Waktu itu, hari pertama sekolah. Mungkin karena ini,  jadi ibu-ibu yang anak-anaknya pada sekolah agak heboh gitu belanjanya, cepet-cepetan. Wajar sih ya menurut aku. Apalagi libur sekolah kali ini lumayan panjang kan. Nah, cuma herannya nih, lagi terburu-buru begitu, masih sempat aja ngobrol ini itu. Ngomentarin ini itu. Hingga akhirnya ngomentarin siken yang nggak berseragam.
"Ken nggak sekolah lagi ta Mbk ? Kemaren nggak paud juga kan ya ?"
"Ngge (iya) buk" jawabku sekilas.
"Usia ne piro tho Mbk (usianya berapa sih Mbk) ?"
"Hampir 5 tahun Buk"
"Laiyo, koq nggak sekolah-sekolah ? Mau jadi apa ?"

Lah.

Aku sempat speechless gitu waktu denger komentar seperti itu. Nggak habis pikir aja. Koq bisa nyampek situ. Dari nggak sekolah-sekolah (usia dini) ke mau jadi apa. Jauhnyaaaa. Seakan-akan, sekolah usia dini itu penentu kesuksesan masa depan anak. Deh.

Sekolah usia dini bisa dibilang penting. Karena disitu tempat membangun pondasi dasar bagi si anak. Baik itu dalam hal ilmu pengetahuan hingga karakter anak. Namun hal ini tidak dapat dijadikan sebagai penentu kesuksesan masa depan bocah donk ya. Nggak bisa. Sementara, setelah sekolah anak usia dini, anak akan menghadapi lingkungan yang lebih kompleks. Baik di sekolah, di rumah, dan lingkungan sekitar. Yang mana pada saat itu akan ada proses yang namanya belajar, belajar memahami sesuatu, belajar menghadapi dan mengatasi masalah. Dan hal ini terjadi dalam waktu bertahun-tahun, lebih lama dari rentang waktu anak bersekolah di sekolah anak usia dini. Jauuhhh. Amat jauh. Nah, tentu hal ini yang akan membawa pengaruh besar kehidupan, kesuksesan anak, dan sebagainya.

Tapi, alhamdulillah, speechless aku nggak berlangsung lama. Maka pertanyaan itu, langsung aku lemparkan saja ke siken.
"Ken, mau jadi apa ?"
"Spidermen, muma naga ya".
Tetep, kebagian jadi naga. Hhhhh.

Mendengar jawaban siken, ibu-ibu itu jadi tersenyum. Ibu-ibu yang lain juga. Alhamdu..lillaaahh. Komentar aneh-aneh tentang siken yang nggak kunjung sekolah anak usia dini, berhenti sampai disitu. Langsung ganti topik. Yihaaa.

Sebenarnya, bisa aja sih aku jelasin alasan siken belum sekolah anak usia dini. Tapiiiii....nggak deh. Nggak akan maksimal, nggak akan nyantol juga. Secara ibu-ibu itu tengah hectic karena hari pertama sekolah. Jadi mending aku senyumin aja deh. Woles aja. Nggak perlu baper apalagi sampai baper berubah jadi laper. Beuughh, bisa sarapan dua piring nanti mah. Diet bisa gagal nih. Aku kan mau diet. Diet pret. *ahay.

***

Baca juga : THR Lebaran Anak, Dihabiskan atau Ditabung ?

Membangun Perlindungan Keluarga, Jangan Menunggu Merasakan Sakit atau Jatuh Terlebih Dahulu

Hidup memang penuh kejutan. 
Kadang kejutan itu membuat bahagia, adakalanya juga membawa linangan air mata. 
Apapun itu, kita tetap harus siap menghadapi kejutan hidup bukan ? 
Ho oh.

Seharusnya memang seperti itu. Seharusnya, aku dan suami sudah siap saat tiba-tiba kejutan hidup datang menghampiri keluarga kecil kami. Bukannya malah membuat kami .....hhhh….

