Sudah Cukupkah Menstimulus Kreativitas Anak Hanya dengan Menunjukkan DIY Membuat Mainan Sendiri ?


Sudah Cukupkah Menstimulus Kreativitas Anak Hanya dengan Menunjukkan DIY Membuat Mainan Sendiri ?

Jujur, pertanyaan ini seringkali terngiang dipikiran aku. Sering banget ngerasa ada yang kurang, ada yang belum bener dari pola parenting yang aku terapkan ke si kecil ken. 

Cemas. 
Khawatir. 
Secara kalau salah dalam pola parenting dapat menimbulkan dampak negatif bagi masa depan. Terutama masa depan si kecil ken. Naudzubillah. 

Iya. Aku memang memasukkan karakter kreatif dalam pola parenting yang aku terapkan ke si kecil ken. Bagi aku, juga pak suami yang idem-idem aja, kreatif merupakan karakter yang perlu dimiliki oleh si kecil ken. Apalagi di zaman saat ini. Dimana kretivitas tengah menjadi sorotan. Bukan hanya dalam hal pekerjaan saja. Akan tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari yang tak lepas dari berbagai macam masalah. Dari yang sederhana hingga kompleks. Yang mana dibutuhkan kreativitas untuk menghadapi lalu mengatasi masalah-masalah tersebut. Jadi untuk mempersiapkan hal ini, maka aku pun bertekad untuk menstimulus daya kreativitas si kecil ken sejak ia usia dini. 

Cara aku menstimulus si kecil ken bisa dibilang sederhana koq. Beneran. Kamu juga pasti bisa bikinnya. Cuma gini aja, istiqomah mengenalkan dan nunjukkin aktivitas membuat aneka macam mainan. Bahan-bahan yang aku pakai pun mayoritas dari barang bekas atau bahan-bahan yang ada disekitarku saja. 
Stimulus ini sudah aku lakukan dari si kecil ken masih berusia 1 tahun lebih dikit. 
Lama yak ? 
Ho oh. Hampir 3 tahunan lah yah. Eh 4 tahun ding. Cuma yang 1 tahun belakangan ini aku sering absen stimulus kreativitas si kecil ken. Karena faktor SS. Sibuk sekolah *Alesyan 😉 

Nah dengan masa stimulus yang cukup lama itu, alhamdulillah, sudah menunjukkan hasil sih. Meskipun belum signifikan ya. Berupa apa ? Kalau si kecil ken lihat kardus, atau botol-botol atau barang bekas apalah, ia suka memanfaatkan barang-barang tersebut menjadi mainan. 

Beberapa ide mainan yang ia buat ada yang seperti mainan yang pernah aku bikinin buat dia. Tapi ada juga mainan yang idenya dari dia sendiri. 
Dah, gitu aja aku udah seneng banget loh. Bersyukur. Terutama bagian dimana ia nyantol dengan apa yang aku kenalkan atau apa yang aku ajarkan ke dia. 

Karena hasilnya belum signifikan dan masa-masa menumbuhkan karakter kreatif bocah masih panjang juga kan, insyaAllah amiin, jadi aku melanjutkan tekad untuk tetap menstimulus kreativitas si kecil ken. 
Bikin ayun ayunan dr ini

Namun belakangan ini aku ngerasa apa yang aku lakukan tersebut belum cukup untuk menumbuhkan karakter kreatif ke si kecil ken. Karena kreatif itu sendiri tidak sebatas menciptakan sesuatu sebagaimana makna kreativitas dalam kbbi. Akan tetapi kreativitas memiliki makna yang luas. 

Ide mainan dari bocah sendiri
Manfaatin payung yg udh rusak jd perahu2an

Dari data GCI tahun 2015, Global Creativity Index, mengumumkan bahwa Finlandia adalah salah satu negara yang memiliki tingkat kreativitas yang tinggi. Masuk 5 besar. Cihuy kan tu negara. Udah masuk kategori pendidikan terbaik sedunia versi PISA eee sekarang masuk kategori negara dengan kreativitas yang tinggi juga. Tapi kalau dilihat dari sistem pendidikan yang dianut di sana ya wajar sih. Sebagaimana pendapat Hebb, ahli neurologis, yang bilang bahwa lingkungan memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter anak. Semakin kompleks atau kaya lingkungan tersebut maka semakin banyak juga hal yang bisa dipelajari, pengalaman-pengalaman yang bisa diambil oleh anak. 

