Bebaskan Bumi dari Selimut Polusi

Layaknya kasih seorang ibu, alam selalu hadir untuk kita dalam kondisi apapun, saat bahagia atau lara. Bahkan saat kita sudah melakukan perbuatan yang tidak baik kepada alam sekalipun, ia tetap mau memeluk kita, erat dan hangat.

Namun, kadang, kita lupa akan kasih sayang yang diberikan alam. Kita lupa bahwa oksigen yang kita hirup, air yang kita minum, dan rasa bahagia yang hadir saat kita melihat birunya langit, gemerlap bintang, putihnya awan, gemericik air, hingga kicauan burung, semuanya berasal dari alam.




Bayangkan jika alam tidak lagi hadir untuk kita. Bayangkan jika alam tidak lagi memberikan oksigen untuk kita. Bayangkan jika alam akhirnya membiarkan kita berselimut polusi. Akan seperti apa kita jika hal tersebut terjadi? Apa yang akan kita alami jika kita berselimut polusi? 

#SelimutPolusi

Menurut LAPAN, polusi udara adalah pencemaran pada udara dengan hadirnya berbagai bahan pencemar di luar ambang batas. Salah satu bahan pencemar udara tersebut adalah CO. Mari kita berkenalan dengan CO.

Unsur kimia CO atau juga yang dikenal dengan Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna, tidak berasa, tidak mengiritasi dan tidak berbau. Gas ini dihasilkan melalui pembakaran gas, minyak, petrol, bahan bakar padat atau kayu. Lebih lanjut, BPOM menyebutkan bahwa terbentuknya gas CO berasal dari kebakaran, tungku, pemanas, oven dan mesin. Nah, dari informasi ini bisa dibilang aktivitas yang kita lakukan sehari-hari pun berpotensi menghasilkan karbon monoksida. Mulai dari aktivitas kita berkendara, membakar sampah, mandi pakai pemanas air, bahkan dari aktivitas kita memasak pun bisa menghasilkan karbon monoksida. Waduh.

Jika Berselimut Polusi, Apa yang Akan Kita Alami?

Malam datang. Hawa dingin sebab kehujanan sepulang kerja masih lekat di badan. Mau tidur tapi rasanya tak nyaman. Tanpa berpikir panjang, tanganpun tergerak untuk mengambil sesuatu yang dapat menghadirkan hangat di badan. Sesuatu itu apalagi kalau bukan selimut.

Ya, sejatinya, selimut berfungsi untuk memberikan rasa aman, rasa aman dari dingin yang menyerang. Namun ini tidak berlaku bagi selimut yang berbahan polusi. Bukannya mendatangkan rasa aman, namun malah mengundang dampak negatif bagi alam.

Selimut polusi memberikan dampak yang luar biasa dalam kehidupan kita. Selimut polusi berdampak pada kesehatan kita juga berkontribusi secara langsung pada perubahan iklim.

Jika Berselimut Polusi, Sehat Jadi Susah Diraih

Selama ini, kita dimanjakan alam. Kita diberikan selimut oksigen yang melimpah. Sehingga kita pun bisa beristirahat dengan nyaman. Bayangkan jika selimut dari alam itu berganti menjadi selimut polusi. Bisakah kita beristirahat dengan nyaman saat menggunakan selimut polusi dengan bahan pencemar karbon monoksida misalnya? Boro-boro bisa tidur nyaman, yang ada malah jadi susah tidur sesak nafas dan sebagainya.

Seperti yang sudah dibahas di atas, bahwa karbon monoksida adalah salah satu bahan selimut polusi. Karbon monoksida ini adalah bahan pencemar yang amat berbahaya. Saking bahayanya sampai mendapat julukan sebagai sillent killer. Dari alodokter menjelaskan bahwa karbon monoksida ini seperti oksigen. Ia mudah dihirup dan mudah terikat dengan hemoglobin sehingga dapat membentuk carboxyhaemoglobin (COHb) pada darah. Jika jumlah COHb makin banyak, maka jumlah oksigen dalam darah pun akan berkurang.