2 tahun yang lalu, sebuah kejutan yang berwujud cobaan ekonomi tiba-tiba datang menghampiri kami. Cobaan ekonomi yang berhasil membuat kami sempat terseok-seok.

Kalau ingat masa-masa itu, rasanya ada yang 'nyelekit' gitu di hati. Terlebih lagi saat ingat momen si kecil yang diharuskan menginap beberapa hari di rumah sakit karena demam tinggi yang beresiko step. Saat itu, aku dan suami lebih memikirkan biaya rumah sakit daripada kesehatan si kecil. Saking takutnya kami tak bisa membayar biaya tersebut, kami sampai meminta (dengan sedikit memaksa) dokter anak yang menangani si kecil untuk mengizinkan si kecil pulang. Dan akhirnya, si kecil pun diperbolehkan pulang dengan keterangan 'Pasien Pulang Paksa'. Iya, pulang paksa, karena seharusnya, si kecil masih harus menginap sehari lagi di rumah sakit. Untuk memastikan kondisinya sudah benar-benar sembuh.
Hiks.
Maaf ya, Nak.



Tapi, alhamdulillah, sekarang ekonomi kami sudah membaik. Maka dari itu, demi tetap siap siaga jika cobaan ekonomi datang menerpa lagi, aku dan suami memutuskan untuk membuat tameng alias benteng yang kami beri nama Perlindungan Keluarga.

Belajar dari Pengalaman Hidup Orang Lain

Sebenarnya, untuk membuat tameng berupa Perlindungan Keluarga, aku tidak harus menunggu mengalami jatuh, atau merasakan sakit terlebih dahulu. Mengambil hikmah atau pelajaran dari pengalaman orang lain pun bisa menjadi alasan kuat untuk segera membangun Perlindungan Keluarga.

Salah satunya seperti pengalaman hidup yang dialami oleh Ibu Pri, istri dari Ketua RT (Rukun Tetangga) tempat tinggalku. Kejutan hidup yang dialami Ibu RT lebih berat daripada yang aku dan keluarga kecilku alami. Kejutan hidup itu berupa Pak RT meninggal dunia. Iya, sang tulang punggung keluarga, 'tiang utama' rumah tangga pergi untuk selama-lamanya.

Rasa sedih teramat sangat di hati Ibu Rt itu pasti. Bahkan mungkin tak hanya rasa sedih yang menggelayuti ibu RT. Melainkan sebuah pikiran bagaimana melanjutkan tongkat estafet yang sebelumnya dipegang oleh sang tulang punggung keluarga. Namun, alhamdulillah, aku turut bahagia saat mendengar kabar bahwa ternyata Pak RT telah membuat tameng 'Perlindungan Keluarga'. Sebuah tameng yang membuat anaknya tetap bisa melanjutkan sekolah tanpa khawatir biaya. Alhamdulillah.

Dari pelajaran hidup yang dialami bu RT, serta dari apa yang telah aku alami di waktu lalu. Rasanya, tidak ada kata nanti nanti untuk membangun benteng Perlindungan Keluarga. Harus segera.

Membangun Perlindungan untuk Keluarga

Ada banyak pilihan usaha yang dapat kita lakukan untuk membangun Perlindungan bagi Keluarga. Salah satunya yaitu dengan Investasi. Investasi dalam bentuk ASURANSI. Namun, sebelum berasuransi Kita tetap harus menerapkan asas hati-hati. Harus memilih tempat yang terbukti terpercaya donk ya. Dan salah satu tempat yang memenuhi kriteria itu adalah DBS.




