Ajak Jelajah Museum, Si Kecil Bakal Bosen atau Nggak, Ya?


Beberapa waktu yang lalu, entah dapat wangsit darimana, aku berinisiatif untuk mengajak si kecil Ken pergi ke museum yang berada tak jauh dari tempat tinggalku. Kira-kira butuh waktu kurang dari sejam untuk sampai di museum majapahit. Ya aku ingin mengajak si kecil pergi ke museum majapahit di trowulan.

Aku pun segera mengutarakan ideku itu ke suami selaku sopir pribadi penimbang ide. Dan alhamdulillahnya, suami ng-oke-in ideku itu. Suami bilang, kita ke sana pas hari Sabtu saja. Karena pada hari itu, jadwal sekolah si kecil lebih fleksibel bisa masuk bisa juga tidak masuk sekolah dan suami juga libur kerja di hari itu. Jadi fix-lah, kami memutuskan ke sana pas hari sabtu weekend saja.

Menjelang hari H, ada ragu yang berseliweran dipikiran. Aku menduga-duga bahwa si kecil ken bakal bosen, nggak tertarik, lalu cepet-cepet mengutarakan keinginannya untuk pulang. Karena, biasanya, kalau pergi-pergi, kami mengajaknya ke tempat-tempat wisata yang ramah anak. Gitu.
"Nggak apa-apa, coba saja, kalau toh memang si ken ngajak pulang ya sudah kita pulang" kata suami. Baeqlah.

Tiba saatnya, kami memutuskan untuk berangkat pagi. Sekitar jam 7 an. Karena museumnya buka sekitar jam 8 nan. Yaaaaa maksud hati biar nggak terlalu siang. Karena pasti panas banget pastinya. Mengingat belakangan ini kisaran suhu di tempat tinggalku antara 36-37 derajat celcius. Traveling pas siang bolong alias lagi panas-panasnya apalagi ngajak si kecil adalah salah satu hal yang aku dan suami hindari.

Di perjalanan menuju museum, si kecil ken sempat menanyakan soal museum. "Kita mau pergi ke museum, ya?".
"Iya, kita mau jalan-jalan ke museum".
"Yes, kita ke museuuuummm" seru si ken. Aku dan suami menanggapi dengan senyuman. Lalu nggak lama, si ken berkomentar lagi.
"Museum itu apa?".
Jeng jeng jeng
Dia sudah merasa asyik duluan padahal belum tahu museum itu kek gimana. Plis atuhlah bocah. 😄😄😄

Lalu jawabannya gimana?
Kalau ngikutin definisi museum ala kbbi atau wikipedia. Pasti masih sulit dipahami si kecil. Jadi definisi museum yang aku jelaskan ke si kecil itu begini,
"Ken, museum itu, tempat-tempat menyimpan benda-benda yang kereeeeenn sekali" udah gitu aja.
Lalu dijawab sama si kecil ken,
"Waaahhhhh..." dengan mata yang berbinar-binar.
Dalam hati aku berujar, 'Oke, mari bikin kesan benda-benda di museum adalah benda-benda yang keren'.

Sampai di lokasi museum trowulan. Sepiiiii. Kata petugas loket masuk museum, kami pengunjung pertama. Yeayyyyy.

Oya tiket masuk museum majapahit trowulan di saat weekend bisa dibilang murah banget. Cuma Rp. 5.000 untuk biaya tiket masuk museum majapahit trowulan bagi orang dewasa dan Rp. 2.500 untuk tiket masuk ke museum majapahit trowulan bagi anak-anak. Sedangkan untuk biaya parkir kendaraan, membayar seikhlasnya saja.

Sebelum masuk ke area museum, kami membekali diri terlebih dahulu. Aku membawa gendongan untuk si kecil nomor 2 yang masih bayi ginuk-ginuk dan suami membawa permen juga air minum untuk jaga-jaga si ken butuh minum. Sedangkan si ken, memilih untuk membekali dirinya dengan bola basket kesayangannya.
"Loh? Bolanya dibawa?" tanyaku ke si ken.
"Iya, Ma. Aku suka".
"Disimpan dulu ya, ini bukan tempatnya main atau bawa bola basket" kataku.
Tapi ken tetap ngotot ingin membawa bola. Aku ngotot tidak boleh bawa bola. Ken gitu, aku gini.
"Ya sudah, ken boleh bawa bola, tapi dipegang tidak boleh dimainkan" kata suami menengahi.
"Iya, Ayah" ken girang.
Ya sudah. Kesepakatan berhasil dibuat.


