Reda Rasa Rasa: Kangen Bangku Sekolah? Ah masa'?


Hai Mamis,

Kemarin, tema obrolan di grup WA temen-temen kuliahku s1 dulu adalah merindukan masa-masa kuliah. Bukan? Tentu bukan rindu aktivitas di kelas, hecticnya ngerjain tugas dan segala macamnya. Melainkan kangen masa-masa dimana pikiran nggak sekompleks saat sudah menjadi orangtua begini. 

Hhhhhhhhhhhhh

Iyup, waktu kuliah dulu, yang ada dipikiran cuma tugas doank. Sisanya diisi dengan pikiran soal enaknya baca buku apa, nonton film apa atau jalan-jalan kemana. Sudah. Gitu aja. Ada sih kadang mikirin soal masalah temen atau pacar cuma nggak sampai mendominasi kecuali kasus khusus. Semisal duit kiriman dibawa kabur temen atau ditinggal pacar nikah. *wakwaw. 

Sekarang,  isi pikiran subhanallah. Macem-macem. Belum selesai mikirin biaya kebutuhan sehari-hari, eee harus mikirin soal biaya sekolah anak, masa depan pendidikan anak, dan sebagainya. 

Ada yang bilang jangan dipikirin tapi dijalanin atau dihadapi saja. Nah ini yang aku nggak bisa. Nggak bisa cuma hanya menghadapi apa yang ada di depan tanpa memikirkan yang ada di bagian terdepan itu apa. Karena belum tentu apa yang ada pas di depan mata akan sama dengan yang jauh di depan sana. 

Ada juga yang bilang bertawakal saja sama Allah, serahkan semua padaNya. Tapi masa'gitu sih. Kan disuruh berusaha dulu sama Allah baru deh kalau Allah berkehendak Allah akan mengubah atau mengabulkan harapan hambaNya. Jadi tetap harus dipikirkan dulu dan diusahakan dulu. 

Kadang, menyelinap rasa lelah dengan kompleksnya pikiran. Tapi mau gimana lagi. Nggak bisa berhenti lama lama. Cukup sejenak saja. Sambil berharap semoga Allah memberikan bantuan kekuatan ketangguhan keuletan dan kesabaran kepada aku dan keluarga. Aamiin.

Tapi, kalau dipikir-dipikir, ada hal positif dari momen kali ini dimana banyak banget yang dipikirkan. 


Reda Rasa Rasa: Baper Karena


Assalamu'alaikum, 
Hai Mamis

Hari ini, rasanya lelaaaaahhh banget. Lelah jiwa juga raga. Kalau lelah raga, bisa diatasi dengan istirahat yang cukup lalu pulih pun dapat segera terasa. Yang lama adalah memulihkan jiwa yang lelah. 
Lelah, dengan pertanyaan "kapan lulus?", "koq, nggak selesai-selesai?", "Koq begini", "Koq begitu" dan pertanyaan juga pernyataan yang beberapa membuatku merasa rendah, rendaaahhh. 

Memang, di beberapa sesi kehidupan, pasti akan bertemu dengan komentar-komentar yang membuat lelah dan sakit hati. Memang, kita tidak bisa mengontrol orang untuk tidak berkata yang menyakitkan. Tidak. Tidak akan pernah bisa. Aku tahu itu. Aku sadar akan hal itu. 

Biasanya, aku cukup tak peduli dengan komentar komentar yang membuat sesak. Tapi, entah kenapa, komentar-komentar yang terdengar kali ini membuat ngilu.

Ah aku tahu, apa yang membuatku mudah terbawa perasaan saat komentar-komentar itu terdengar. Karena ada pengorbanan, ada perjuangan, ada bersusah payah, ada terseok-seok, stres, hingga rasa ingin menyerah yang mengiringi perjalanan hidupku selama 3 tahun belakangan ini. 

Saat Si Kecil Masih Merayap di Usia 8 Bulan


Assalamu'alaikuuumm
Halohaaaa..
Apa kabar Mamis. Lama tak jumpa, daku kangeennnnn *halah. Hehe. 

Kali ini aku mau cerita soal perkembangan anakku yang kedua, sina.

Pada umumnya,  bayi usia 8 bulan sudah mulai atau bisa merangkak. Dulu, anakku yang pertama, siken, merangkak di usianya yang ke-7 bulan. Dan sekarang sina? Lagi menikmati bener merayap kesana kemari Ala-ala TNI gitu deh cara merayap sina. 

Sempat khawatir mengingat aku pernah dengar salah satu narasumber di kelas parenting yang aku ikuti bilang gini, bahwa fase merangkak itu penting karena berpengaruh pada keseimbangan si kecil. Kalau ia tidak melewati fase merangkak maka kelak Ia jadi tidak mudah terjatuh saat berjalan atau berlari. 

Nah untuk mencegah khawatirku semakin tumpah ruah meluber maka aku browsing-browsing deh. Alhmdulillah ketemu secepat aku membalikkan telapak tangan "mak wet".

Beberapa artikel yang aku baca alhmdulillah tidak menganggap bahwa merangkak merupakan fase yang harus dilalui oleh bayi. Fase utama adalah duduk dan berdiri. Jadi semisal bayi tidak melalui fase merangkak ya tidak masalah selama si kecil menunjukkan koordinasi yang baik antara tangan kaki kanan maupun bagian kiri. Misalnya si kecil pandai berguling kanan dan berguling ke kiri. 

Tapi kalaupun memang ingin bayi kita menjalani fase ini maka ada beberapa hal yang bisa kita usahakan. 
Pertama
Jangan sering menggendong sibaby. Perbanyak letakkan ia di lantai atau matras atau kasur agar ia nantinya dapat mencoba posisi akan merangkak hingga merangkak. 
Contohkan gerakan merangkak padanya. 

Gampang, ya? Mudah, kuncinya yang satu tapi susah yakni telaten. 

Alhamdulillah usaha yang aku dan suami lakukan di atas mulai menunjukkan hasil. Sina mulai mencoba merangkak 1 hingga 2 langkah merangkak. Kemajuan ini juga sepertinya didukung oleh "memang sudah waktunya merangkak". 

Kalau mamis, pernah mengalami apa yang aku alami? Share donk apa yang Mamis lakukan agar si kecil bisa merangkak? Atau apakah benar, si kecil yang nggak melewati masa merangkak, nantinya jadi terganggu keseimbangannya? Sebelumnya, makasih banyak sharenya Mamis. 
Facebook  Twitter  Google+ Yahoo

Follow by Email

Reda Rasa Rasa: Kangen Bangku Sekolah? Ah masa'?

Hai Mamis, Kemarin, tema obrolan di grup WA temen-temen kuliahku s1 dulu adalah merindukan masa-masa kuliah. Bukan? Tentu bukan rindu ...