DBS adalah financial services group yang terkemuka di ASIA. Memiliki 280 cabang di 18 Markets. DBS berkantor pusat di Singapura. Dan saat ini Bank DBS juga sudah hadir di Cina, Asia Tenggara dan Asia Selatan. Selain itu juga, DBS memiliki beberapa penghargaan. Seperti Safest Bank Award (2016), World's Best Digital Bank (2016), Asian Bank of The Year (2015, dan masih banyak lagi yang lainnya. Nah dengan informasi seperti ini, maka tidak ada keraguan lagi untuk memilih Bank DBS sebagai tempat yang tepat untuk berasuransi bukan ? Iyup.

Penghargaannya buanyak. Ini yang terbaru.

Di DBS sendiri ada 3 pilihan asuransi untuk melindungi keluarga. Yakni Golden Protector, Prograduate, dan Family Estate Protection.

Golden Protector 
Solusi tepat dalam menghadapi kebutuhan keuangan keluarga di masa purna karya dan hari tua. Program ini, menggabungkan perencaan keuangan yang matang dan perlindungan jiwa yang pasti. Intinya, Golden Protector ini dapat membantu Kita untuk berada di puncak kemapanan hidup di usia emas.


Prograduate
Suatu program asuransi yang dikhususkan untuk membantu para orang tua dalam mempersiapkan dana pendidikan bagi si buah hati. Sejak masuk perguruan tinggi sampai anak Kita berusia 23 tahun. Jadi kalau Kita ingin dana pendidikan untuk si kecil sudah siap sedia. Maka bisa memilih jenis asuransi ini untuk melindungi mimpi atau cita-cita si kecil.


Family Estate Protection
Suatu program keuangan dalam bentuk asuransi dengan jenis pembayaran Premi Tunggal yang memberikan perlindungan jiwa seumur hidup (hingga usia 99 tahun).


Selain program Live Well di atas. Ada lagi cara melindungi keluarga yakni LIFE CONFIDENT. Life confident di sini ada dua point yakni Pro Health dan ProLife Plus. Pro Health adalah produk asuransi kesehatan perorangan hingga sampai berusia 99 tahun. Sedangkan ProLife Plus produk asuransi kesehatan keluarga.

Lengkap kan yak ? Ho oh. DBS memang lengkap. Satu bank bisa mengkatrol begitu banyak Cara Untuk Melindungi Keluarga. Perlindungan Keluarga jadi benar-benar Maksimal deh. Kalau
sudah begini, insyaAllah, tidak akan ada lagi yang namanya terseok-seok saat dihampiri oleh cobaan. Terutama saat ekonomi keluarga sedang terpuruk. Tidak ada lagi yang namanya memaksa pulang karena takut biaya rumah sakit yang mahal saat keluarga butuh menginap di rumah sakit. Tidak ada namanya gagal meraih mimpi karena terhalang biaya. Yang ada hanyalah, hidup baik-baik saja, hidup yang menenangkan, hidup yang menyenangkan, hidup yang membahagiakan dan yang paling utama adalah hidup sehat.

Nah kalau kalian gimana nih teman-teman ? Sudah membangun Perlindungan Keluarga belum ? Kalau belum, segera yak, biar nggak mengalami hal seperti aku. 

Hal-hal Gokil yang Terjadi Saat Momen Lebaran

Hai Temans.
Ada yang belum move on dari momen lebaran kah ? Khususnya mudik ? Ada. Tos dulu kita ah. Aku juga belum bisa move on dari lebaran, dari mudik, dari nastar, eh dari momen saat menghabiskan waktu sama keluarga di kampung halaman, silaturahim, jalan-jalan, kulineran. Aakkkkk..banyaaakkk.

Karena cihuynya momen lebaran plus mudik itulah yang menjadi salah satu penyebab betapa aku selalu rindu sama Ramadhan. Yang berarti kalau Ramadhan datang maka hitung mundur pulang kampung pun dimulai. Mudik mudiikkk. Yihaaaa.
Norak yes ? Yuhuuu.
Maklumlah yah, setahun pisan euy.

