Rasa yang Tertinggal di Ninjo Haji 2026 Jembrana
Kesalahan Saat Memasak Nasi di Rice Cooker
Mombeb,
kapan pertama kali kamu memasak nasi di rice cooker? Kalau aku, pas kuliah,
sih. Kebetulan teman-teman 1 kontrakan banyak yang bisa masak kecuali aku.
Walhasil mau nggak mau aku jadi belajar masak juga.
Masih
lekat di ingatan momen saat awal-awal aku dapat giliran piket masak nasi pakai
rice cooker. Waktu itu, berkali-kali, aku tanya teman-teman. Mulai dari
banyaknya beras yang akan dimasak, mencuci beras, takaran air, hingga hal yang
dilakukan saat nasi sudah matang.
Berkat
kesabaran temen-temen mendampingi dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku,
Alhamdulillah aku langsung bisa memasak nasi.
Nah,
berdasarkan pengalamanku, ada beberapa kesalahan saat memasak nasi pakai rice
cooker. Apa saja? Nih, aku jentrengin di bawah yak.
- Salah takaran air
Ini
adalah kesalahan yang cukup sering aku lakukan saat memasak nasi menggunakan
alat penanak nasi. Waktu itu, untuk menentukan banyaknya air, aku menggunakan
ruas jari. Cara ini sesuai dengan petunjuk teman-teman. Katanya, airnya satu
ruas jari saja tepat di atas permukaan beras.
Beberapa
menit berlalu. Lampu yang berada di posisi cooking berpindah ke posisi warming
yang berarti nasi sudah matang. Saat itu, aku bergegas cek hasil masak nasiku.
Penasaran. Berhasil ataukah tidak.
Rupanya,
belum berhasil. Nasinya terlalu berair dan tidak pulen tentu saja. Aku heran,
padahal aku sudah mengikuti instruksi teman-teman, namun hasilnya tak sesuai
keinginan. Nahloh nahloh, kira-kira salahnya dimana ya? Apa yang salah ya?
Hhmmm...
"Eh
ngomong-ngomong jari mana yang kamu gunakan untuk mengukur air buat masak
nasi?" Celetuk salah satu temanku.
"Jari
jempol" jawabku.
"Ya
pantes. Pakai jari telunjuk mah yang pas itu" ujarnya seraya menepuk
jidat.
"La
tadi pada bilang ruas jari doang" kataku.
"Oh iya" balas temanku yang ngasih tahu.
Aku nyengir. Teman-temanku juga nyengir. Kami nyengir bersama.
Untungnya,
meskipun berair, nasinya masih enak dikonsumsi. Selamat selamattt....
Belakangan, aku menyadari bahwa tidak hanya takaran air yang pas dengan banyaknya beras dapat mempengaruhi tekstur nasi, melainkan juga sifat beras itu sendiri. Karena ada tipe beras yang doyan air jadi memerlukan air yang sedikit lebih banyak dari ketentuan takaran pada umumnya untuk mendapatkan tekstur nasi pulen, dan ada tipe beras yang nggak doyan air.
- Nasi tidak matang merata
Kesalahan
kedua saat aku masak nasi menggunakan rice cooker yakni ada nasi yang belum
matang. Jadi nasi di bagian bawah lebih pulen sedangkan nasi di bagian
permukaan kurang matang. Kata temanku, seharusnya, setelah memasukkan air ke
dalam panci wadah untuk memasak nasi, aku harus memastikan tinggi permukaan
beras sama rata. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Aku
manggut-manggut tanda paham. Tidak ku sangka, hal sesederhana itu yakni
memastikan tinggi permukaan beras sudah sama rata ataukah belum di panci rice
cooker, bisa mempengaruhi kematangan nasi.
- Nasi cepat basi
Menjelang
lulus kuliah, aku semakin mahir memasak nasi. Tapi belakangan, nasi yang
dimasak di penanak nasi jadi lumayan sering basi. Ini tidak hanya terjadi saat
giliranku memasak nasi. Beberapa temanku juga mengalami hal yang sama.
Kami
melakukan refleksi. Mungkin cara kami ada yang salah. Tapi kami yakin nggak ada
yang salah, koq. Cara kami memasak nasi di rice cooker sudah sama seperti
sebelum-sebelumnya dan hasilnya pun enak, pulen, dan tidak cepat basi.
Akhir-akhir ini saja, nasi di penanak lebih cepat basi. Biasanya mah awet nggak
basi blas. Jangan-jangan karena sudah mau rusak. Padahal baru dipakai, belum satu
tahunan deh.
Kami
tidak bisa menemukan penyebab pasti nasi di rice cooker yang kami gunakan jadi
cepat basi. Ini masih menjadi misteri sampai kami lulus
kuliah. Namun sepertinya dugaan kami benar. Sebab tak lama setelah kami
lulus, penanak nasi yang biasa kami gunakan tidak bisa berfungsi seperti sedia
kala.
Mombeb,
setelah aku menjadi ibu, aku menggunakan Rice Cooker MIYAKO, kesayangan Nikita Willy . Karena
apa?
Merk
rice cooker yang aku gunakan ini sudah terbukti tahan lama dan harga yang ramah
banget di kantong. Ditambah lagi, saat ini, sudah dilengkapi dengan teknologi
Nanoal yang dapat membantu panas menyebar lebih merata sehingga nasi matang
dengan sempurna dan tak mudah basi lebih lama. Nah dengan kemampuan seperti ini
maka bisa dibilang rice cooker yang aku pakai ini dapat meminimalisir
terjadinya kesalahan saat memasak nasi seperti nasi cepat basi, tekstur nasi
yang berbeda, hingga nasi yang berair.
