Tuesday, December 6, 2016

Bapak Kurir JNE

Alhamdulillah, hari ini, aku bisa pulang ke rumah lebih awal. Sebab dosen yang mengisi jam terakhir, berhalangan hadir. Happy donk yak ? Iyelaahhh. Secara kan, aku bisa segera ketemu dan main sama si kecil dan nggak bakal kehujanan. Soalnya, langit kelabu sedari perginya subuh.

Seperti biasa, aku pulang ke rumah dengan mengendarai angkutan umum bernama bis. Sambil menunggu bis berangkat yang berarti harus menunggu penumpang penuh dulu alais nge-tem. Kulayangkan pandangan ke luar. Nampak orang-orang berlarian seraya menundukkan kepala. Ada juga yang menutup kepala dengan tas atau tangan mereka. Emmm... hujan sudah turun rupanya.

Hujan menderas. Pelataran parkir bis yang semula ramai, kini hanya menyisakan segelintir orang saja. Mereka adalah orang-orang yang mencari rejeki. Mereka tetap bekerja meski hujan tak menunjukkan tanda-tanda reda. Ah mereka, mereka mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang tak kalah gigih dari mereka. Dan orang itu adalah si bapak kurir JNE.

Sudah berlalu cukup lama. Kira-kira dua tahun yang lalu. Tapi aku masih ingat banget dengan peristiwa itu. Berkesanlah yah. Peristiwa itu adalah peristiwa saat bapak kurir JNE mengantarkan paket untukku.

Lebay ? Nggak. Aku nggak lebay. Kalau teman-teman diposisiku saat itu pasti juga terharu dengan apa yang dilakukan bapak kurir JNE. Beneran. La gimana nggak terharu cobak. Bapak kurir JNE nganterin paket ke rumah dalam kondisi hujat lebat. Tuh bayangin cobak.

Waktu itu aku sempat mengutarakan pertanyaan seperti ini kepada bapak kurir JNE :
"Bapak, koq mboten dianter benjeng mawon pak, benjeng kan saget ?".
(Bapak, kenapa tidak dianter besok saja, besok kan bisa ?).

"Mboten mbak, sak niki mawon, biar cepet selese. Banyak paket soale mbak di kantor"
(Nggak mbak, sekarang saja, biar cepat selesai, Karena di kantor ada banyak paket yang datang).

"Oooo..."

"Oya iku mbk, paketane, sampean perikso ngge. Dibuntel (bungkus) pakai kresek ini biar ndak basah".

Aku lalu memperhatikan paket berbungkus kresek warna biru di tanganku. Kukelilingi. Nihil. Tak ada kerusakan. Jadi pikirku, pasti paket di dalamnya aman. (Dan setelah aku buka, memang aman).

"Mboten enten yang rusak koq pak" ujarku.
(Nggak ada yang rusak koq pak).

"Ngge pon, tanda tangan di sini mbak".
Si bapak kurir jne menyodorkan selembar kertas kepadaku berikut dengan pulpennya. Set set set. Selesai.

"Sudah pak, matur nuwun ngge pak".

"Ngge mbk, sama-sama" ujar si bapak lalu menstarter motornya yang membawa dua kantong besar yang dibungkus dengan plastik besar. Dan lalu cus hilang dibelokan.

Jujur, seumur hidup aku nih, itu adalah kali pertama aku melihat petugas jasa pengiriman paket yang mau mengantarkan paket saat hujan begitu lebat. Sungguh. Itulah alasan yang membuatku terkesan. Meskipun peristiwa tersebut sudah berlangsung dua tahun yang lalu. Tapi nggak bakal lupa. Pokoknya mah aku salut dengan kinerja kurir JNE.

Walau badai menghadang...
Tentu ingat kan selalu ...
Budal, anter paketan.

Hubunganku dengan JNE tak sampai di peristiwa itu saja donk ya. Terus berlanjut donk. Kirim-kirim paket untuk keluarga di Bali atau sebaliknya juga pakai JNE koq. Aku pernah dikirimin kamera sama adek dan pakai jasa JNE. Kotak yang didalamnya ada kamera tersebut, dikemas lagi oleh JNE. Sehingga jadi lebih safety. Oya, diasuransiin juga loh. Jadi alhmdulillah tu kamera sampai ke tanganku tanpa kurang suatu apa pun. Hahay.

Oya, pada tanggal 26-27 November 2016 kemarin, JNE menyelenggarakan Hari Bebas Ongkos Kirim loh. Dalam rangka ulang tahun JNE ke-26. Informasi mengenai HARBOKIR dapat dibaca di sini: HARBOKIR (HARI BEBAS ONGKOS KIRIM)

Nah, melihat Kinerja kurir JNE yang top markotop, pelayanan yang oke punya, membuat aku optimis bahwa JNE akan makin dan selalu jaya. Aku yakin sayap JNE Express akan semakin melebar hingga ke pelosok negeri bahkan mungkin bisa sampai ke luar negeri. Amin.