Menurut OSHA ( (Occupational Safety and Health Administration), batas aman menghirup karbon monoksida yakni sekitar 35 ppm untuk waktu 8 jam/hari kerja. Lalu kadar yang dianggap langsung berbahaya terhadap kehidupan atau kesehatan adalah 1500 ppm (0,15%). Namun jika terpapar kadar CO 1000 ppm (0,1%) selama beberapa menit saja maka dapat menyebabkan 50 % kejenuhan dari karboksi hemoglobin dan dapat berakibat fatal. Jika melihat tabel gejala terpapar karbon monoksida yang dibuat oleh BPOM, kondisi fatal seperti itu bisa jadi disebabkan oleh banyaknya konsentrasi CO dalam darah yakni sekitar 70% hingga 80% .  



Bahan selimut polusi yang satu ini terbentuk dari hasil pembakaran. Sehingga bisa ditemukan di aktivitas kita sehari-hari. Namun tidak semua aktivitas kita menghasilkan karbon monoksida yang banyak, kan? Seperti saat kita melakukan aktivitas memasak. Kita bisa menemukan banyak karbon monoksida saat berkendara dan sedang terjebak macet. Jika dalam kondisi seperti ini, masker adalah penyelama bagi pengendara motor dari terkena penyakit infeksi pernapasan akut (ISPA).

Sebenarnya, masker tak hanya cukup digunakan saat berkendara motor dan terjebak macet. Masker harus digunakan selama berkendara. Karena menurut hasil sebuah penelitian yang berjudul Driving Behavior and Mileage with The Incidence of ISPA in Students UNAIR Surabaya, disebutkan bahwa risiko ISPA pada pengemudi motor terkait juga dengan perilaku/kebiasaan dan jarak tempuh. Pengemudi motor yang tidak menggunakan masker saat berkendara berpotensi terkena ISPA. Pengemudi motor yang berkendara cukup lama juga rentan terkena ISPA.  

Melansir dari National Geographic, pada tahun 2019, beberapa wilayah di Indonesia pernah berselimut polusi. Polusi udara saat itu disebabkan oleh kebakaran hutan yang luar biasa. Bahkan di wilayah Sumatera Selatan saja ditemukan 1.297 titik api.

Saat itu, langit berubah kelabu. Putihnya awan, birunya langit, berganti dengan kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan. Kejadian ini membuat banyak orang mengungsi dan lebih dari 900 ribu orang terkena ISPA.

Dari kejadian itu saja, rasanya, sudah bisa tergambar dengan jelas apa yang akan kita alami jika kita berselimut polusi. Kita mungkin akan dihantui ISPA atau penyakit terkait pernapasan lainnya. Sehingga untuk mengatasi ini, mungkin kita akan membawa alat bantu pernapasan yang berisi oksigen kemanapun kita melangkah.

Jika Berselimut Polusi, Dampak Perubahan Iklim Makin Menjadi-jadi

Perubahan iklim terjadi dikarenakan selimut polusi. Selimut polusi membuat bumi semakin panas dan menyebabkan perubahan iklim.

Panas yang terperangkap di bumi ini membuat suatu perubahan yang luar biasa yang mempengaruhi segala lini kehidupan manusia. Perubahan tersebut yakni perubahan iklim.

  • Perubahan iklim menyebabkan terjadinya bencana alam

Perubahan iklim mengacu pada perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Hijauku(dot)com suhu di bumi meningkat 0.850C derajat di setiap wilayah. Naiknya suhu bumi menyebabkan terjadinya cuaca ekstrim seperti curah hujan yang tinggi di suatu wilayah tertentu hingga mengakibatkan bencana alam berupa banjir, maupun tanah longsor. Sementara itu ada wilayah yang malah tak kunjung disapa hujan. Jika kondisi ini berlangsung lama, wilayah ini pun bisa mengalami kekeringan. 




Dulu, aku sempat terheran-heran kalau ada berita yang isinya tentang banjir di wilayah A, sedangkan di wilayah B malah kekurangan air. Padahal 2 wilayah tersebut berada di satu negara yakni Indonesia yang mana pada saat itu Indonesia berada di musim penghujan. Belakangan, aku akhirnya tahu, bahwa perbedaan yang signifikan ini dikarenakan perubahan iklim. Jauh banget bedanya yak. 

