Kesalahan Saat Memasak Nasi di Rice Cooker

Mombeb, kapan pertama kali kamu memasak nasi di rice cooker? Kalau aku, pas kuliah, sih. Kebetulan teman-teman 1 kontrakan banyak yang bisa masak kecuali aku. Walhasil mau nggak mau aku jadi belajar masak juga. 

 

Masih lekat di ingatan momen saat awal-awal aku dapat giliran piket masak nasi pakai rice cooker. Waktu itu, berkali-kali, aku tanya teman-teman. Mulai dari banyaknya beras yang akan dimasak, mencuci beras, takaran air, hingga hal yang dilakukan saat nasi sudah matang. 

 

Berkat kesabaran temen-temen mendampingi dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku, Alhamdulillah aku langsung bisa memasak nasi.

 

Nah, berdasarkan pengalamanku, ada beberapa kesalahan saat memasak nasi pakai rice cooker. Apa saja? Nih, aku jentrengin di bawah yak. 

 

  1. Salah takaran air


Ini adalah kesalahan yang cukup sering aku lakukan saat memasak nasi menggunakan alat penanak nasi. Waktu itu, untuk menentukan banyaknya air, aku menggunakan ruas jari. Cara ini sesuai dengan petunjuk teman-teman. Katanya, airnya satu ruas jari saja tepat di atas permukaan beras. 

 

Beberapa menit berlalu. Lampu yang berada di posisi cooking berpindah ke posisi warming yang berarti nasi sudah matang. Saat itu, aku bergegas cek hasil masak nasiku. Penasaran. Berhasil ataukah tidak. 

 

Rupanya, belum berhasil. Nasinya terlalu berair dan tidak pulen tentu saja. Aku heran, padahal aku sudah mengikuti instruksi teman-teman, namun hasilnya tak sesuai keinginan. Nahloh nahloh, kira-kira salahnya dimana ya? Apa yang salah ya? Hhmmm...

 

"Eh ngomong-ngomong jari mana yang kamu gunakan untuk mengukur air buat masak nasi?" Celetuk salah satu temanku. 

"Jari jempol" jawabku. 

"Ya pantes. Pakai jari telunjuk mah yang pas itu" ujarnya seraya menepuk jidat. 

"La tadi pada bilang ruas jari doang" kataku.

"Oh iya" balas temanku yang ngasih tahu. 

Aku nyengir. Teman-temanku juga nyengir. Kami nyengir bersama.

Untungnya, meskipun berair, nasinya masih enak dikonsumsi. Selamat selamattt....

Belakangan, aku menyadari bahwa tidak hanya takaran air yang pas dengan banyaknya beras dapat mempengaruhi tekstur nasi, melainkan juga sifat beras itu sendiri. Karena ada tipe beras yang doyan air jadi memerlukan air yang sedikit lebih banyak dari ketentuan takaran pada umumnya untuk mendapatkan tekstur nasi pulen, dan ada tipe beras yang nggak doyan air.

 

  1. Nasi tidak matang merata

 

Kesalahan kedua saat aku masak nasi menggunakan rice cooker yakni ada nasi yang belum matang. Jadi nasi di bagian bawah lebih pulen sedangkan nasi di bagian permukaan kurang matang. Kata temanku, seharusnya, setelah memasukkan air ke dalam panci wadah untuk memasak nasi, aku harus memastikan tinggi permukaan beras sama rata. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. 

 

Aku manggut-manggut tanda paham. Tidak ku sangka, hal sesederhana itu yakni memastikan tinggi permukaan beras sudah sama rata ataukah belum di panci rice cooker, bisa mempengaruhi kematangan nasi. 

 

  1. Nasi cepat basi

Menjelang lulus kuliah, aku semakin mahir memasak nasi. Tapi belakangan, nasi yang dimasak di penanak nasi jadi lumayan sering basi. Ini tidak hanya terjadi saat giliranku memasak nasi. Beberapa temanku juga mengalami hal yang sama. 