Nah, entah mungkin karena setahun sekali itu atau memang karena aku lemah gemulai, eh lemah ingatan jadi sering banget bikin aku ngalamin hal-hal gokil di momen lebaran. Dan hal gokil tersebut berupa serba salah.

1. Salah rumah
Setiap lebaran bapak sama ibuk selalu ngajak anak-anaknya plus mantu plus cucu untuk silaturahim. Ke tetangga yang baik sampai ke tetangga yang masak gitu. Trus ke keluarga juga. Dari yang dekat, sampai yang rumahnya jauh bin banget.

Biasanya kalau sudah tiba giliran silaturahim ke keluarga aku memilih jadi ekor saja. Soalnya suka lupa-lupa inget. Biasanya begitu. Biasanya.
Nah entah kenapa nih, lebaran kemarin, aku nggak memilih jadi ekor. Maka dengan pedenya, begitu kendaraan melandai di depan sebuah rumah, aku berjalan di depan. Tidak menunggu bapak ibuk lebih dulu. Sebagai orang-orang yang lebih paham. Jalan terus aja. Tanpa toleh-toleh langsung masuk ke rumah yang lurus dengan lokasi parkir kendaraan. Ngucap salam. Salam di jawab. Salam-salaman sama tuan rumah. Sambil bilang mohon maaf lahir batin. Lalu duduk syantiek. Noleh ke belakang sambil senyam senyum ke arah bapak ibuk serta gank. Senyuman berbalas. Terus....teruuusss senyum...terus..lalu mereka....belok.
DIENG.
SALAH RUMAH.
Ternyata rumah yang dituju berada di bagian belakang. Bukan rumah yang lurus dengan lokasi parkir kendaraan. Bukan rumah yang didalamnya ada aku. Aku yang pada akhirnya meminta maaf kepada tuan rumah karena salah rumah sambil cengar cengir. Hadeeehh.

Asli. Malu. Kalau aku bisa ngilang. Ngilang dah saat itu juga. Sesegera mungkin.

2. Salah orang
Momen lebaran juga diisi dengan menyambut tamu. Sebagian besar sih tamu bapak juga ibuk. Dan biasanya, tamu bapak dan ibuk juga kenal sama aku dan adek. Maklum, aku kan terkenal. *lalu ditoyor. Hehe.Sudah otomatis lah yah. Kenal ortu biasanya tahu juga sama anak-anaknya.

Tamu ibuk bapak juga biasanya temen-temen lama beliau atau udah nggak asing lagi lah bagi ibuk bapak juga adekku. Tapiii, tidak bagi aku.Aku, teteeeppp aja nggak inget. Kalau soal nama sih pasti inget. Yang nggak inget ituuu, wajahnya.
Payah euy.
Ho oh.

Karena aku sadar banget sama kemaknyonyoran aku ini. Walhasil kalau ada tamu, aku pasti langsung meluncur ke dalam rumah. Setelah jelas tamunya siapa, baru deh aku ikutan nyapa. Gitu amat yak. Hahay.

Namun, lebaran kali ini itu BER..BEZA. Orang rumah pada super duper sibuk momong anggota baru keluarga yang baru berusia 1 bulan alias anak adek aku. Sehingga dengan mantab mereka menganugerahi aku sebagai penyambut tamu. Sementara aku pun menerima tugas tersebut, dengan lapang dada.
Seteralah seterah.

Dampaknya sudah pasti lah yah. Aku, salah orang. Berikut salah satu kejadian itu.

Lebaran H+3. Ada tamu ke rumah. Pria dan wanita plus bocah laki-laki.
Dari kejauhan, yang wanita sudah senyum-senyum. Dan aku pun berbalas senyum. Meskipun, aku belum tau itu siapa ??.

