Hoax Mempengaruhi Kesehatan Mental?, Begini Langkah-langkah Mengidentifikasi Hoax

 

"Jangan vaksin covid-19, nanti malah sakit"

"Cupu ah, covid-19 itu nggak ada, itu konspirasi"


Nyenyenye...


Kesal, nggak sih, dengan pernyataan di atas?


Mbok ya kalau punya pemikiran anti mainstream begitu ya jangan disebarkan, jangan nyari teman apalagi memprovokasi, jangan. Bukan, bukannya melarang berpendapat, atau bukan melarang memiliki pemikiran sendiri. Nggak apa-apa punya pendapat sendiri, nggak apa-apa punya pemikiran sendiri. Akan tetapi, please, simpan saja sendiri. Terlebih kalau pemikiran yang dimiliki tidak didukung bukti valid, beuughhhh, jangan dishare yak, karena kalau sampai dishare itu sama saja dengan menyebar HOAX. 




Nggak mau kan jadi penyebar Hoax? Nggak mau kan kena UU ITE pasal 28 tentang penyebar berita bohong yang menyesatkan? Nggak mau juga kan jadi seseorang yang memberi dampak negatif pada masyarakat yang salah satu dampaknya berupa dapat mengganggu kesehatan mental seseorang? 


Hoax Mempengaruhi Kesehatan Mental


Ya, Hoax bisa berdampak pada kesehatan mental. Sebagaimana pendapat Vasilis K. Pozios, MD, seorang psikiater forensik, mengatakan bahwa hoax dapat menimbulkan perasaan marah bahkan depresi. 


Yup, tidak bisa dipungkiri bahwa sedikit banyak hoax memberi dampak negatif pada kondisi jiwa. Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax (MIAH), Septiaji Eko Nugroho, mengatakan bahwa Hoax sudah menyebar dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Bahkan tidak hanya resah, melainkan juga merasa panik. Seperti kepanikan masyarakat yang terjadi beberapa waktu lalu dimana masyarakat berbondong-bondong membeli susu merk tertentu setelah hoax soal susu tersebut dapat menyembuhkan covid-19 beredar luas. 


Saya sendiri merasakan dampak negatif dari Hoax. Saya jadi mudah marah, kesal, jengkel saat tidak sengaja baca informasi yang tidak jelas sumbernya (hoax) muncul di time line media sosial saya atau grup chat yang saya ikuti. Sungguh-sungguh kesal.


Tapi, kalau dipikir-pikir, rasanya, tidak ada untungnya, tidak ada manfaatnya bagi diri sendiri karena merasa kesal dengan hoax atau bahkan penyebar hoax, bukan? Malah bisa jadi mengganggu kesehatan mental. Oleh sebab itu, demi menjaga kesehatan mental terutama di masa pandemi covid-19 begini, saya memutuskan untuk mengikuti apa yang disarankan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) yang mengatakan bahwa membatasi perolehan informasi secara berlebihan dari berita-berita yang belum diketahui kebenarannya dapat membantu menjaga kesehatan jiwa di tengah pandemi COVID-19. Di samping itu saya juga memutuskan untuk lebih selektif memilih artikel yang mau saya baca dengan menerapkan langkah-langkah mengidentifikasi Hoax versi Mafindo. 


Langkah-langkah Mengidentifikasi Hoax 


1.  Selektif memilih mulai dari judul berita yang cenderung provokatif.


Salah satu contoh judul yang cenderung provokatif yakni menudingkan jari ke pihak tertentu. Biasanya, kalau ketemu judul berita atau informasi seperti ini dan saya tetap ingin membaca bacaan tersebut, yang saya lakukan yakni mencari informasi lain dengan menggunakan kata kunci yang ada pada judul tersebut. Jika hasil pencarian saya merujuk pada situs-situs yang jelas kredibilitasnya, salah satunya Liputan 6, baru kemudian saya membaca informasi tersebut. Hanya sekadar membaca, hanya sekadar tahu, namun tidak untuk menjadi kesimpulan, apalagi pemikiran. 