 

Kami melakukan refleksi. Mungkin cara kami ada yang salah. Tapi kami yakin nggak ada yang salah, koq. Cara kami memasak nasi di rice cooker sudah sama seperti sebelum-sebelumnya dan hasilnya pun enak, pulen, dan tidak cepat basi. Akhir-akhir ini saja, nasi di penanak lebih cepat basi. Biasanya mah awet nggak basi blas. Jangan-jangan karena sudah mau rusak. Padahal baru dipakai, belum satu tahunan deh.

 

Kami tidak bisa menemukan penyebab pasti nasi di rice cooker yang kami gunakan jadi cepat basi.  Ini masih menjadi misteri sampai kami lulus kuliah. Namun sepertinya dugaan kami benar. Sebab tak lama setelah kami lulus, penanak nasi yang biasa kami gunakan tidak bisa berfungsi seperti sedia kala.




Mombeb, setelah aku menjadi ibu, aku menggunakan Rice Cooker MIYAKO, kesayangan Nikita Willy . Karena apa? 

 

Merk rice cooker yang aku gunakan ini sudah terbukti tahan lama dan harga yang ramah banget di kantong. Ditambah lagi, saat ini, sudah dilengkapi dengan teknologi Nanoal yang dapat membantu panas menyebar lebih merata sehingga nasi matang dengan sempurna dan tak mudah basi lebih lama. Nah dengan kemampuan seperti ini maka bisa dibilang rice cooker yang aku pakai ini dapat meminimalisir terjadinya kesalahan saat memasak nasi seperti nasi cepat basi, tekstur nasi yang berbeda, hingga nasi yang berair. 

 

Kemampuan lain yang tak kalah hebat yakni  teknologi Nanoal ini diklaim anti lengket 10x lebih tahan lama dibandingkan lapisan anti lengket konvensional. Dengan kemampuan seperti ini maka bisa dibilang tidak akan mudah terkelupas.




Mombeb, aku senang sekali karena sudah membuat keputusan yang tepat yakni memilih menggunakan rice cooker favorit mamanya isa dan dudung ini. Karena apa? Sejauh ini begitu banyak hal positif atau manfaat yang aku dapatkan menggunakan produk ini. Selain karena memang awet dan tahan lama dari generasi ke generasi, harganya juga affordable. Manteb banget dah ah. Oleh sebab itu, aku selalu menyarankan keluargaku dan orang-orang terdekatku, termasuk kamu, untuk menggunakan penanak nasi merk ini juga. Agar makin banyak orang yang dapat merasakan manfaat rice cooker berteknologi Nanoal ini, insyaallah. 

Mombeb, sekian dulu cerita kali ini yak.

Nanti jumpa lagi kita

Dadaaaaaa


Jalan Terjal Mendirikan Lembaga Pendidikan

Dear, Mombeb 



Jauh hari aku memang bermimpi memiliki sebuah lembaga pendidikan. Mimpi ini bukan muncul sekonyong-konyong gitu. Ada beberapa momen yang melatarbelakangi mimpi ku itu. Salah satunya karena keprihatinanku akan beberapa lembaga pendidikan yang pernah aku temui, yang mana menurutku, tak serius mendidik anak-anak generasi penerus bangsa. Jadi niatku mendirikan lembaga pendidikan yakni ingin memberikan ikhtiar maksimal untuk mendidik anak-anak generasi penerus bangsa. Aku merasa jika anak-anak mendapatkan stimulasi atau didikan terbaik, inshaallah, mereka pun akan tumbuh menjadi generasi yang luar biasa. 

Gayung bersambut, suami pun sepakat dengan mimpiku dan ya, akhirnya kami memiliki mimpi yang sama. Setiap kali kami membahas soal mimpi mendirikan lembaga pendidikan, rasa antusias seakan tumpah ruah. Namun belakangan, aku baru menyadari, ada bahasan yang terlewat yakni soal biaya mendirikan lembaga pendidikan.