Seorang guru di salah satu sekolah di Finlandia, namanya Timothy, menjabarkan bagaimana pendidikan di sana berjalan lewat buku yang ia tulis yang judulnya Teach Like Finland. Dari penjabaran Timothy ada beberapa hal yang membuat aku tertarik dan (sepertinya) belum ada di sini. Seperti bermusyawarah. Musyawarah sungguhan loh yah. Bukan sebatas teori doank. Sebagaimana yang terjadi di sini. Jadi di sana, guru seringkali mengajak para siswa bermusyawarah. Tidak hanya soal pelajaran namun juga saat akan melakukan kegiatan camping atau mengadakan kunjungan ke lokasi tertentu dan sebagainya. Guru pun membebaskan siswa untuk mengeluarkan pendapat, mengutarakan rencana-rencana mereka terkait dengan kegiatan yang akan mereka lakukan dan solusi solusi yang mereka tawarkan. Hal ini secara tidak langsung menstimulus kreativitas siswa dalam hal menghadapi dan mencari solusi dari suatu masalah di dunia nyata. Asyik kan ? 

Nah ada lagi yang membuatku tertarik, yakni pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan di kelas oleh guru di Finlandia. Bukan lagi pertanyaan yang cuma terkait dengan pelajaran melainkan pertanyaan terkait dengan isu-isu yang tengah beredar baik isu di dalam negeri maupun di luar negeri. Seperti pertanyaan tentang bagaimana mengatasi pencemaran lingkungan ? Terus Bagaimana pendapatmu mengenai dunia pendidikan yang blablabla. Hal ini tentu menstimulus kreativitas mereka bukan ?

Dari buku yang aku baca itu, ada beberapa yang bisa aku tiru. Tapi nggak langsung niru plek ketiplek sih. Aku adaptasi dulu lah. Aku sesuaikan dengan tahapan perkembangan si kecil. Yaaaa....masa' masih bocah udah ditanyakan hal yang serius gitu. Nggak tho ? Mulai dari hal yang sederhana lah yah. Seperti apa ? 

Misalnya, membiarkan si kecil mengutarakan pendapatnya tentang mainan yang ingin ia beli, aktivitas yang ingin ia lakukan, atau baju hingga kaos kaki yang ingin ia pakai. Kalau anak cewek mungkin bisa dibebaskan untuk memilih mau pakai bandana atau dikuncir saja, mau pakai rok tutu atau baju princess saja, dan sebagainya. Kalau mereka masih bayi sih enak enak aja mau makek in ini itu seperti kaos kaki bayi atau bandana bayi. Nggak protes. Selama mereka nyaman makeknya. La kalau sekarang, udah balita gini, sudah lagi bukan soal kenyaman tapi lebih kepada sesuatu yang si kecil suka. Misal baju yang sering si kecil pilih adalah baju yang ada karakter tokoh kartun kesukaan. Jadi ya gitu. Si kecil bukan kertas kosong. Punya pilihan sendiri. 

Style kreasi dia sendiri.
Lengkap dg sandal jepit favorit.

Kemudian hormati apa yang si kecil pilih. Kalau akhirnya pilihan mereka kurang pas, mungkin kita bisa membicarakannya dengan si kecil. Mencari alasan yang bisa ia mengerti. 
Trus kalau nggak bisa dibicarain juga alias si kecil ngotot gitu gimana ? Ya udah jangan dipaksa suruh ganti juga. Mending kita nyiapin cara untuk mengatasi dampak dari kurang pasnya pilihan mereka. Ya nggak sih ? Intinya, usahakan aktivitas mendelik melotot ngomel ngomel sebagai opsi paling akhir saat menghadapi pilihan atau tingkah si kecil yang kurang pas menurut kita.

Selain membiarkan si kecil bebas menentukan pilihannya, mau pakai baju apa, mau main yang mana, mau belajar apa dulu nih, dan sebagainya. Aku juga suka menanyakan beberapa hal yang mudah-mudahan bisa menstimulus kreativitas si kecil dalam hal merangkai ide lalu mengutarakannya. Seperti saat momen naik kereta api dan beberapa kali si ken mendapati kereta menyalip mobil dengan mudahnya. Maka aku pun nanya begini : "Lebih cepat kereta apa mobil ? Kecepatannya kereta berapa ? Mobil berapa ? Bahan bakarnya apa ? Lebih cepat kereta apa roket ?", dan sebagainya. Tentu jawaban si keci ken jauh dari kata benar. Tapi unik jawabannya dan dilengkapi juga dengan alasan yang unik. Asli. Lucu banget mereka. Ide-idenya juga lucu bin original.