Sebelum masuk ke gedung museum, kami disambit eh disambut oleh 2 petugas yang meminta kami untuk mengisi buku tamu terlebih dahulu.

Begitu masuk ke museum, komentar ken begini:
"Wow, banyak patuuungggg".
Dia pun menyusuri hampir setiap arca, gerabah, patung, dan sebagainya sambil membaca hampir setiap keterangan yang ada.
'Lumayan, melatih kemampuan membaca si ken' Pikirku.
Di area gedung, ken paling antusias saat melihat aneka bentuk celengan zaman majapahit. Ada yang berbentuk hewan, juga manusia. Ah ternyata, zaman majapahit juga sudah ada aktivitas menabung. Ku baru tempe tahu.

Masih di area museum, namun kali ini di ruang terbuka. Ken paling antusias dengan patung garuda wisnu kencana. Keren banget katanya.
"Tapi koq sayapnya nggak ada?" Tanya ken.
"Hilang sepertinya" jawabku.
Ya, memang bagian sayap garuda wisnu kencana ada yang terpotong.

Kemudian kami menuju ke sisa-sisa pemukiman zaman dulu. Di tengah jalan, kami menemukan diorama kerajaan majapahit. Ternyata, luaaaaaasssss bener. Trowulan dikatakan sebagai ibu kota kerajaan majapahit. Dan Museum ini sendiri merupakan pemukiman rakyat kerajaan majapahit. Ah, kereeennnn.

Tiba di area pemukiman majapahit. Ya, di area ini terdapat sisa pondasi rumah rakyat pada masa itu. Menurut keterangan yang ada di tempat tersebut. Bentuk bangunan pada masa itu, mirip dengan bentuk bangunan adat yang masih ada di Bali.

Jelajah museum hari itu selesai yang ditutup dengan bermain di area playground yang ada di depan museum. Ken girang sekali. Emang ya, bahagia anak-anak itu, sederhana banget. Main perosotan, ayunan, sudah bikin si ken girang bukan kepalang.

Sebagai penutup, ternyata dugaanku yang aku sebutkan di awal adalah salah, karena nyatanya si ken senang sekali diajak pergi ke museum.

Next, kemana lagi yak?

Traveling ke Banyuwangi: Berbagi Kenangan dengan yang Tersayang


Beberapa waktu lalu, kabupaten Banyuwangi sempat viral. Berkat sebuah cerita horor KKN DESA PENARI yang dicuitkan oleh akun Simpleman di Twitter. 

Sejak cerita horor tersebut viral, netizen berbondong-bondong mencari lokasi Desa Penari. Rupanya netizen benar-benar penasaran. Hanya berbekal inisial nama kabupaten berawal huruf B dan beberapa clue yang diberikan oleh penulis, mereka pun (katanya) berhasil menemukan lokasi Desa Penari yang katanya terletak di Kabupaten Banyuwangi.

Banyuwangi pun menjadi bahan obrolan di dunia maya dan menjadi tujuan kunjungan netizen yang ingin membuktikan secara langsung mengenai lokasi desa penari. Ya, begitulah. The Power of Netizen Kepo. Apa saja mereka usahakan demi menjawab rasa penasaran mereka. *tepokjidat

Aku mengikuti perkembangan penyelidikan lokasi Desa Penari oleh para netizen. Bukan. Bukan karena aku juga penasaran melainkan karena aku merindukan Banyuwangi.

Ada rangkaian kenangan manis yang tersimpan di kota tersebut. Kenangan masa-masa kuliahku dulu yang tidak terlupa. Mulai dari warganya yang ramah, lalu kulinernya yang menggoyang lidah, hingga tempat-tempat wisata yang menarik nan indah

Saking berkesannya kota itu, aku pun berikrar dalam hati, akan kembali mengunjungi Banyuwangi lagi, lagi, dan lagi. Dan akhirnya, kesempatan itu pun datang juga. Aku kembali ke Banyuwangi bersama orang-orang tersayang, anak dan suami.