  • Perubahan iklim mempengaruhi kondisi ekonomi

Dulu, para petani dengan senang hati menyambut musim hujan. Karena petani merasa terbantu. Sebab tugas mengairi sawah diambil alih oleh hujan. Namun saat ini, senang sedikit memudar. Karena bercampur dengan rasa was-was sebab cuaca ekstrem. Jangan-jangan hujan yang turun tidak hanya mengairi melainkan malah membanjiri sawah. Jika sawah terendam banjir, maka para petani pun berpotensi merugi.

Cuaca tak menentu juga mempengaruhi kondisi ekonomi petani. Hal ini pernah dialami oleh para petani di Lebak pada tahun 2013. Saat itu produksi panen padi petani merosot tajam dikarenakan bergesernya waktu musim hujan.  

Tak hanya petani, pelaku ekonomi lainnya pun bisa saja mengalami keterpurukan manakala bencana alam sebab perubahan iklim datang melanda. Dari Katadata, diketahui  banjir masih menjadi bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia yakni sebanyak 946 kejadian. Jumlah itu setara 39,44% dari total kejadian bencana hingga awal September tahun ini.

Bencana alam lainnya yakni Cuaca ekstrem juga melanda tanah air dengan jumlah kejadian mencapai 799 pada periode yang sama. Berikutnya, diikuti 427 kejadian tanah longsor, dan 186 kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dengan kondisi seperti ini, secara otomatis mempengaruhi kondisi ekonomi daerah-daerah yang mengalami bencana alam. Bahkan mungkin berimbas pada kondisi ekonomi daerah lainnya. Bencana alam datang begitu saja tanpa memilih siapa yang akan dihampiri.

  • Perubahan iklim mempengaruhi kondisi kesehatan 

Di awal musim hujan tahun ini, beberapa wilayah mengalami cuaca ekstrem. Salah satunya tempat tinggalku, Jembrana Bali, yang sempat terkena banjir. Banjir ini bahkan sempat melumpuhkan jembatan penghubung menuju Denpasar. 

Salah satu penyebab banjir tersebut terjadi karena curah hujan yang tinggi dan berlangsung sehari semalam. Suhu pun mendadak dingin saat itu. Aku yang biasanya tidur bisa kelesotan di lantai, saat itu, memilih tidur di kasur. Ademmm. 

Banjir tersebut pasti meninggalkan genangan air entah di sudut mana saja. Genangan-genangan air ini bisa dijadikan sebagai tempat bertelur bagi nyamuk, termasuk nyamuk berbahaya seperti DBD dan Malaria. Ini adalah salah satu penyebab meningkatnya jumlah pasien DBD terutama di daerah yang mengalami banjir. 

Gangguan kesehatan juga terjadi di musim kemarau. Kalau untuk di kota besar seperti Jakarta, kata BMKG, suhu di musim kemarau bisa sampai 360C.  Nah, tubuh kita ini bereaksi terhadap kenaikan suhu. Adapun bentuk reaksinya yakni dengan cara meningkatkan aliran darah ke kulit. Proses ini bertujuan untuk membawa panas yang berasal dari dalam tubuh ke permukaan. Proses ini akan menghasilkan keringat yang kemudian menguap. Jika keringat sudah mulai menguap maka proses mendinginkan tubuh pun dimulai.

Keluarnya keringat dari dalam tubuh ini membawa serta cairan tubuh dan garam. Kekurangan cairan tubuh dan garam, maka kita berpotensi mengalami penurunan tekanan darah yang menyebabkan kelelahan tubuh akibat panasnya udara. Gejalanya meliputi pusing, mual, pingsan, kebingungan, kram otot, sakit kepala, banyak berkeringat, dan kelelahan. Apabila tekanan darah menurun terlampau jauh, risiko serangan jantung pun meningkat. Nah loh nah loh bisa separah ini ternyata dampak dari meningkatnya suhu yang biasanya terjadi di musim kemarau.