Jadi, Sudah Cukupkah Menstimulus Kreativitas Anak Hanya dengan Menunjukkan Aktivitas DIY Membuat Mainan Sendiri ? Jawabanku adalah belum. BELUM CUKUP. Karena kreativitas itu luas boooooo'. So perlu dikembangkan lagi nih cara menstimulus kreativitas si kecil. Sesuaikan dengan perkembangan si kecil. Nah agar bisa melakukan ini, maka mamak harus semangat belajar, update pengetahuan, juga berusaha menstimulus diri sendiri untuk lebih kreatif lagi. Yoyoyow semangat emaks. Kamu juga yak. 

10 comments:

  1. Mak Ken yang rajin dan kreatif aja masih bilang belum cukup apalgi daku yang minim kreasi nih mak Ken susah anet mau kasih stimulusnya buat Neyna hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ah teh bella. Udh kece bgd koq. Aku mlh blm praktekin yg kyk dikau terapin ke neyna... hiks. Mdh2an bs segera ngelaksanain deh secara bocah msih suka kayal2... doain ya teh bella 😊

      Delete
  2. Saya ingat mba Inda sering share ttg DIY mainan anak, wah inspiratif sekali. Tapi memang bukan cuma itu ya mba cara menstimulus anak.
    Saya lagi nebak-nebak apa ya yang dijawab Ken pas ditanya "Lebih cepat kereta apa mobil ?" biasanya jawaban anak-anak lucu-lucu :)

    ReplyDelete
  3. Sukaaaak tulisan ini. Bakalan sering kubaca buat pengingat. Makasih sharingnya mbak :)

    ReplyDelete
  4. Stimulus menggunakan DIY memang hanya salah satu cara saja ya, mba. Masih banyak yang bisa kita lakukan untuk perkembangan anak. Tapi aku tuh nggak jago DIY, mba. Biasanya anakku yang bikin sendiri, mba

    ReplyDelete
  5. wah bisabelajar banyak nich berkat ulasan ini untuk anak

    ReplyDelete
  6. Saya juga pernah dengar ceramah ustad khalid mba, memang anak-anak harus diasah sesuai umur dan gendernya. Misal kalau anak laki laki harus diajak dalam memutuskan hal hal dalam rumah. Misal mau pindah rumah, anak laki2 ditanya keputusannya. Itu bakalan ngasah jiwanya sebagai pemimpin. Makasih sharingnya mba, nambah ilmu saya. Kreatif banget bebikinan ini itu untuk anak :D

    ReplyDelete
  7. Mba indaa.... iya bener membangun kreativitas tak hanya dengan diy ya. Tapi menurut saya DIY pun sudah banyak banget memberi manfaat. Apalagi kalau dipadukan dengan permainan karakter.. dannn bahkan Mba Inda udah keren banget konsisten nemani ken bikin DIY. Jadi bisa masuk step berikutnya. Sedang saya. Hiksss. Masih mengumpul nyawa buat nemani anak2 bikin DIY. Secara 3 Balita...:-) hup huppp. Harus lebih semangat

    ReplyDelete
  8. Dulu saya suka ajak anak-anak bikin berbagai kreasi yang menyenangkan :)

    ReplyDelete
  9. Saya juga setuju kalo dengan mengajarkan aktifitas DIY membuat mainan sendiri belum cukup untuk membentuk pola pikir anak jadi kreatif. Butuh banyak stimulasi lain sesuai dengan perkembangan anak. PR banget buat Saya nih ��

    ReplyDelete

Biji bunga matahari namanya kuaci
Kupas kulitnya pakai gigi
Eee para pengunjung yang baik hati
Yuk tinggalkan komentar sebelum pergi.

Buah Pir Buah Naga
Jangan khawatir, aku akan mengunjungimu juga. :)

Facebook  Twitter  Google+ Yahoo

Follow by Email

Keluarga Harmonis : Kolaborasi Antara Istri dan Resik V Manjakani Whitening Untuk Suami Terkasih

Adakah yang bertujuan menikah untuk kemudian bercerai ? Aku rasa, setiap pasangan menikah, pasti mengharap untuk menjadi keluarga yang h...