2. Memperhatikan alamat situs web.


Beberapa waktu lalu, Kominfo merilis situs-situs yang jelas kredibilitasnya, salah satunya yakni Liputan 6 Sejak saat itu, saya lebih memilih membaca informasi dari situs-situs tersebut. Di luar situs tersebut, saya lebih sering memilih untuk skip skip skip. 


3. Membedakan antara fakta dan opini.


Menurut KBBI, fakta adalah hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. 

Sedangkan opini, menurut KBBI, adalah pendapat, pikiran, pendirian. Makna opini menunjukkan kecenderungan bersifat subyektif. 


Berdasarkan dua makna tersebut, saya lebih memilih membaca berita yang didalamnya berisi seputar fakta. Kalaupun berita tersebut berisi opini seseorang, paling tidak dilengkapi dengan fakta misalnya beberapa studi, kumpulan data, dan sebagainya. 


4. Cek keaslian foto


Foto adalah salah satu bagian penting dalam sebuah berita atau informasi. Foto seringkali digunakan untuk menguatkan berita. Oleh sebab itu, tak jarang pula ditemukan penyalahgunaan foto. Seharusnya foto A digunakan untuk bahasan soal A, namun ternyata digunakan untuk bahasan soal B. 


Adapun cara untuk mengidentifikasi keaslian foto, menurut Mafindo, adalah dengan dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.


5. Ikut serta grup diskusi anti-hoax


Mafindo menyebutkan beberapa grup diskusi anti-hoax yang bisa diikuti yakni Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.


Alhamdulillah dengan menerapkan langkah-langkah mengidentifikasi Hoax versi Mafindo di atas, sejauh ini, saya bisa melindungi diri sendiri dari terkena paparan Hoax. Bahkan terkadang saya hanya menggunakan 2-3 langkah saja. 2 langkah, nggak sreg baca, auto skip. Gitu sajalah. Dan alhamdulillahnya lagi, saya merasa jauh lebih tenang, nggak baper, kesal apalagi sampai marah-marah. Alhamdulillah. 


Dah, terlepas dari soal hoax-hoax itu, serta kesehatan mental, saya masih senantiasa menaruh harap, tak henti memanjatkan do'a semoga pandemi covid-19 ini segera sirna, terutama dari Indonesia ini. Kalaupun masih ada, semoga langkah kita, usaha kita, perjuangan kita, untuk bertahan di masa pandemi covid-19 ini dimudahkan oleh Allah Swt. Aamiin aamiin ya robbal'alamiin


Sehat sehat sehat ya, kamu, kamu, juga kamu, teman teman saya tercinta. 

***


Sumber:


https://covid19.go.id/p/berita/psikiater-batasi-informasi-berita-berlebihan-untuk-jaga-kesehatan-jiwa-selama-pandemi-covid-19


https://kominfo.go.id/content/detail/9058/penyebaran-informasi-hoax-menimbulkan-keresahan-di-masyarakat/0/sorotan_media


https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media


https://kbbi.web.id/fakta

https://kbbi.web.id/opini

No comments:

Post a Comment

Biji bunga matahari namanya kuaci
Kupas kulitnya pakai gigi
Eee para pengunjung yang baik hati
Yuk tinggalkan komentar sebelum pergi.

Buah Pir Buah Naga
Jangan khawatir, aku akan mengunjungimu juga. :)

Facebook  Twitter  Google+ Yahoo

Follow by Email

Pengalaman Ikut Kelas Bahasa Inggris untuk Anak Kinestetik di Kreasa

"Ken, ikut Kelas Bahasa Inggris Kreasa yak? Biar nanti kamu gampang kalau kamu pergi ke Rusia, Belanda, Amerika serikat, Inggris, Jepan...