Tak murah, sungguh tak murah mendirikan lembaga pendidikan. Jika aku ingat-ingat, mulai dari mengurus izin yayasan hingga izin operasional sekolah keluar, kami sudah mengeluarkan uang lebih dari 100 juta an. Tabungan terkuras dengan sempurna termasuk tabungan pendidikan anak-anak. Belakangan, di lubuk hati yang terdalam, aku berharap Allah ngasih rejekiku dan suami lebih banyak dari biasanya agar bisa membiayai lembaga pendidikanku apalagi saat ini jumlah siswa yang tidak mampu di sekolahku makin bertambah saja. 

Mombeb, jalan terjal tersebut tidak hanya berkaitan dengan biaya namun ada hal lainnya yakni kehadiran oknum-oknum pemilik lembaga pendidikan lainnya yang menganggap lembaga pendidikanku ini sebagai ancaman. Oknum ini menggunakan cara-cara dzalim seperti menyebarkan fitnah, melarang orang-orang mendukung lembaga pendidikanku dan sebagainya.

Hal lain yang juga luput dari bahasan kami yakni mengenai masih minimnya kesadaran warga sekitar akan pentingnya memberikan pendidkan untuk anak, terutama anak usia dini. Semula, aku pikir, banyak anak-anak yang tidak menempuh pendidikan anak usia dini dikarenakan terkendala biaya. Namun ternyata aku salah. Tawaran sekolah gratis di lembaga pendidikanku ditolak mentah-mentah oleh mereka. 

Hhhhh....

Jujur, kadang rasanya lelah, amat lelah. Karena tidak hanya itu saja alias masih banyak rintangan yang datang berbarengan dan sampai saat ini aku belum menemukan solusi atau cara mengatasi rintangan tersebut. Mbok ya satu-satu gitu datangnya, hahayyy.

Tapi tenang, lelahku ini hanya bersifat sementara saja. Begitu bertemu dengan anak-anak, biasanya, rasa lelah menjadi hilang entah kemana.

Mombeb, doain aku bisa melewati jalan terjal mendirikan lembaga pendidikan ini ya. Doa dari kamu, Mombeb, tentu sangat berarti buat aku. 

 

Cara Mencari Biaya Pendidikan untuk Anak Yatim Piatu dan Tidak Mampu

 Assalamu'alaikum, dear, Mombeb.

Apa kabar? Semoga Mombeb dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT., aamiin ya rabbal'alamiin.

Mombeb, beberapa waktu lalu aku pernah bikin post tentang keinginanku untuk mencari biaya sekolah bagi anak anak yatim piatu dan tidak mampu serta tambahan untuk biaya operasional sekolah. Alhamdulillah, aku sudah nemu satu cara yakni jualan produk digital selain itu juga aku menjual berbagai media belajar yang dipakai di sekolah. 

Nah produk-produk yang aku jual ini nantinya akan aku pasarkan di e-commerce dan blog khusus. Untuk blog khusus ini, rencananya mau aku kasih tld sekalian kalau aku sudah punya duit lebih.

Bagai gayung bersambut, pas buka email promosi eh ketemu post dari qword yang isinya seputar sedekah domain. Tanpa menunggu waktu lama, aku segera klik donk info tersebut. Adapun domain yang masuk list sedekah qwords yakni .my.id lalu web.id dan sebagainya. Aku cek biaya perpanjangan domain yang dimaksud qwords, alhamdulillah masih terjangkau di kantongku. Jadi ya langsung check out deh.

Rencanaku punya blog khusus jualan produk untuk mewujudkan niatku itu terwujud begitu cepat, alhamdulillah, masyaallah. Dan berikut link blog yang aku maksud, Mombeb.



https://www.khawas.web.id/2025/03/ular-tangga-tema-menjaga-kebersihan-di.html

Nah, buat mombeb yang lagi luang, aku tunggu mampir di blog tersebut yak, sekalian bantuin aku agar blog ini cepat terdeteksi di pencarian google.

Atas bantuan Mombeb aku ucapkan terima kasih banyak-banyak.

Doaku untukmu, semoga segala kebaikan selalu melingkupi Mombeb.  

Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

 

Facebook  Twitter  Google+ Yahoo

Postingan Populer