Rasa antusias membuncah jauh-jauh hari sebelum jadwal berangkat traveling ke Banyuwangi. Aku dan suami pun berbagi tugas.

Aku mendapat tugas mengurusi barang-barang yang dibutuhkan keluarga. Sedangkan suami mendapat tugas mencari tempat menginap. Suami juga bertugas mencari destinasi wisata Banyuwangi.

Ya, rencananya, selain mengunjungi tempat-tempat kenangan waktu aku kuliah dulu, aku juga ingin menikmati wisata-wisata yang ada di banyuwangi. Mengingat belakangan ini wisata di Banyuwangi tumbuh secara signifikan.

Soal packing barang kebutuhan traveling sih, gampang yak. Mencari destinasi wisata juga semudah membalikkan telapak tangan. Yang susah adalah mencari penginapan yang sesuai kantung kami. Kisaran budget kami 100.000-150.000, lalu dengan syarat terasa nyaman, juga aman, dan bersih, serta strategis.
Duh, BM yak. Hehe.
Ya, kali aja kan ada penginapan yang sesuai kantung kami tapi juga terasa nyaman, aman, bersih dan strategis. Sapa tau, kan. Tapi jujur aku agak ragu sih bisa dapat penginapan yang memenuhi semua syarat yang aku sebutkan di atas.

"Udaah, tenang aja, aku sudah dapet koq penginapan yang kayak gitu dan terjangkau di kantong kita" kata suami.

Alhamdulillah. Aku lega.
Kata suami lagi, kami akan menginap di salah satu OYO Hotel Indonesia yang ada di Banyuwangi.

Hari H tiba. Kami berangkat mengendarai motor. Dari Jembrana Bali menuju Banyuwangi, memerlukan waktu kurang lebih 3 jam.
Traveling pakek motor

Lama perjalanan mengendarai motor lumayan membuat kami boyok an alias punggung terasa kaku. Oleh sebab itu kami memutuskan untuk langsung menuju salah satu OYO Hotels Indonesia yang bernama El Reyshi Banyuwangi.

Pelayanan OYO Hotel El Reyshi
Begitu sampai, kami pun disambut dengan keramahan resepsionis OYO Hotel. Tentu hal ini memberi kesan pertama yang menyenangkan. Dah, kalau awalnya sudah bikin senang gini. Optimis, kalau kesan selanjutnya akan menyenangkan juga.

Kamar OYO Hotel El Reyshi
Terang saja, begitu masuk ke kamar OYO Hotel, rasanya, puas banget. Sesuai dengan harapan aku. Sesuai dengan kriteria tempat menginap yang aku inginkan. Nyaman, bersih, dan adeeemmm, AC nya berfungsi dengan baik. Kan kadang ada gitu penginapan yang ACnya nggak berfungsi. Asli. Anakku langsung betah, lho. Beneran.

Cr. Dokpri

Cr. Dokpri

Acnya segerrrr
Cr. Dokpri

Keamanan OYO Hotel El Reyshi
Soal keamanan, kami tak perlu was-was karena OYO Hotel El Reyshi ini dikelilingi tembok pagar dan juga pintu gerbang. Bagian keamanannya pun ada. Jadi aman.

Lokasi Strategis
Bagiku, lokasi OYO Hotel El Reyshi ini strategis. Karena ya berada dekat dengan tujuan aku untuk bernostalgia di tempat-tempat yang aku kunjungi semasa kuliah. Tapi terlepas dari tujuanku itu, lokasi OYO Hotel El Reyshi ini bisa dibilang strategis karena dekat dengan pusat perbelanjaan yang populer di seantero Banyuwangi, juga dekat dengan beberapa tempat wisata.

Biaya Menginap di OYO Hotel El Reyshi
Biaya menginap yang kami keluarkan, alhamdulillah sesuai dengan kemampuan kantong kami. Yakni sebesar 147ribu rupiah. Ini bisa jadi lebih murah, sih. Mengingat kemarin kami menginap di OYO Hotel ini saat weekend.

