Friday, July 18, 2014

Hakim, Sahabat Para Buruh








Aku dulu punya teman. Bukan teman sepermainan lo ya, tapi seperjuangan (MERDEKA!!!). Bedanya dia aktif, aku pasif alias melempem, lama-kelamaan mundur teratur, menghilang dari yang namanya memperjuangkan hak-hak buruh (tak patuuutttt..#godek-godek).
Hakim (baju merah) n friend



Namanya Hakim. Semasa kuliah, aktif di BEM juga SPM (Serikat Perjuangan Mahasiswa). Menjelang lulus ia berkecimpung di SPBI, solidaritas perjuangan buruh indonesia. Tak hanya memberikan pendidikan seputar undang-undang tenaga kerja, hak-hak serta kewajiban para buruh, ia juga merangkap sebagai tim advokasi buruh. Jadi jika ada buruh yang terampas haknya, maka hakimlah yang maju. Maju? Maksud eke hakim yang akan memperjuangkannya. Tak jarang, jika para buruh berdemo, ia turut serta, dari mulai membawa spanduk, jadi seksi dokumentasi dan ikut berorasi. Orator adalah keahliannya. Ia ahli membakar semangat para buruh untuk tetap berdemo meskipun panas menerjang, aparat menghadang dan perut keroncongan. Semua hal itu ia lakukan murni karena kesadaran diri juga free, tanpa bayaran.
Me : “masa’ sampean nggak dibayar pak hakim?” tanyaku pada pak hakim. O ya aku sengaja menemuinya di tempat ngopi kesukaannya. Ya biar bisa wawancara, foto bersama, trus ikut GA emak winda (emak gaoel).

He :“mau dibayar pakek apa?La wong iuran arek-arek pabrik Cuma cukup dipakek operasional kantor SPBI, seperti nyicil bayar kontrakan buat kantor, beli kertas plus tinta untuk kebutuhan ngeprint surat-surat, bayar listrik, PDAM, konsumsi kalau-kalau ada rapat, sudah cuma itu saja, ndak ada lebihnya, malah kadang duit dikatong ikut katut (terpakai). Aku ndak mengharap bayaranm yang penting organisasi jalan plus arek-arek solid. Aku masih bisa berburu rejeki sendiri. Rejeki ngulang (mengajar) alhamdulillah isok nyukupi aku dan keluargaku”. jawabnya puanjaaaangggg sekali. Ia menghisap rokonya dalam-dalam. Lalu..buuullll.

Me :“programnya sekarang apa saja pak hakim?masih seperti dulu kah?”

He :“Masih sama, itu saja susah untuk betul betul dijalankan”
Me :“............” alisku mengkerut
He :“arek-arek buruh lagi indehoy, ndak ada kasus, kalau sudah begini mereka   lupa dengan organisasi”
Me :“koq gitu ya, habis manis sepah dibuang”
He : “ndak ada sepahnya, mereka minum sama sepah-sepahnya, jadi ya ndak inget blas, diundang rapat/pendidikan alasannya ini itu”
Me :“diwajibkan ikut semua kegiatan saja, sebagai syarat jadi anggota SPBI??” usulku.
He : “ya kabur semua”jawabnya seraya tersenyum garing.
Me :“La trus gimana??”
He : “ya nggak gimana-gimana, aku ndak mau maksa mereka,yang mau ikut pendidikan monggo, yang ndak mau ikut ya aku rapopo” jawabnya santai. Ia menyeruput kopinya. Slruppp.

Hakim (Kaos biru), Narasumber Pendidikan Buruh di Wonosalam



Latihan Demo


He : “organisasi itu ibarat seni, seni mengorganisir orang yang memiliki karakter berbeda, yang satu suka begitu, eee yang situ suka begini, yang ini mau yang itu, yang itu mau yang ini, yang bisa menyatukan mereka hanya satu, apa cobak??”.

Ditanya begitu aku langsung nyengir, lalu mules.

Me :“kasus?” tebakku
He  : “deng dong...belum tepat, kesadaran diri, itu paling utama, sadar bahwa ikut organisasi itu penting, bahwa mengerti hak serta kewajiban itu adalah hal dasar yang harus diketahui buruh, bahwa melatih otak dengan mengikuti pendidikan itu juga penting, jika itu sudah berjalan, maka mereka akan menjadi ‘bukan buruh biasa’, bukan buruh yang dicocok idungnya manut saja”
Me :“emmmm selain ngasih pendidikan trus sekarang di bulan puasa ini kegiatan bapak apa lagi?”
He  : “apa yaaaa???..o itu, mendaftarkan anggota baru spbi ke personalia pabrik juga disnaker, lumayan, anggota spbi yang bekerja di pabrik sepatu jadi bertambah 100 orang”
Me :“o ya ya”aku manggut-manggut.

With Ketua SPBI Pabrik Sepatu, bahas pendaftaran anggota baru


He : “tidak ingin ke SPBI lagi?”
Me :“siapa pak?”
He : “ya kamu lah, masa’ tembok”

Dieng..aku nyengir lagi. Sampai kering ni gigi.

Me :“ooo tidak, saya support aja”
He  : “ooo gitu”
Me :“iya”
....................Ngiiingggg...ngiiiingggg......ngiiiinngggg.............
Nyamuk lewat
He : “sudah ah ma, kopi, rokok, udah habis nih”
Me :“yaaaaaa..belum selesai yah, aku bikinin kopi lagi ya”
He  : “ndak usah, aku bisa kembung nanti kebanyakan kopi”

Aku nyengir lagi. Gusi ikutan garing.

Me :“ya udah kalau gitu, selfiee duluuuuu”

CEKLIK
Taraaaaa

Hakim dan Saya...#pose bunga mawar merekah


Pak hakim adalah suami saya, dan ayah dari ken.
We (aku n ken) proud of you, meskipun ayah tak banyak doku, melainkan cukup berdoku, yang penting hati ayah selembut salju...#ahayyy..Asegasegjos.
The End

2 comments:

  1. Assalamu'alaikum...
    Terima kasih sudah berbagi cerita inspiratif ini, ya!
    Good luck! ^_^
    Emak Gaoel

    ReplyDelete
  2. pantang pulang sebelum tumbang,,,,karena mundur adalah penghianatan..

    ReplyDelete

Biji bunga matahari namanya kuaci
Kupas kulitnya pakai gigi
Eee para pengunjung yang baik hati
Yuk tinggalkan komentar sebelum pergi.

Buah Pir Buah Naga
Jangan khawatir, aku akan mengunjungimu juga. :)