Jadi itulah cerita tentang seseorang yang aku ingat saat melihat kegigihan para pencari nafkah di tengah derasnya air hujan.

Thursday, December 1, 2016

5 Fakta Bendera Merah Putih yang Belum Semua Orang Tahu

Sumber gambar : national geographic

Sejak kita lahir dan mulai mengenal warna, orang tua kita sudah mengenalkan warna bendera kebanggaan negeri kita. Saat di bangku sekolah pun, guru-guru kita tak pernah menyerah menanamkan nilai-nilai sang Merah Putih. Bendera yang menjadi lambang dan simbol perjuangan tanpa akhir dari para pejuang di masa lalu. Bendera Merah Putih adalah bukti bahwa tumpahan darah dan tetesan air mata pejuang kita tidak percuma. Bendera yang kita kenal saat ini merupakan hasil dari pemikiran mendalam dari para pendiri negeri ini.

Sang Saka Merah Putih pertama kali dikibarkan pada saat pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Dahulu sebutan Sang Saka Merah Putih hanya ditujukan kepada bendera pusaka, namun saat ini sebutan tersebut sudah dapat digunakan untuk pemakaian bendera secara umum. Makna filosofis dari warna bendera kita ini adalah keberanian (merah) dan kesucian (putih).  Melambangkan raga dan jiwa manusia yang saling menyempurnakan dan melengkapi satu sama lain untuk menjadikan Indonesia negara terbaik di dunia.


Bagi kita yang bukan pelaku sejarah, tentu banyak fakta yang tidak kita tahu berkaitandengan Sang Saka Merah Putih. Dan berikut adalah 5 fakta yang belum semua orang tahu mengenai bendera Merah Putih:
  • Jahitan tangan.
Bendera pusaka kita adalah murni hasil karya tangan Ibu Negara pertama kita Ibu Fatmawati. Kerabat dekat dari Ibu Fatmawati menceritakan bahwa Ibu Fatmawati menyatukan 2 bahan kain merah dan putih hanya dengan benang dan jarum jahit saja.
  • Menjahit tengah malam.
Ibu Fatmawati menjahit bendera pusaka dalam keadaan yang amat sulit. Ibu Fatmawati menjahit bendera tersebut setelah kepulangan Presiden Soekarno dari Rengansdengklok pada tanggal 15 Agustus 1945 tengah malam, lalu menyiapkan proklamasi untuk tanggal 17 Agustus 1945.
  • Bahan wol.
Bendera pusaka yang dikibarkanpertama kali pada 17 Agustus 1945 berbahan dasar kain wol. Bahan kain tersebut merupakan hadiah dari seorang petinggi militer Inggris kepada keluarga Ibu Fatmawati. Bengkulu, daerah asal Ibu Fatmawati, merupakan daerah kekuasaan Inggris hingga akhirnya ditukar dengan Singapura oleh Belanda pada awal abad 19.
  • 32 tahun berkibar.
Bendera pusaka karya Ibu Fatmawati dikibarkan hanya selama 32 tahun, itu pun hanya pada upacara kemerdekaan di Istana Negara. Karena kondisi bendera pusaka yang semakin tidak memungkinkan, maka pada tahun 1969 Pemerintah memutuskan untuk tidak mengibarkan bendera pusaka dan tugasnya hanya mendampingi bendera replika ketika pengibaran.
  • Sobek pada beberapa bagian.
Saat ini, bendera pusaka memiliki beberapa bagian yang sobek. Pada ujung merah terdapat robekan sebesar 15x47 cm, sedangkan pada bagian putih sobek sebesar 12x42 cm. Dan pada beberapa bagian berlubang yang dikarenakan serangga dan jamur.

Sang Saka Merah Putih merupakan lambang negara, sehingga penggunaan dan perlakuannya pun diatur oleh negara dalam undang-undang dan peraturan. Seperti bahan yang digunakan untuk membuat bendera haruslah bahan yang tidak luntur dan dengan ukuran yang sudah ditentukan. Pengibaran dilakukan sejak matahari terbit hingga terbenam, atau dalam keadaan tertentu dilakukan pada malam hari.

Tentu saja sebagai lambang yang mewakili ratusan juta warga negara Indonesia, bendera Merah Putih patut mendapat penghormatan yang setinggi-tingginya, di junjung dengan sebaik-baiknya. Segala bentuk penghinaan terhadap bendera berarti merendahkan bangsa yang besar ini, dan kita sebagai bangsa patutlah membela nya hingga tetes darah penghabisan. Merdeka!