Tamu wanita : "Ibuk ada ?".
Aku : "Ada, ibuk di dalem, masuk buk". Kataku mempersilahkan tamu wanita yang aku pikir adalah mantan murid ibuk.
Namun, Tamu wanita itu masih senyum.
Kali ini senyumnya lebar banget.
Lalu...
Aku pun ngerasa ada yang aneh dari senyuman itu.
Seperti.....
Aku :"Siapa ya ?"
Tamu wanita : "Ya Allah, ini Ncu Kep Pit, masak lupa".
TOWEWENG
Ncu kep , temen ngaji aku, temen main juga, dan masih punya hubungan keluarga.
DEH.
MALU.
Tapi, untungnya nih aku udah nyiapin jawaban buat jaga-jaga kalau aku salah orang.
Aku : "Oalaaaahhh..,,pangling aku....tambah ayu e, masuk masuk masuk".

3. Salah tanya
Seperti yang aku bilang sebelumnya, bahwa penghuni rumah tengah sibuk momong anggota baru, si baby el. Maka, aktivitas berbagi cerita tentang apa saja yang terjadi di kampung halaman jadi nggak terlaksana. Dampaknya tentu saja, aku jadi tidak paham dengan cerita orang-orang sekitar yang selanjutnya berujung pada salah tanya. Seperti kejadian berikut ini :

Aku lupa tepatnya H plus berapa. Waktu itu, tamu adek datang. Tamu wanita yang ini lumayan aku kenal dan ingat. Karena, dulu waktu masih adek sma, sering main ke rumah. Kata adek, temannya ini sudah menikah. Menikah muda. Tanpa babibubebo lagi aku pun mempersilakan tamu adekku itu masuk, sambil menunggu adekku nyamperin ke ruanh tamu, aku pun ngajak tamu tersebut ngobrol dan mengajukan beberapa pertanyaan. Salah satunya :"Eh suaminya koq nggak diajak, biasanya kan diajak ke sini?".
Tanyaku, dan disambut dengan jawaban :"Sudah pisah, Mbak".

Payah bener kan ? Kan kan kan ?.
Aku cuma berharap, kejadian serba salah yang nggak sengaja itu, dimaafkan oleh korban-korban serba salah aku. Nggak diambil hatilah. Nggak sengaja. Amin semoga.

Nah kalau kalian punya cerita gokil apa nih pas lebaran. Boleh deh di share dimarik. Monggo. Matur nuwun, :D

Tips Memilih Pengasuh untuk Merawat Bayi Ibu

Memiliki bayi yang sehat dan lucu pastinya menjadi idaman setiap keluarga. Keinginan untuk merawat serta menjaganya untuk bisa menghabiskan waktu dan melihat tumbuh kembang setiap hari pastinya sangat kuat terutama bagi Ibu sang bayi. Namun sering kali Ibu pun memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan terlalu lama atau sudah memiliki beberapa putra-putri sebelumnya sehingga memerlukan bantuan perawat bayi untuk mengurus semua keperluan bayi Ibu. Pengasuh bayi inilah yang nantinya membantu Ibu untuk mengurus bayi apabila Ibu memiliki kesibukan lain yang tidak bisa ditinggalkan.
sumber gambar : bayionline.net

Untuk itu memilih pengasuh yang merawat bayi  Ibu tak boleh sembarangan agar bayi senantiasa berada di tangan yang tepat. Untuk memilih pengasuh bayi yang terpercaya, ada beberapa opsi yang bisa Ibu lakukan sesuai dengan pilihan dan kepercayaan Ibu. Berikut ini adalah beberapa opsi yang bisa diambil dan dipertimbangkan sebelum Ibu melakukan aktifitas rutin sehingga bayi sudah memiliki pengasuh sendiri:


1.Pilihlah dari kerabat atau pengasuh keluarga terdahulu.

Terkadang bagi sang Ibu, menyerahkan anak kepada orang asing terasa sangat mengkhawatirkan. Karenanya opsi yang paling bijak adalah mengasuhkan nya kepada kerabat yang masih memiliki hubungan keluarga atau kepada pengasuh yang sudah lama atau sudah pernah mengasuh anak di keluarga Ibu sebelumnya. Dengan begitu Ibu akan merasa lebih aman karena menyerahkan pengasuhan bayi pada orang yang sudah dikenal dan dipercaya.