  • Perubahan iklim mempengaruhi gaya hidup

Kalau mengingat masa kecil dulu, rasanya, tidak pernah mengalami rasa panas yang luar biasa saat ini. Dulu, kemana-mana, masih asyik aja naik onthel alias sepeda angin. Sekarang kemana-mana naik sepeda motor. Dulu, satu pohon mangga yang ditanam di depan atau sekitar rumah sudah cukup menghalau udara panas di siang hari. Sekarang, menghalau panas tak cukup hanya satu pohon mangga, melainkan di bantu dengan kipas angin yang diletakkan di beberapa bagian rumah. Dulu, pergi kemana-mana di siang hari bisa langsung makwer berangkat begitu saja. Sekarang kalau mau keluar di siang hari mah harus dilengkapi dengan peralatan penghalau radiasi sinar matahari. Mulai dari pakai baju panjang hingga memakai sunscreen. Apa yang terjadi ini adalah salah satu dampak dari perubahan iklim.

Tanpa disadari, perubahan iklim berhasil mengubah gaya hidup kita. Contoh di atas adalah salah satu dari segambreng perubahan gaya hidup yang cukup signifikan. Dan ya kalau dipikir-pikir, kita mengeluarkan lebih banyak uang untuk menghadapi perubahan iklim ini.

 

Nah itulah secuil dampak dari adanya selimut polusi. Yang paling parah dampak dari selimut polusi yakni memberikan sumbangsih pada perubahan iklim. Karena ya, perubahan iklim mempengaruhi segala lini kehidupan.

Tentu kita tidak menginginkan polusi menjadi selimut kita sehari-hari bukan? Oleh sebab itu, yuk kita lakukan sesuatu demi membebaskan negeri ini berselimut polusi.  

Cara Agar Terbebas dari Selimut Polusi

Ada banyak hal negatif yang terjadi dikarenakan selimut polusi. Jika tidak segera bertindak, takutnya, selimut polusi ini bisa berubah jadi pakaian, pakaian polusi. Kalau sudah seperti ini mah mau pergi kemanapun, pasti bakal merasakan polusi.

Sebagai penderita asma, aku tahu bagaimana rasanya saat tiba-tiba susah bernapas karena terkena paparan asap kendaraan dari knalpot, hingga asap dari pembakaran sampah. Ya, terpapar sebentar saja, kadang sudah berhasil membuatku susah bernapas. Bawaannya ingin segera menghindar sejauh mungkin dan mencari udara segar, biar napas kembali lega. Nah, aku tidak ingin siapapun mengalami kejadian susah bernapas secara tiba-tiba seperti yang aku alami. Nggak enak banget Ya Allah, sungguh.

Untuk mewujudkan keinginan untuk terbebas dari selimut polusi, aku melakukan beberapa usaha seperti menanam pohon dan memilah sampah rumahku. Tapi kalau dipikir-pikir, usahaku yang secuil ini, mungkin hanya bisa memberi hawa segar bagiku, keluarga, atau mungkin juga tetangga (semoga). Apa yang aku lakukan ini belum memberikan dampak positif bagi orang banyak.




Namun, jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, sekarang sudah banyak #MudaMudiBumi yang peduli dengan kondisi bumi. Salah satunya muda-mudi di #TeamUpForImpact . Aku benar-benar bersyukur tiada tara karena masih ada banyak orang yang mau berusaha sekuat tenaga pantang menyerah untuk menjaga bumi. Mereka tanpa henti berinovasi, berkreasi untuk menyelamatkan bumi. Ibarat kata #UntukmuBumiku ..... apapun akan ku tempuh.

Apa yang dilakukan #MudaMudiBumi ini membuatku terinspirasi ingin melakukan sesuatu hal yang lebih dari yang sudah biasa aku lakukan. Ya, aku ingin melakukan hal yang lebih, lebih, lebih dari ini. Ah andaikan saja aku punya semacam kesempatan membuat kebijakan untuk mengurangi polusi demi mengatasi perubahan iklim, maka ada beberapa hal yang aku lakukan.

1. Melarang hutan dijadikan sebagai lahan pertanian atau apapun itu dan memberikan hukuman berat bagi penebang pohon ilegal, serta pembakar hutan.