Kemampuan
lain yang tak kalah hebat yakni teknologi Nanoal ini diklaim anti lengket
10x lebih tahan lama dibandingkan lapisan anti lengket konvensional. Dengan
kemampuan seperti ini maka bisa dibilang tidak akan mudah terkelupas.
Mombeb, aku senang sekali karena sudah membuat keputusan yang tepat yakni memilih menggunakan rice cooker favorit mamanya isa dan dudung ini. Karena apa? Sejauh ini begitu banyak hal positif atau manfaat yang aku dapatkan menggunakan produk ini. Selain karena memang awet dan tahan lama dari generasi ke generasi, harganya juga affordable. Manteb banget dah ah. Oleh sebab itu, aku selalu menyarankan keluargaku dan orang-orang terdekatku, termasuk kamu, untuk menggunakan penanak nasi merk ini juga. Agar makin banyak orang yang dapat merasakan manfaat rice cooker berteknologi Nanoal ini, insyaallah.
Mombeb, sekian dulu cerita kali ini yak.
Nanti jumpa lagi kita
Dadaaaaaa
Jalan Terjal Mendirikan Lembaga Pendidikan
Dear, Mombeb
Jauh hari aku memang bermimpi memiliki sebuah lembaga pendidikan. Mimpi ini bukan muncul sekonyong-konyong gitu. Ada beberapa momen yang melatarbelakangi mimpi ku itu. Salah satunya karena keprihatinanku akan beberapa lembaga pendidikan yang pernah aku temui, yang mana menurutku, tak serius mendidik anak-anak generasi penerus bangsa. Jadi niatku mendirikan lembaga pendidikan yakni ingin memberikan ikhtiar maksimal untuk mendidik anak-anak generasi penerus bangsa. Aku merasa jika anak-anak mendapatkan stimulasi atau didikan terbaik, inshaallah, mereka pun akan tumbuh menjadi generasi yang luar biasa.
Gayung bersambut, suami pun sepakat dengan mimpiku dan ya, akhirnya kami memiliki mimpi yang sama. Setiap kali kami membahas soal mimpi mendirikan lembaga pendidikan, rasa antusias seakan tumpah ruah. Namun belakangan, aku baru menyadari, ada bahasan yang terlewat yakni soal biaya mendirikan lembaga pendidikan.
Tak murah, sungguh tak murah mendirikan lembaga pendidikan. Jika aku ingat-ingat, mulai dari mengurus izin yayasan hingga izin operasional sekolah keluar, kami sudah mengeluarkan uang lebih dari 100 juta an. Tabungan terkuras dengan sempurna termasuk tabungan pendidikan anak-anak. Belakangan, di lubuk hati yang terdalam, aku berharap Allah ngasih rejekiku dan suami lebih banyak dari biasanya agar bisa membiayai lembaga pendidikanku apalagi saat ini jumlah siswa yang tidak mampu di sekolahku makin bertambah saja.
Mombeb, jalan terjal tersebut tidak hanya berkaitan dengan biaya namun ada hal lainnya yakni kehadiran oknum-oknum pemilik lembaga pendidikan lainnya yang menganggap lembaga pendidikanku ini sebagai ancaman. Oknum ini menggunakan cara-cara dzalim seperti menyebarkan fitnah, melarang orang-orang mendukung lembaga pendidikanku dan sebagainya.
Hal lain yang juga luput dari bahasan kami yakni mengenai masih minimnya kesadaran warga sekitar akan pentingnya memberikan pendidkan untuk anak, terutama anak usia dini. Semula, aku pikir, banyak anak-anak yang tidak menempuh pendidikan anak usia dini dikarenakan terkendala biaya. Namun ternyata aku salah. Tawaran sekolah gratis di lembaga pendidikanku ditolak mentah-mentah oleh mereka.
Hhhhh....
Jujur, kadang rasanya lelah, amat lelah. Karena tidak hanya itu saja alias masih banyak rintangan yang datang berbarengan dan sampai saat ini aku belum menemukan solusi atau cara mengatasi rintangan tersebut. Mbok ya satu-satu gitu datangnya, hahayyy.
Tapi tenang, lelahku ini hanya bersifat sementara saja. Begitu bertemu dengan anak-anak, biasanya, rasa lelah menjadi hilang entah kemana.
Mombeb, doain aku bisa melewati jalan terjal mendirikan lembaga pendidikan ini ya. Doa dari kamu, Mombeb, tentu sangat berarti buat aku.
Postingan Populer
-
Idul Adha. Daging dimana-mana. Bingung mau dimasak apa. Akhirnya dibikin bakso saja. Yup, meluncurlah kami, daku dan suami, ke pasar, buka...
-
Satu atau dua hari sebelum lebaran biasanya para ibu rumah tangga, seperti kita-kita nih, sudah mulai mempersiapkan beraneka macam hidangan...
-
Sore itu, beberapa jam sebelum tiba masa aku melahirkan, aku masih jalan-jalan naik motor. Bersama dengan anakku, ken, juga suami. Di teng...
-
Hai Mam, Kamu, apa kabarnya nih ? Aku doain semoga energi positif melingkupimu amiin. Berasa kayak Roy Kiyoshi ni eikeh. wkwkwk. ...
-
Hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Bulan Ramadhan selalu jatuh di musim kemarau. Dimana matahari benderang sepanjang haru. Hawa pan...