2.Mencari dari penyedia jasa pengasuhan bayi

Saat ini sudah banyak penyedia jasa pengasuhan bayi yang menjadi perantara Ibu pada pengasuh bayi profesional. Penyedia jasa terlebih dahulu akan membekali pengasuhnya tentang bagaimana cara mengasuh bayi yang baik dan benar sehingga para pengasuh didalamnya sudah memiliki bekal yang dibutuhkan. Ibu bisa memesan pengasuh bayi melalui penyedia jasa ini dengan garansi keamanan yang biasanya turut diberikan.


3.Menitipkan pada tetangga, keluarga atau day care setengah hari.
Jika Ibu tidak menginginkan ada orang asing yang masuk ke rumah selagi rumah dalam keadaan kosong, maka ada opsi yang bisa diambil untuk pengasuhan bayi Ibu yaitu menitipkan bayi di day care atau tetangga selama Ibu bekerja dan mengambilnya ketika Ibu pulang kerja. Opsi ini sekarang banyak dipilih masyarakat yang menginginkan penitipan bayinya hanya pada saat mereka bekerja saja. Seringkali hal ini dipilih atas dasar faktor ekonomi karena lebih hemat.


Itulah beberapa opsi yang bisa Ibu pilih untuk memberikan pengasuh yang merawat bayi selagi
Ibu bekerja dan tidak bisa mengurus bayi sendiri. Ibu bisa memilih opsi mana yang paling sesuai
dan dibutuhkan oleh bayi dan keluarga Ibu sendiri dengan mempertimbangkan pengeluaran, dan
kepercayaan. Namun jika memungkinkan maka ada baiknya Ibu merawat sendiri sang bayi sehingga tidak kehilangan moment kebersamaan.

Memanfaatkan Momen Libur Ramadhan dan Lebaran untuk Menstimulus Karakter Sholeh Si Kecil dengan Bermain Game Anak Sholeh

Assalamu'alaikum
Hai Mamis
Apa kabarnya nih ? Semoga Mamis dalam keadaan baik-baik saja yak, lahir maupun batin. Amin.

Eh ngomong-ngomong, Mamis pada mudik kan ? Mudik kemana nih Mamis ? Dimanapun tujuan mudiknya, yang pasti ada gemuruh rasa senang di hati donk yah ? Tos dulu kita Mamis. Aku pun merasa seperti itu. Senang banget bisa mudik. Alhamdulillah. Bisa melepas rindu dengan keluarga di kampung halaman, silaturahim, icip-icip masakan khas kampung halaman, dan masih banyak lagi aktivitas menyenangkan yang bisa kita lakukan saat mudik. Yihaaaa.

Selain bisa menikmati aktivitas menyenangkan tersebut, ada lagi nih hal positif yang aku dapatkan saat mudik. Apakah itu ? Nasihat bapak juga ibu. Nasihat dari pengalaman hidup yang bapak ibu alami. Salah satunya tentang parenting. Kata bapak juga ibu : "Didik anak yang baik, Nduk. Jangan hanya dicekoki ilmu dunia, tapi juga diberi pondasi agama. Biar seimbang".
Siap laksanakan Pak, Bu. InsyaAllah.

Aku dan suami sependapat dengan nasihat bapak dan ibu. Bahwa menstimulus karakter sholeh sejak dini pada si kecil itu amat penting. Dengan ikhtiar seperti ini, aku dan suami berharap si kecil memiliki rem cakram spiritual yang tangguh saat menjalani kehidupannya nanti. 