Kondisi hutan negeri ini sedang memprihatinkan karena penebangan liar, pembakaran hutan, hingga diubah jadi lahan pertanian kelapa sawit misalnya. Akibatnya luas hutan berkurang secara signifikan. Melansir dari IDNTimes mengenai rincian deforestasi hutan Indonesia menurut Greenpeace Indonesia. Deforestasi terjadi di 629.2 ribu hektare pada 2015-2016, 480 ribu hektare pada 2016-2017, 439.4 ribu hektare pada 2017-2018, 462.5 ribu hektare pada 2018-2019, dan 115.5 ribu hektare pada tahun 2019-2020. 

Oleh karena luas hutan yang berkurang secara signifikan tersebut, maka perubahan iklim pun semakin menjadi-jadi. Padahal hutan Indonesia menjadi salah satu andalan dunia untuk menjaga bumi. Hutan Indonesia adalah paru-paru dunia.


Berdasarkan hal ini, demi menjaga bumi, #UntukmuBumiku , maka kebijakan yang akan aku buat yakni aku akan melarang hutan dijadikan sebagai lahan pertanian atau apapun itu dan memberikan hukuman berat bagi penebang pohon ilegal, serta pembakar hutan.  

2. Memperbanyak hutan kota,

Ada satu momen yang aku ingat betul saat diberlakukan WFH demi menghentikan penyebaran virus covid-19. Momen tersebut yakni saat aku melihat banyak yang share tentang baiknya kondisi udara di tempat tinggal mereka masing-masing. Beberapa ada juga yang share foto langit biru yang mereka ambil.

Jika dipikir-pikir, direnungi, diresapi, hal itu bisa mereka rasakan karena tidak adanya selimut polusi. Selimut polusi yang berasal dari asap kendaraan.

Oleh sebab itu, untuk mengatasi selimut polusi terutama di kota-kota besar adalah dengan memperbanyak hutan kota. Mengapa demikian? Hutan tidak hanya memiliki kemampuan menyimpan air. Hutan mampu memproduksi oksigen untuk makhluk hidup yang ada di sekitar hutan. Hutan juga memiliki kemampuan menyerap gas bahan pencemar. Lawong karbondioksida saja, yang merupakan salah satu dari bahan pencemar udara, mereka jadikan bahan untuk membuat makanan. Luar biasa bukan? Tak ingin menyia-nyiakan kemampuan hutan yang luar biasa ini, maka kebijakan yang aku buat yakni memperbanyak hutan kota.   



3. Aktif mendukung #MudaMudiBumi

Bapak Ir. Soekarno pernah bilang, “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan aku goncangkan dunia.”

Ucapan dari Bapak Bangsa ini menunjukkan betapa bisa diandalkannya kemampuan para pemuda bangsa. Apapun tujuannya, jika dipegang oleh para pemuda, maka peluang untuk mencapai tujuan pun terbuka lebar. Salah satu buktinya yakni momen Sumpah Pemuda. Pada saat itu, para pemuda bersumpah untuk setia pada bangsa Indonesia, satu tanah air Indoneisa, satu bangsa Indonesia, dan satu bahasa Indonesia. Sejak lahirnya sumpah pemuda, persatuan bangsa pun semakin erat dan solid. Tak ada kata menyerah untuk meraih merdeka. Mereka bersatu merumuskan strategi. Mereka tahu risiko dari apa yang mereka lakukan. Tak gentar sedikitpun. Mereka rela dan siap kehilangan nyawa. Mereka terus berusaha hingga akhirnya merdeka bisa mereka raih dengan sempurna. Alhamdulillah wa syukurillah.

Terinspirasi dari peristiwa sejarah ini, maka tak ragu rasanya untuk memberikan dukungan pada #MudaMudiBumi untuk beraksi menjaga bumi. Kebijakan-kebijakan yang aku buat tak akan lepas dari aspirasi dan aksi mereka. Aku yakin, jika #MudaMudiBumi mendapat dukungan penuh, tujuan mereka untuk menjaga bumi akan tercapai dengan maksimal pula.    

