Seharusnya, Seorang Ibu Percaya dengan Kemampuan Anaknya

 

Sejak Mei lalu si ken sudah mulai sekolah. Alhamdulillah, sejauh ini lancar jaya. Bahkan bisa dibilang nyaris tanpa drama. Aku bersyukur banget. 

Padahal, sebelum-sebelum si ken mulai sekolah, pikiranku sudah macem-macem gitu. Dan berikut isi pikiran macem-macem aku tentang si ken yang sekolah : 
1. Aku takut si ken nggak betah di sekolah. Karena, biasanya, kalau belajar di rumah, pakai metode bermain sambil belajar yang tentunya lebih banyak porsi waktu buat mainnya daripada belajar. Sementara di sekolah, lebih banyak porsi belajarnya daripada bermain. 
2. Khawatir si ken nggak bisa ngikutin eh lebih tepatnya tidak mau mengikuti kegiatan di sekolah. Secara, kalau di rumah, si ken bebas memilih mau belajar apa. 
3. Takut si ken nggak berani menyampaikan apa yang dia inginkan kepada orang yang baru ia kenal. Dalam hal ini, temannya atau bahkan ke gurunya. Misalnya, nggak bilang kalau dia lapar, nggak bilang kalau dia ingin pipis, nggak bilang kalau dia nggak bisa, dia nggak mau dan sebagainya. 
4. Khawatir si ken nggak bisa berbaur karena si ken masih kurang dalam hal linguistik. 

Itulah daftar kekhawatiranku kepada si ken yang mau sekolah. Hal ini berhasil bikin aku baper sendiri bin mumet dewe. Aku juga dilanda yang namanya deg-degan tingkat dewa. Bolak balik ke sekolah, udah kayak ingus diidung, waea wiri rumah sekolah bocah, selama beberapa hari, cuma buat ngelihatin si ken, yang nyatanya.....
baik baik saja. 

Sebenarnya, dari hari pertama sekolah, si ken sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa apa yang aku pikirkan, aku khawatirkan tentangnya itu salah. Soalnya, waktu pertama sekolah, si ken sudah tidak memintaku menunggunya. Aku malah disuruh pulang. Dan saat tiba waktu pulang, si ken malah tidak mau pulang langsung. Ia minta izin buat main di arena bermain yang ada di sekolahnya dengan ibu gurunya lalu kemudian bilang ke aku. 

Namun, entah gimana aku nggak peka dengan tanda tersebut. Mungkin, aku, saking dikuasai rasa kekhawatiran kali ya, jadi bikin aku mehong gitu. *payah dah. 

Hari keempat, alhamdulillah akhirnya aku bisa ngobrol dengan Ibu guru kelas Ken dan menanyakan seperti apa si ken di kelas. 

Kata bu guru :
"Ken bisa mengikuti kegiatan di kelas dengan baik". 
 
"Kadang jalan-jalan di kelas, atau berdiri-diri di kursi, tapi bisa diberitahu".

"Kalau lapar, ingin buang air kecil, bahkan ingin main, tidak mau mengikuti kegiatan di kelas, tidak bisa melakukan sesuatu, Ken selalu bilang". 

Aku senang dengan apa yang diinformasikan oleh Ibu guru kelasnya Ken. Namun yang paling aku suka dan cukup kaget juga, waktu Ibu guru mengatakan soal si ken yang selalu bilang apa yang ia inginkan. Nggak nyangka si ken bakal seekspresif, nggak malu-malu dan seberani itu dengan orang yang baru dikenalnya. Nggak nyangka si ken bakal setangguh itu. *aku terharu.

Memang sih, di rumah, aku dan suami membiasakan si ken untuk bebas mengungkapkan keinginannya, pendapatnya dan apa yang ia rasakan. Tapi nggak nyangka, si ken bakal menerapkan hal ini dengan orang yang baru ia kenal bahkan sebelum aku bilangin terlebih dahulu. 

Sejak pertemuanku dengan Ibu guru, rasa kekhawatiranku akan si ken yang sekolah pun berkurang drastis. Lebih tepatnya, berusaha untuk mengerem rasa khawatir aku yang tumpeh-tumpeh ini sembari mencoba untuk percaya akan kemampuan si kecil ken. 

Koq nggak dari dulu-dulu Mak ? Kan nggak perlu bolak balik rumah sekolah si ken kayak setrika an *hahay. 

Buat bocah. 

Maafin mamakmu yang lebay mode on yak. Peace love and gaul. 😄

Cara Mengetahui Kesiapan Anak Menulis dan Membaca dari Gambar

Tahukah Kamu, Mam. Bahwa kesiapan anak menulis dan membaca dapat dilihat dari gambar yang si kecil buat ? Nggak tahu, soal ini, aku ma...