Cara Seru Menstimulus Karakter Sholeh Si Kecil
Salah satu cara yang aku lakukan yakni dengan memanfaatkan momen Ramadhan hingga Lebaran seperti saat ini nih, Mamis. Apalagi kali ini, libur Ramadhan hingga lebaran cukup lama kan ya. Jadi okelah yah kalau libur ramadhan hingga lebaran ini aku manfaatkan untuk menstimulus karakter sholeh si kecil.

Cara yang aku pakai untuk menstimulus karakter sholeh si kecil nih Mamis, sama koq dengan cara saat aku menstimulus kecerdasan majemuk si kecil. Yakni dengan menggunakan aneka permainan atau game. Menurut aku, ini merupakan cara seru untuk menstimulus si kecil.

Nah, berubung saat ini aku ingin menstimulus karakter sholeh si kecil dan juga bertepatan dengan momen spesial yakni Ramadhan dan Lebaran, maka kriteria permainan atau game yang aku pilih adalah game yang ramadhanable banget. Game Ramadhan Pengisi Liburan. Yang mana di dalam game tersebut, terdapat aktivitas-aktivitas yang kita lakukan selama ramadhan. Jadi sikronlah yah antara tujuan, momen, dan aktivitas. Kalau sudah sikron begini nih Mamis, menurut aku, peluang keberhasilan dalam menstimulus karakter sholeh si kecil akan semakin besar. InsyaAllah.

Dari kriteria itu, aku pun mulai berburu informasi tentang permainan atau aneka game. Mulai dari baca-baca review, mencoba game-nya, melihat respon si kecil dan sebagainya. Hingga akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah game yang bernama Game Anak Sholeh.

Selain karena Game Anak Sholeh ini sesuai dengan kriteria yang aku inginkan, ada alasan-alasan lain juga yang membuatku makin mantap memilih game ini untuk si kecil untuk menstimulus karakter sholeh si kecil ?.

Pertama, Si Kecil Tertarik dan Suka.
Game Anak Sholeh yang memiliki tampilan yang asyik ini dengan gambar animasi yang lucu, sukses menarik perhatian si kecil. Begitu aku tunjukkan Game Anak Sholeh ini, si kecil langsung tertarik untuk memainkannya. Ia juga menunjukkan ekspresi senang atau suka saat memainkan Game Anak Sholeh ini.


Bagi aku, ketertarikan si kecil adalah poin penting. Karena dengan rasa tersebut, si kecil jadi antusias, dan mudah fokus. Terlebih lagi apabila rasa ketertarikan tersebut disertai dengan rasa suka. Maka menstimulus si kecil akan jadi lebih mudah. Dan insyaAllah tujuan menstimulus si kecil pun akan tercapai.

Kedua, Belajar Nilai-nilai Islam Menjadi lebih Asyik dan Seru
Di dalam Game Anak Sholeh, yang diproduksi oleh AGATE ini, terdapat aneka macam edukasi yang bernilai Islami yang dikemas dalam bentuk cerita-cerita menarik serta game-game mini.  

sahabatsholeh.com

Selain itu juga, memiliki konsep bermain sambil belajar. Terlebih lagi nih Mamis, di dalam Game Anak Sholeh ini ada game mini tentang aktivitas-aktivitas yang biasanya kita lakukan saat ramadhan. Jadi sesuai banget dengan kriteria yang aku buat serta cara yang biasanya aku lakukan untuk menstimulus kecerdasan majemuk si kecil yakni bermain sambil belajar.

Ketiga, Variatif.
Game Anak Sholeh ini memiliki banyak variasi, antara lain :
1. Ada quote-quote yang bersifat edukasi yang berbeda-beda dan menjadi pembuka aplikasi. 
Begini tampilan awal saat aku dan si kecil akan memainkan game ini
2. Ada cerita-cerita menarik dengan nilai-nilai islami.
3. Serta ada puluhan mini games yang atraktif serta memiliki nilai-nilai edukasi. Seperti berwudhu, surat pendek, shalat dan lain-lain. Lengkap deh.