 


Jadi seperti itulah yang akan aku lakukan jika aku diberikan kesempatan membuat kebijakan untuk mengurangi polusi. Kalaupun aku tidak mendapatkan kesempatan tersebut, insyaAllah aku akan tetap melakukan 3 hal tersebut sesuai dengan kemampuanku sendiri. Salah satunya seperti ini nih, membuat tulisan tentang selimut polusi, perubahan iklim, dan pentingnya menjaga hutan.

Aku menaruh harap sebesar-besarnya bahwa tulisanku ini bisa menjadi pengingat bagi para pembaca untuk tak lupa melakukan aksi menjaga bumi. Jika boleh berharap lebih tinggi, semoga tulisanku ini menjadikan jumlah muda-mudi peduli bumi semakin bertambah banyak. Semakin banyak muda-mudi yang peduli pada bumi, tentu kondisi bumi akan segera terjaga dengan baik. Hopefully.

Akhir kata, mari kita jaga bumi. Jika belum bisa all out menjaga, tak masalah, asalkan ikhtiar terus pantang menyerah, sesuai dengan kemampuan diri. Jangan lari dari bumi. Jangan pernah lupa betapa baiknya alam pada kita. Karena alam tak pernah pergi meninggalkan kita.        

 

***


Referensi:

https://lapan.go.id/post/7138/polusi-udara-penyebab-dampak-dan-bagaimana-penanganannya

https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/76/Keracunan-yang-Disebabkan-Gas-Karbon-Monoksida.html

https://nationalgeographic.grid.id/read/131864595/jumlah-penderita-ispa-akibat-karhutla-capai-919516-orang-di-bulan-september

https://theconversation.com/kebakaran-hutan-makin-mengancam-kesehatan-penduduk-indonesia-dari-iritasi-hingga-potensi-kanker-124112

https://journalreportase.com/penderita-penyakit-ispa-alami-peningkatan/

https://indonesia.un.org/id/172909-apa-itu-perubahan-iklim

https://www.antaranews.com/berita/2791709/wmo-dampak-perubahan-iklim-terlihat-dari-cuaca-ekstrem-di-dunia

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-62177681

https://radarmalang.jawapos.com/malang-raya/kota-batu/25/09/2022/warga-bulukerto-trauma-sambut-musim-hujan/

http://balittra.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-aktual/1294-tahun-sedih-petani-padi-lebak

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/09/06/2398-bencana-alam-terjadi-di-ri-hingga-awal-september-2022-ini-rinciannya

https://news.detik.com/berita/d-5158222/puncak-kemarau-september-suhu-udara-maksimum-terjadi-di-waktu-ini

https://www.liputan6.com/news/read/4263760/bmkg-musim-kemarau-suhu-maksimum-jakarta-capai-36-derajat-celcius

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/06/09/nasa-suhu-permukaan-bumi-naik-085-c-pada-2021

Journal.unair.ac.id. Diakses pada 2020. Driving Behavior and Mileage with The Incidence of ISPA in Students UNAIR Surabaya

18 comments:

  1. Betul banget nih, perubahan iklim sekarang tuh memang sangat mempengaruhi kondisi kesehatan kita semua, jadinya bermunculan beragam penyakit, sedihnya kalau menimpa anak-anak.
    Sudah waktunya kita lebih peduli dengan membebaskan bumi dari selimut polusi yang merugikan kita sendiri

    ReplyDelete
  2. bener banget mba, pagi mendung, siang panasnya luar biasa, eh jam 2 udah ujan gede, perubahan iklim yang mendadak dan sangat cepat ini bikin banyak sekali penyakit bermunculan

    ReplyDelete
  3. Anakku yg belum lama kerja di Jakarta ngeluh udaranya nggak bersih, nggak kayak di Jogja. Tapi di Jogja pun kayaknya bakal sama. Banyak pohon perindang ditebang utk pelebaran jalan. Jalur hijau cuma sedikit bgt.

    ReplyDelete
  4. Perubahan iklim belakangan ini sangat ekstrem ya mbak. Jadi ga heran banyak orang yg tumbang, terutama anak2.
    Mulai untuk menyelamatkan bumi di mulai dari hal kecil di rumah dan diri sendiri ya mbak.