Itulah sekilas review aku tentang menginap di OYO Hotel El Reyshi. Nah, kalau teman-teman yang ingin traveling ke Banyuwangi dan membutuhkan tempat menginap, pilih saja Hotel OYO el Reyshi atau lainnya. Ada banyak pilihan Hotel di Banyuwangi .

Kalaupun teman-teman ingin biaya menginap yang lebih murah, di OYO juga menyediakan pilihan tempat menginap dengan biaya yang murah meriah yakni mulai dari 80 ribu rupiah. Ini bukan hanya berlaku di Hotel OYO yang ada di Banyuwangi saja. Tapi juga berlaku di hotel-hotel OYO yang lain. Oya, fyi, OYO Hotels sudah hadir di 100 kota dengan 1000+ mitra properti.

Trus, setelah beristirahat sejenak di OYO Hotel El Reyshi ini, sorenya, kami pun bersemangat untuk mengunjungi Taman Sritanjung sekalian kulineran.

Sritanjung
Cr. Dokpri

Setelah si kecil kelihatan mulai mengantuk kami pun beranjak pulang ke OYO Hotel El Reyshi. Kami bergegas istirahat karena besok kami akan berkunjung ke beberapa tempat wisata.

Keesokan hari, kami mengunjungi destinasi wisata yang lain, seperti Taman Sritanjung, Pantai Boom, Roxy, dan Hutan De Djawatan.

Hutan De Djawatan
Cr. Dokpri

Dokpri

Alhamdulillah, aku bersyukur sekali, akhirnya keinginanku untuk berbagi kenanganku semasa kuliah dengan yang tersayang tercapai sudah.

Meskipun begitu, aku dan suami, masih memiliki keinginan untuk kembali ke sini. Karena ada beberapa tempat wisata yang ingin sekali kami kunjungi. Selain itu kamu juga ingin mengikuti festival-festival Banyuwangi. Seperti nonton Banyuwangi Ethno Carnival, hingga nonton Gandrung Sewu.
Banyuwangi Ethno Carnival
Cr. cnn

Cr. Kompas

Namun, untuk mewujudkan keinginan kami itu, tentu membutuhkan budget yang lebih banyak. Salah satunya yakni budget yang digunakan untuk membayar penginapan di Banyuwangi yang pastinya tidak sehari dua hari. Lalu juga menyiapkan budget untuk biaya makan selama di Banyuwangi, dan budget untuk biaya lainnya. Duuuhhh, kayaknya membutuhkan buanyak duit, yak. *hahay.

"Yah, andai saja kita dapat diskon 70% OYO Hotel Indonesia, kita bisa hemat budget banget yak, budget buat membayar biaya menginap bisa kita alihkan buat biaya makan atau biaya kebutuhan lainnya selama kita di Banyuwangi" celetukku pada suami.

Lalu suami bilang gini,
"Dah, disimpan saja dulu mimpi traveling ke Banyuwangi lagi, sambil kita nabung, semoga keinginan kita segera terkabul".

Baiklah, aku sepakat dengan suami. Mari semangat menabung lagi. Mari berusaha untuk mewujudkan mimpi traveling ke Banyuwangi lagi. Lalu iringi usaha dengan do'a kepadaNya agar keinginan diijabah, agar dimurahkan rejeki, sapa tahu kami bisa traveling ke Banyuwangi lagi dalam waktu dekat.

Do'ain ya, Teman-teman. Dan makasih banyak atas do'a kalian. Do'a yang sama juga untuk kalian. Semoga kalian bisa traveling di destinasi wisata yang kalian inginkan dan dapat diskon 70% dari OYO Hotel Indonesia. Mantab, dah. Aamiin.


Rawat atau Musnah, Ini Cara Sederhana Ibu Rumah Tangga Turut Serta Menjaga Cagar Budaya Indonesia


Ada kabar yang mencuri perhatian di tengah berita soal asap yang mengepung beberapa wilayah di Indonesia. Kabar tersebut mengenai ditemukannya (diduga) peninggalan dari kerajaan Sriwijaya di lokasi terjadinya kebakaran hutan. Ada perhiasan, manik-manik, dan sebagainya. Bentuknya unik-unik, dan cantik sekali.