Game mini yang dimainkan Ken 

Ada game ini juga lho
Dengan variasi yang banyak begini, maka si kecil jadi tidak cepat bosan. Daaannnnn, tentu saja aku jadi lebih mudah menstimulus si kecil. Alhamdulillah. Game-nya satu, manfaatnya buanyak. Ahay.

Keempat Aman untuk Si Kecil
Pernah menemukan hal ini Mamis ? Saat si kecil sedang asyik-asyik nge-game, eee muncul iklan yang maknyonyor banget alias iklan untuk usia dewasa. Duuhhh.

sahabatsholeh.com
Nah, kalau di game anak sholeh ini, nggak ada iklannya, tidak mengandung konten negatif bagi si kecil. Jadi dijamin aman.

Kelima, Sesuai Usia Si Kecil Ken
AGATE membuat Game Anak Sholeh ini untuk anak dengan rentang usia 4 sampai 10 tahun. Jadi bisa dibilang, Game Anak Sholeh ini dibuat dengan memperhatikan perkembangan anak pada usia tersebut.

Maka dari itu, tak heran kalau si kecil dapat dengan mudah memainkan game tersebut. Bonusnya, si kecil dapat dengan mudah juga memetik manfaat dari game yang ia mainkan. Seperti lebih kenal dengan huruf hijaiyah, tahu tata cara berwudhu, dan sebagainya.

Keenam, Meningkatkan Bonding dengan Si Kecil
Bonding antara orangtua dan anak merupakan hal yang penting. Dengan bonding yang kuat maka akan terjalin hubungan yang baik antara orangtua dan anak. 
Ken sdg memperhatikan cerita yang ada di Game Anak Sholeh
Membangun bonding - bermain bersama
Salah satu cara untuk membangun serta meningkatkan bonding antara kita dan anak kita nih Mamis adalah melalui aktifitas bermain bersama bukan ? ho oh. Nah alhamdulillah nih Mamis, kita bisa membangun dan meningkatkan bonding dengan anak melalui game ini. Karena apa ? Game Anak Sholeh ini didesain agar anak tidak asyik bermain game sendiri melainkan tetap memerlukan dampingan dari orangtua. Cihuy kan Mamis ? Yuhuuuu.

Nah itu tadi, alasan aku memilih Game Anak Sholeh sebagai Cara Seru untuk Menstimulus Karakter Sholeh Si Kecil. Harapanku nih Mamis, dengan ikhtiar seperti ini, benih-benih karakter sholeh si kecil dapat tumbuh subur sejak dini, dan apabila terus distimulus akan mengakar atau menjadi pondasi yang kokoh. Amin.

Mamis, sering terngiang diingatan kita bahwa Anak adalah amanah dari Allah Swt. Kita, sebagai orangtua, sebagai hamba yang dipilih dan dipercaya Allah Swt, sudah seharusnya menjaga amanahNya sebaik mungkin, semaksimal mungkin, senantiasa berikhtiar sambil berharap serta berdo'a agar Allah selalu membimbing kita. Amin. Sebab, tugas sebagai orangtua itu, tidak mudah, benar-benar tidak mudah.

Jadi, bagi kalian nih, Para Mama yang manis-manis alias Mamis, yang mencari game atau permainan untuk menstimulus karakter sholeh si kecil, silakan coba game ini deh Mamis. InsyaAllah membantu banget dalam menstimulus karakter sholeh si kecil sejak dini.

Untuk informasi lebih lanjut silakan berkunjung ke sini nih Mamis :
www.sahabatsholeh.com
Ig : @sahabatanaksholeh
Fp : Sahabat Anak Sholeh

***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Ramadhan

Pengalaman Pertama Bikin Donat Rasa Endolita Tekstur Sinyorita

Jadi, sejak Ken sekolah, aku mulai rajin lagi belajar masak. Tapi kali ini, yang aku pelajari, khusus bikin cemilan, jajanan buat bekal s...