    ReplyDelete
  5. Selimut polusi ini bahaya. Jangan sampai terjadi terus menerus karena akan mengancam makhluk bumi dan manusia itu sendiri. Makanya yuk bantu buat perubahan. Biar kecil asal konsisten, bisa kok

    ReplyDelete
  6. Sebetulnya banyak hal yang kecil yang bisa kita lakukan dan bila ini dilakukan kompak bersama maka dampaknya akan besar ya ....

    ReplyDelete
  7. Iya nih mbak, dampak dari makin banyaknya polusi dan perubahan iklim makin terasa yaa. Kita emang gak bisa mengandalkan pemerintah aja makanya kita juga mulai ikutan memelihara lingkungan dimulai dari lingkungan sekitar kita ya. Meski kyknya gk seberapa, tp kontribusi sederhana di skala rumah tangga biasanya jg sangat berarti sih.

    ReplyDelete
  8. Semudah memilah sampah di rumah tuh udah bisa jadi kontribusi kita untuk melindungi bumi, iya kan mbak. Kelihatannya memang kecil efeknya, tapi kalau dilakukan serentak oleh seluruh penduduk bumi, tentu efeknya akan terasa.

    ReplyDelete
  9. Banyak ha yang bisa kita lakukan untuk menjaga hutan dan bumi kita tercinta yaa mba

    ReplyDelete
  10. Alhamdullilah ya, ada gerakan yang dapat menyelamatkan bumi kita ini. Aku bangga sama orang-orang yang perduli dengan polusi karena masalah polusi sudah luarbiasa banget

    ReplyDelete
  11. Setuju, polusi yang semakin menjadi mengubah iklim dan mengundang berbagai bencana alam. Kapan itu pas balik ke Jakarta. Dari atas, Jakarta itu seperti tertutup kabut tebal lho. Serem lihatnya. Yuk ah kita mulai peduli dengan menjaga alam dan bumi ya

    ReplyDelete
  12. Serem sih klo udh kasih efek yg besar ke kesehatan dan ekonomi. Semua berubah dan kena dampak negatifnya. Smg kita semua bs hajar selimut polusi ya

    ReplyDelete
  13. sangat berbahaya sekali ya untuk kesehatan jika kita diselimuti polusi. Mari kita lakukan hal sekecil apapun untuk mengurangi polusi

    ReplyDelete
  14. Dampak perubahan iklim luas juga ternyata sampai berefek ke sektor kesehatan.. ayo kita bersama mulai lakukan hajar #selimutpolusi

    ReplyDelete
  15. aku tanpa polusi aja udah suka sesak napas, ditambah polusi. haduh. apalagi ternyata dampaknya bukan cuma ke kesehatan aja ya, tapi berimbas ke ekonomi juga.

    ReplyDelete
  16. Perubahan iklim yang terjadi sekarang ini saja sangat mempengaruhi kita semua cuaca jadi gk stabil skalinya hujan super deres sampai banjir dimna2 jadi perubahan iklim dampaknya tuh sangat besar yuk mulai sekarng kita jaga lingkungan

    ReplyDelete
  17. Bener banget ya kalau sudah banyak selimut polusi kesehatan atau udara yang bersih sulit diraih. Pastinya Kita bisa bantu dengan hal kecil dan dimulai dari rumah contohnya daur ulang, pengelolaan sampah, dan mengurangi pemakaian kantong plastik.

    ReplyDelete
  18. Perubahan iklim sangat terasa, paling terasa lagi perubahan ekosistem. Saat ini sangat sulit mendengarkan kicauan burung menyambut pagi bersahutan. pohon pohon berganti tanaman beton

    ReplyDelete

Biji bunga matahari namanya kuaci
Kupas kulitnya pakai gigi
Eee para pengunjung yang baik hati
Yuk tinggalkan komentar sebelum pergi.

Buah Pir Buah Naga
Jangan khawatir, aku akan mengunjungimu juga. :)

Facebook  Twitter  Google+ Yahoo

3 Cara Ibu Rumah Tangga Mencari Biaya Lanjut Kuliah S2

Dear, Mombeb.   Menjadi ibu rumah tangga tak lantas segala mimpi yang dipunya harus dilenyapkan begitu saja. Ibu rumah tangga tetap bisa...