Barang temuan harta karun milik (diduga) kerajaan Sriwijaya.

Penemuan ini sontak membuat orang-orang berkumpul di lokasi penemuan untuk berburu harta karun kerajaan Sriwijaya.

Orang-orang mencari harta karun milik (diduga) kerajaan Sriwijaya.
cr. detik.com

Untungnya, kejadian ini tidak berlangsung lama, karena pemerintah daerah setempat segera mengambil tindakan untuk mengamankan lokasi penemuan.

Syukur alhamdulillah, saya senang sekali dengan tindakan cepat yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Meskipun belum diketahui apakah benda-benda yang ditemukan tersebut adalah benar-benar barang yang termasuk dalam kategori cagar budaya atau tidak. Ya minimal tidak ada penyesalan manakala benda yang ditemukan adalah memang benda cagar budaya.
"Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan".
Benda-benda temuan, apalagi yang masuk dalam kategori benda cagar budaya memang menarik perhatian. Di samping itu juga amat berharga. Maka tak heran kalau banyak yang mengincar benda-benda cagar budaya baik diincar untuk dimiliki secara pribadi atau diincar untuk kemudian dijual.

Pencurian benda-benda cagar budaya pun telah terjadi berkali-kali. Dilansir dari Tempo, pencurian terjadi pada tahun 2013 dimana 4 artefak emas peninggalan kerajaan Mataram Kuno dari abad 10 masehi, di Museum Nasional, Jakarta, raib.

4 artefak emas peninggalan Mataram Kuno yang hilang.
cr. Metrotvnews

Kemudian pada tahun 2010 juga terjadi pencurian 87 koleksi artefak emas Museum Sonobudoyo, Yogyakarta.


Pencurian juga terjadi di Katingan, Kalteng, dimana dari puluhan patung Sapundu (patung ukiran suku dayak yang berusia ratusan hingga puluhan tahun) bersisa 7 patung. Hasil rangkuman data yang dilakukan oleh Jawa Pos yakni pencurian tersebut terjadi sejak tahun 2008 sampai 2 tahun lalu.

Patung Sapundu
cr. Jawa Pos

Dan masih ada beberapa kasus pencurian cagar budaya lainnya.

Sayangnya, dari sekian banyak kasus pencurian, sebagian besar cagar budaya belum ditemukan sampai saat ini. Sayang beribu sayang. Saya berharap dan berdo'a semoga benda cagar budaya yang hilang dapat ditemukan. Aamiin.

Adapun hukuman bagi orang yang melakukan pencurian benda cagar budaya sudah tertuang jelas pada pasal 106 ayat 1 UU 11/2010.
Bagi penadah benda cagar budaya hasil curian juga sudah ada hukumannya yang dipaparkan pada pasal 106 ayat 2 UU 11/2010.
Selain kasus pencurian, benda-benda cagar budaya juga terancam dari orang-orang yang melakukan tindakan vandalisme. Seperti pada bangunan cagar budaya di bawah ini.

Vandalisme di Bunker yang dibuat pada masa pendudukan Jepang.
cr. News.Okezone

Vandalisme di Tembok Keraton Jogja
cr. Geotimes

Entah apa motif pelaku melakukan vandalisme terutama di area cagar budaya. Padahal hukuman bagi perusak benda cagar budaya bisa dibilang tidak ringan. Hukuman mengenai vandalisme atau perusakan cagar budaya sudah dipaparkan begitu jelas pada pasal 105 UU 11/2010.

Perbuatan-perbuatan di atas sangat amat disayangkan bahkan menjengkelkan. Mengingat benda-benda yang merupakan bagian dari cagar budaya yang hilang maupun yang dirusak tersebut merupakan bagian dari bukti sejarah, identitas, hingga kekayaan budaya negeri ini.

Berdasarkan data dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Tahun 2019, diketahui, bahwa jumlah Cagar Budaya Indonesia yang terdaftar sudah mencapai angka  96.244 Cagar Budaya. Namun yang sudah terverifikasi baru 48.872 Cagar Budaya. Sedangkan yang tercatat sebagai Cagar Budaya, baru mencapai 1.512 Cagar Budaya.

