Kerja di Kantor? Atau Ngajar di Sekolah?

"Eh kantorku ada lowongan, lho. Kamu daftar, yuk. Kerja sama aku".
Atau
"Di sekolahku butuh guru matematika, kamu mau ya?".


Beberapa kali, tawaran-tawaran tersebut datang padaku. Tawaran-tawaran tersebut berhasil membuatku dilema. Terlebih suami memberikan keleluasaan dalam memilih. Dia memberikan kebebasan membuat keputusan. Ini justru membuatku bingung kepayang.

Berhari-hari aku memikirkan tawaran tersebut. Aku pun do'a berkali-kali agar dibimbing ilahi rabbi.

Nah, entah gimana, tiba-tiba, momen juga rasa saat meninggalkan bocah-bocah kuliah muncul berkelebat. Lama-lama menghebat dan keputusanpun ku peroleh cepat.
Jadi, jawaban dari tawaran tersebut adalah....

Utk saat ini (dan mungkin seterusnya), pilihan jatuh pada mencari rejeki dari rumah. Toh ada banyak pilihan, bisa ngeblog, ngeyoutube, jualan, dll.
Sangat sadar diri, nggak akan bs maksimal kalau kerja di kantor atau sekolah, karena pikiran terfokus pada bocil2 tercinta.

"Lah, ijazahmu gimana, Mak? Sia2, sekolah tinggi-tinggi?".

Yup, salah satu risiko dari pilihanku itu memang aku bakal dapat pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Penilaian miring atau mungkin jadi bahan nyinyiran orang. Tapi, tak jadi masalah. Sama sekali tak jadi masalah. Haters gonna be hate, kalau kata taylor swift.

Bagiku,
Nggak ada yang sia-sia. Karena, ilmu, pengalaman, keterampilan, keahlian, yg terasah selama masa-masa kuliah, pasti terpakai saat jadi ibu rumah tangga.

Muhasabah: Tentang Emak Belajar

"Belajar tidak mengenal usia, juga waktu".

Assalamu'alaikum, Emak.
Hai,
Semangat belajar ya, Mak.
Belajar lagi, belajar terus sampai hayat tidak dikandung badan.

Belajar apapun yg bermanfaat, belajar dari siapapun, bahkan dari bocil2 sekalipun.

Setelah tahu, setelah paham, jangan lupa berbagi ilmu.
Setelah tahu, setelah paham, jangan jd jumawa.
Karena di atas langit masih ada langit.

#Muhasabah
#Pengingat
#MuhasabahMenujuTakwa

Ada Rasa Takut Berhijrah

Hijrah, Ikhtiar untuk Hal yang Lebih Baik

Masih lekat diingatan, cerita tentang Nabi Hijrah ke Madinah yang mana di sana beliau mendapatkan sambutan dan diterima dengan amat baik. Berbeda 180 derajat dari saat beliau di Mekah.

Beberapa cerita orang-orang yang berhijrah pun terngiang-ngiang di kepalaku. Betapa mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya, saat melakukan hijrah.

Aku, dan keluarga kecilku, juga akan melakukan hal itu. Ya, kami akan hijrah, kami akan pindah tempat tinggal. Berharap hal lebih baik akan datang menghampiri kami.

Namun, kalau boleh jujur, ada rasa takut, rasa khawatir, mampir di pikiran juga hati. Terbayang memulai langkah dari awal lagi, merintis hal baru lagi, pasti bakal butuh effort lebih lagi. Di samping itu, ada kenangan yang tak mengenakkan hati di daerah tujuan hijrahku.

Ah,
Ya sudahlah,
Aku harus menyingkirkan rasa-rasa itu dan menggantinya dengan bayangan akan masa depan anak-anakku. Ya, aku dan suami, ingin sekali mengantarkan mereka menuju cita cita mereka tanpa perlu terlalu mengkhawatirkan soal biaya. Seperti yang terjadi padaku juga suami. Waktu itu, kami tidak bisa melangkahkan kaki kami selebar mungkin menuju sekolah-sekolah yang kami inginkan, karena terhalang biaya. Kami memilih sekolah berdasarkan kemampuan orangtua kami. Bukan berdasarkan kualitas sekolah.

Meskipun demikian, aku merasa beruntung dan bersyukur alhamdulillah. Karena orangtuaku yang penghasilannya dulu amat pas-pasan masih mau berusaha untuk menyekolahkanku. Terima kasih, Bapak juga Ibuk.

Bismillah,
Niat ingsun hijrah,
Karena Allah Swt.,
Menjaga sebaik mungkin amanah dari Nya.


Facebook  Twitter  Google+ Yahoo

Follow by Email

Kerja di Kantor? Atau Ngajar di Sekolah?

"Eh kantorku ada lowongan, lho. Kamu daftar, yuk. Kerja sama aku". Atau "Di sekolahku butuh guru matematika, kamu mau ya?&q...