Dari sekian banyak cagar budaya yang dimiliki negeri ini, ada beberapa yang telah diakui dunia.

Data dari Tempo menyebutkan bahwa sejak tahun 1991 hingga tahun 2012, ada 4 cagar budaya Indonesia yang menjadi Warisan Dunia Kategori Budaya.  4 warisan dunia kategori budaya tersebut yakni sebagai berikut.

Borobudur Temple Compounds (1991),
cr. Unesco

Prambanan Temple Compounds (1991),

cr. Unesco

Sangiran Early Man Site (1996),

cr. Unesco

dan Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy (2012).

cr. Unesco

Nah di tahun 2019 ini pun ada cagar budaya yang dimiliki negeri ini yang kembali diakui UNESCO yakni Warisan Tambang Batubara Ombilin, Sawahlunto.

Sawahlunto, warisan dunia UNESCO th 2019

Keren.
Ya, sebagai warga negara Indonesia, saya bangga sekali dengan cagar budaya yang dimiliki oleh negeri ini yang begitu kaya dan beragam bahkan beberapa sudah diakui dunia. Saya pun ingin agar cagar budaya negeri ini tetap terjaga. Agar generasi selanjutnya bisa merasakan bangga juga cinta tanah air seperti yang saya rasakan saat ini.

Oleh sebab itu, demi mewujudkan keinginan tersebut, saya berusaha melakukan apa yang bisa saya lakukan sebagai ibu rumah tangga yang nyambi sebagai blogger part time untuk menjaga cagar budaya Indonesia.

1. Bentuk usaha saya sebagai ibu rumah tangga dalam menjaga cagar budaya negeri tercinta.
Sejauh ini, yang bisa saya lakukan sebagai seorang ibu rumah tangga untuk turut serta menjaga cagar budaya Indonesia adalah sebagai berikut.

  • Menularkan rasa bangga akan budaya yang dimiliki Indonesia kepada si kecil juga orang-orang sekitar saya.
  • Memberikan nasihat kepada si kecil untuk berperilaku baik, tidak merusak, bahkan tidak mencuri saat pergi ke suatu tempat cagar budaya.
  • Mengajak si kecil pergi ke tempat Cagar Budaya agar lebih kenal, lebih tahu dengan aneka benda cagar budaya.

Museum Islam Indonesia
Cr. Dokpri

Museum Majapahit
cr. Dokpri

  • Memberikan contoh kepada si kecil bagaimana berperilaku saat sedang berada di area cagar budaya.

cr. Dokpri

cr. Dokpri

Diorama Kerajaan Mojopahit
Lokasi museum merupakan ibukota dari kerajaan mojopahit
cr. Dokpri

2. Bentuk usaha saya sebagai blogger part time dalam menjaga cagar budaya negeri tercinta.

  • Yang saya lakukan adalah menyebarkan semangat untuk turut serta menjaga cagar budaya melalui media sosial yang saya miliki.
  • Membuat blogpost tentang cagar budaya,
  • hingga ikut berpartisipasi dalam lomba yang diadakan oleh Kemendikbud yang berkolaborasi dengan IIDN dengan tema Cagar Budaya Indonesia: RAWAT ATAU MUSNAH.

Saya berharap, usaha kecil nan sederhana yang saya lakukan sebagai seorang ibu rumah tangga yang nyambi menjadi blogger part time dapat membuat cagar budaya yang dimiliki negeri ini semakin terjaga awet saklawase. Aamiin.

Oya, bagi teman-teman, yang juga ingin turut serta mengkampanyekan atau menyebarkan semangat menjaga Cagar Budaya negeri ini, monggo ikutan lomba yang diadakan oleh Kemendikbud dan IIDN ini. Caranya mudah banget. Di bawah ini saya cantumkan poster lombanya yak. Jangan lupa ikutan yak.


Facebook  Twitter  Google+ Yahoo

Follow by Email

Ajak Jelajah Museum, Si Kecil Bakal Bosen atau Nggak, Ya?

Beberapa waktu yang lalu, entah dapat wangsit darimana, aku berinisiatif untuk mengajak si kecil Ken pergi ke museum yang berada tak ja...